Tuesday, April 17, 2012

Partikel: Tentang Hidup dan Sebuah Perenungan


Paperback, viii + 500 pages
Published at April 13th 2012 by Bentang Pustaka
ISBN : 978-602-8811-74-3
Original tittle : Supernova 4: Partikel
Language : Bahasa Indonesia

Di pinggir Kota Bogor, dekat sebuah kampung bernama Batu Luhur, seorang anak bernama Zarah, dan adiknya, Hara, dibesarkan secara tidak konvensional oleh ayahnya, dosen sekaligus ahli mikologi bernama Firas. Cara Firas mendidik anak-anaknya mengundang pertentangan dari keluarganya sendiri.
Di balik itu semua, masih tersimpan berlapis misteri, di antaranya hubungan khusus Firas dan sebuah tempat angker yang ditakuti warga kampung. Tragedi demi tragedi yang menimpa keluarganya akhirnya membawa Zarah ke sebuah pelarian sekaligus pencarian panjang.
Di konservasi orang utanTanjung Puting, Zarah menemukan keluarga baru dan kedekatannya kembali dengan alam. Namun, bakat fotografinya membawa Zarah lebih jauh dari yang ia duga. Di London, tempat Zarah akhirnya bermarkas, ia menemukan segalanya. Cinta, persahabatan, pengkhianatan. Termasuk petunjuk penting yang membawa titik terang bagi pencariannya.
Sementara itu, di Kota Bandung, Elektra dan Bodhi akhirnya bertemu. Secara bersamaan, keduanya mulai mengingat siapa diri mereka sesungguhnya. (source: Goodreads)

----------------------------------------------
Ini adalah review buku yang pertama kali saya buat. Mungkin di sini saya tidak menyebut sebuah resensi, hanya sekadar berbagi pengalaman saya setelah melakukan 'perjalanan' dengan novel ini. Rasa penasaran saya menunggu sekian lama akhirnya terbayar ketika berhasil mendapatkan cetakan pertama dan mulai membuka halaman-halaman awalnya.
Novel ini racun. Atau bisa jadi semacam virus karena sekali membaca, saya merasa tidak ingin berhenti untuk membuka halaman selanjutnya. Kalimat-kalimat cerkas, tajam dan kadang menyengat tetapi tidak kehilangan rasa seorang Dee yang buat saya pribadi terasa membumi namun tetap mempunyai sebuah filosofi. Sampai ketika menulis catatan di blog, saya masih kebingungan untuk mencari padanan dan kalimat yang pas untuk menggambarkan perasaan saya selama dan sesudah membaca Partikel.
Saya menyebutnya sebuah perjalanan. Perjalanan yang kadang terasa cepat, lalu di tengah-tengah saya bisa berhenti untuk sekadar berpikir atau malah asyik terdiam lama karena hal-hal yang saya temukan dalam novel, bahkan menangis karena satu-dua adegan. Tentang manusia dan alam, agama dan Tuhan, sains, spiritual, dimensi-dimensi tak terlihat, alien dan UFO, cinta, pengkhianatan, persahabatan -- seorang Dee berhasil menuliskan topik-topik tersebut secara sederhana dan mudah dimengerti.
Saya juga merasakan sakit, putus asa lalu bisa tiba-tiba mata saya ikut berkaca-kaca ketika membaca salah satu bagian dari cerita yang disuguhkan. Rasanya ada sebuah bioskop mini yang hadir di dalam kepala saya, sehingga setiap alur, kejadian tervisualisasi sangat jelas di pikiran saya. Lalu, ketika dalam pengantarnya Dee Lestari mengatakan "hadirnya buku ini ke tangan Anda bukanlah sebuah kebetulan", saya sepenuhnya setuju. Partikel hadir untuk menyampaikan sesuatu. Sebuah hal yang terkadang atau bahkan kita lupa. Keselarasan hidup dengan alam, mengajarkan kita untuk tidak menjadi manusia yang sombong karena saya percaya kita ada di alam semesta bukan untuk sebuah kompetisi; menang dari yang lain. Posisi kita sama--dan Partikel menjabarkan ini dengan pas.
Magnet dari karya-karya Dee bisa jadi selain kepiawaiannya mengolah kata-kata, tetapi juga karena kedekatannya dengan sekitar, mampu melihat dan menangkap apa yang selama ini ada di hadapan dengan perspektif yang baru dan mencerahkan. Dee berani mengangkat topik yang tidak biasa dan terkadang tabu serta krusial di masyarakat.

Perjalanan membaca yang saya selesaikan dalam dua hari. Cukup lama memang, karena beberapa kali saya berhenti karena ingin berintrospeksi dengan diri sendiri. Banyak hal yang kemudian saya peroleh, semacam pemahaman dan pandangan yang baru terhadap hidup dan alam sekitar. Bagaimana kalimat dari Firas kepada Zarah, "Jangan sombong jadi manusia." selalu menempel di kepala dan menampar keras hati saya karena beberapa kali dalam perjalanan hidup saya, sombong terkadang mampir dan menjadi bagian diri saya. Tentang berdamai dengan masa lalu, dan mengenal diri secara lebih dalam. Terimakasih dari saya untuk seorang Dewi 'Dee' Lestari yang sudah membawa Partikel hadir ke hadapan kami para pembaca. 8 tahun menunggu itu tidak sia-sia. Terimakasih sudah menulis sebuah kisah yang bukan hanya sederhana dan indah, tetapi membawa pengaruh yang baik buat saya pribadi serta mungkin orang-orang lain yang telah membaca karya-karyanya.


Supernova memang sebuah virus. Tinggal siap atau tidak kita terinfeksi. :)




=====================
Edutria, 2012. sebuah perjalanan baru.











Tuesday, February 7, 2012

Kado Buat Arsyad

Gue mau cerita soal kehebohan gue nyari kado. Udah rusuh aja pas mendekati hari H di twitter gue.

Sebenarnya rencana untuk ngasih kado ke Arsyad itu udah muncul lama sih, ya iyalah kita plan dulu dari akhir tahun kemarin. Sampai pas di Magelang ketika gue dan mas Adi liburan long weekend Imlek, gue ngomong ke Ibu, "eh, Bu besok tanggal 2 Februari itu anaknya mas Adi ulangtahun." lalu Ibu bilang, "ya wis dikasih kado apa gitu. Biar seneng."
Masih mikir maunya apa ya, secara kalau anak kecil paling mainan. Tapi mainan kan ga awet, buat maen beberapa kali kalo ga rusak ya entah ada cacat apalagi. Hmmm, lalu akhirnya nyempetin browsing hadiah yang pas buat anak seusia Arsyad. Bisa aja sih nanya ke orang rumah, tapi menurut pandangan gue ini bisa memicu kesenjangan sosial antara gue dan dompet *kok bisa, Ed?* hahaha... secara yang lain pun, Dito, Dita bakal minta dibeliin juga yang aneh-aneh, ya sudahlah gue diem aja. *bukan karena saya pelit yah! Tolong catet. Mereka baru ulangtahun juga sebelum akhir tahun kemarin. Jadi gantian. :)))*
Oke diputuskan (secara sepihak oleh gue), ya wis Arsyad dibelikan baju aja. Apakah persoalan selesai sampai disini, saudara-saudara? Hahahaha... jangan sedih. Gue juga masih bingung baju yang kaya apa coba. Mereknya apa, belinya dimana, warnanya apa, dan lain-lain pokoknya yang paling oke ajalah ya. Memang sih, untuk soal ini cukup terbantu karena merek yang gue pengen beli itu punya website dan katalognya lengkap.. *sembah brand yang punya website dan majang katalog produknya secara lengkap plus harganya*
Ada ceritanya juga sih pas bagian ini. Milih sana milih sini, akhirnya diputusin satu brand karena modelnya yang memang simpel tapi keren. Harganya juga pas. Nah, udah siap-siap tuh dengan pikiran, "ah tar sore ke Grand Indonesia terus beli ke storenya. Selesai." Baru kemudian tepok jidat sendiri, "Begokkk... Old Navy kan ga ada store di Indonesia apalagi Jakarta. Di GI itu cuman GAP doang." :)))))) Terus gimana dong? Ya udah sempet mikir mau pesen online, tapi kok itu barang nyampe sini udah kapan tahu dan ongkos shipping-nya bisa buat belanja baju selusin di ITC (mungkin lebih ya secara baru gue tahu itu barangnya dikirim dari Amrik sono. yassalam). Makanya urungin niat dan browsing lagi. Hahahaha...
Udah hampir putus asa, ini mainan aja apa ya. Pusing gue milih baju buat anak kecil secara agak buta soal merek kalo anak kecil. dan pas nengok timeline twitter, ada yang ritwit soal final reduction brand fashion asal Spanyol yang kebetulan juga gue suka. *ga boleh sebut mereknya dulu* Ihii, lumayan bisa cek-cek dulu.
Akhirnya, Sabtu kemarin dengan tekad baja *tsahhh* pergilah ke Central Park. Kok ga jadi GI, Ed? Heh! Diem dulu, ini jugak masih dilema mau ke mall yang mana. :)))))) Tapi sebelumnya, udah ngecek websitenya dulu, punya gambaran baju anak yang dia punya dan ngincer beberapa. Sampai tokonya si jara, langsung deh milih. Tau ga sih gue bilang apa, "Lah, kenapa ini kecil-kecil gini yang di display. Mana muat :)))))". Mengingat itu toko lagi final reduction dan biasanya stok yang dipasang cuman itu-itu aja, gue nyerah. Baju inceran gue kagak ada. Asli, gue bayar harga normal pun mau deh. Itu baju lucuk sumpah.
Gue keluar dan langsung sms mas Adi biasanya pake ukuran berapa. Ga ada sinyal. Ya Tuhan, ini mall memang pemakan sinyal rupanya. At least, sampe gue komplain tuh via twitter pake puisi pula sapa tahu tar dapet komplimen gitu. *menurut lo?*
Singkat cerita, oke gue tahu, kalian yang baca pasti udah bosen karena bertele-tele, kan. Dapet kadonya itu di Sogo. Oh, pada akhirnya memang departement store-lah penyelamat hidup laki-laki macam gue ini (?). Apa aja ada. Berbekal keyakinan teguh, dan rumus umur 4 tahun + badan gendut = ukuran 6 tahunan. Entah ini gue mikirnya dari mana, yang jelas feeling gue sih pasti muat. Lebih baik kegedean daripada kekecilan. Kan bisa disimpen buat lebaran entar. Halah.
Beli kemeja kotak-kotak dan polo shirt yang logonya orang naek kuda ituh yang lucu (menurut selera gue) dan bahannya bagus. Harga sesuai budget. Melangkahlah gue dengan mata berbinar-binar ke meja kasir. Digodain juga sih waktu itu sama mas-mas dan mbak-mbak store keepernya biar deketin mereka karena gue cakep. *Maksudnya biar beli lagi gituh* 
Sempet ngelirik ke deretan mainan, agak tergoda buat nyomot satu tapi pas liat barangnya, "Anjrit.. ini mobil-mobilan jelek, bahannya juga tapi lo berani jual dengan harga segini?? Gue beli di ITC dapet lebih murah dan sama kualitasnya" :)))) Oke, ini sebatas jeritan hati gue ngelihat harga yang menurut gue overpriced buat truk/mobil/apalah itu dari plastik tipis dan gampang banget rusak. Ga jadi. Akhirnya langsung ke kasir. Berbahagialah gue karena berhasil mendapatkan kado yang terbaik yang bisa gue kasih ke Arsyad.. *ini ngetiknya ga sambil nangis kok. Suer!* ditambah sinyal yang terbang ketakutan mau dicaplok mall ini sehingga terpaksa gue matiin hape karena ga ngerti mau telepon siapa lagi dan daripada baterai gue abis. Betul tidak? *suara Aa Gym KW*. Melangkahlah gue ke pelaminan keluar mall sambil nyanyi-nyanyi kecil. Seneng bok. Ini biarpun cuman ulangtahun, tapi kan ceritanya kita mau kasih kejutan ke anak kecil. Dan seberapa pun (jumlah atau harganya) itu hadiah elu beli, ngelihat mereka excited waktu buka bungkusnya dan teriak kegirangan itu PRICELESS. Serius. Mereka itu suka kado, gue juga suka... apalagi kadonya kamu... dipitain. #eaaaa
Oh ya, gue baru dapet sinyal dan sms mas Adi masuk itu setelah gue selesai belanja dan pulang. *toyor-toyor gedung Central Park* :))))

..........

dan gue lupa beli kertas kado. *mati* :))))
Dapet kertasnya itu beli di warung. Pilihan terbatas atau malah ga ada pilihan karena CUMA satu-satunya dan jelek. Waktu dibuka, kok kecil banget. Itu wrapping pun harus berantem dulu sama si kertas karena mau dilipet bagaimanapun takut sobek ya secara tipis dan mapan banget kalo buat bungkus. Kelar akhirnya. Untungnya sih gue stok kartu-kartu ucapan di rak buku. Jadi biarpun polos, ya ada gambarnya sih, ada gunanya ketika gue lupa beli kaya sekarang. Hahahahaha....
 .........
kado pun berhasil dibungkus dengan baik dan rapi.
Baru hari Senin malem kemarin gue titipin ke mas Adi suruh kasih ke Arsyad. *cross fingers* semoga muat.

.........
Setengah sepuluh malem, tiba-tiba henpon gue geter-geter enak gitu. Mas Adi telepon. Tumben malem-malem. Dan ketika gue pencet yes, suara Arsyad dong yang pertama gue denger. It's beyond sweet. Asli, gue pengen nangis *oke ini berlebihan ya, nyet*
Me: "Halo..."
Arsyad: "Halo... Halo, Om.."
Me: "Halo, iya Arsyad.."
Arsyad: "Halo, Om Edu terimakasih ya kadonya."
Me: "Iya, sama-sama, Arsyad. Bajunya muat nggak?"
Arsyad: "Aku seneng, Om. Eh.. Om, ini tulisannya apa? Tau gak bajunya muat di aku. Terimakasih ya."
Me: "Hahaha... iya.."
Malem sebelumnya memang gue mimpi sih ngasih dia kado dan ngajak jalan-jalan sambil gue gendong. Hahahaha... cuma di mimpi gue bisa kuat gendong nih anak yang gendut. :)))) *digaplok berkali-kali sama mas Adi*
Dan gue bahkan terlampau seneng sampai akhirnya lupa bilang selamat ulangtahun pas Arsyad telepon itu, muahahahahaha.... *digebukin lagi* dan gue pun sms ajalah. TAMAT. Udah gitu doang.

Inti ceritanya sih sebenernya gini, berbagi kebahagiaan sekecil apapun baik itu rejeki atau lainnya ke orang-orang terdekat dan di sekitar kita rasanya luar biasa. Melihat wajah-wajah mereka yang begitu antusias dan senyum yang terbentuk karena diri kita akan selalu jadi saat-saat yang bikin "nyess" di hati kita sendiri. Asal tulus dan ga perlu mahal atau berlebihan, segala sesuatu yang asalnya dari hati pasti akan berhasil menyentuh hati hati yang lain.
Gue seneng karena bisa ngelihat Arsyad seneng. Dan itu melebihi apapun. Gue bersyukur dengan semua yang udah Tuhan kasih dan orang-orang terdekat yang selalu ada buat gue.

 
=============
Edutria, 2012. Potongan-potongan cerita setiap hari.
Ini postingan ga berbayar kok. Seneng aja gue nyebutin merek ketimbang dikasih bintang-bintang. Langit kali ah ada bintang-bintangnya. :))

Monday, January 16, 2012

Kepada Rindu

foto dipinjam dari sini


Untuk Al, seseorang yang senyumnya selalu kusimpan dalam toples kaca

Hai, apa kabarmu di sana? Aku tahu kamu baik-baik saja. Sudah tidak sabar aku ingin berbagi sedikit lewat surat ini. Hanya sebuah surat yang kubuat dengan sederhana, karena aku tahu kamu tidak terlalu menyenangi hal yang berlebih.
Kamu, sejak hari itu terus menari-nari dan berkelindan di kubikel otakku. Aku jatuh cinta denganmu. Iya, kamu pasti sudah tahu karena aku pun mengatakannya untukmu pertama kali.
Seperti apa rasanya hatiku? Hahaha.. aku sendiri terlampau kewalahan dengannya. Semacam perasaan senang dan nyaman ketika aku dekat dengan kamu. Atau seperti setrum-setrum yang menyengat dan membuatku berdebar ketika memelukmu dari belakang. Barangkali seperti kata sebagian orang yang "seperti ada kupu-kupu yang terbang di dalam perut". Aku tidak tahu. Toh, aku juga tak terlalu peduli dengan kupu-kupu. Boleh kusimpulkan sesederhana mungkin, karena aku yakin bila nanti kujabarkan satu persatu tak akan habis waktu satu hari untuk mengupasnya. Aku bahagia. Aku bahagia denganmu yang selalu bisa membuatku menjadi diri sendiri tanpa malu ketika dekat dan berbagi denganmu.
Aku memang bukan seseorang yang ulung dalam merangkai kata dan kalimat. Tata bahasa yang terkadang kacau dan tidak pada tempatnya, serta koleksi kosakata ku pun tidak bisa sebanyak kamus besar atau Tesaurus Bahasa Indonesia. Aku suka sesuatu yang sederhana, tetapi lebih mengena.
Al, diam-diam aku selalu merekam senyummu dan kadang hampir mencari-cari jejaknya ketika kau tak barang sekali melengkungkan bibirmu setengah lingkaran bernama senyum itu. Memang, hari-hari yang dilalui oleh kita tak selalu mudah seperti harapan. Naik turun, berhenti, atau tersendat. Namun percayalah, kita akan selalu bersama-sama untuk mengatasi dan menemukan sebuah solusi. Dan bila aku merasa terlalu lelah, aku berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tetapi memutar kembali ingatan-ingatan dan kenangan akan kita berdua. Dari sana, aku akan kembali menemukan harapan.
Hari ini, ketika aku menulis surat ini aku dilanda kerinduan yang terlalu besar. Kesibukan rutin memaksa kita untuk sekian hari tidak bersua meski kita tetap bersapa. Di ujung telepon dan mendengar suaramu, kadang tak cukup bisa untuk sedikit mengobati kerinduan yang membuncah dalam dada. Iya, aku tahu, agak terlalu berlebihan. Hahaha... tak apa-apa, kan?
Baiklah, Al, aku hanya ingin menyampaikan itu saja. Inti surat ini sebenarnya rindu. Rindu untuk segera bertemu. Rindu yang kadang seperti memeram airmata. Eh, harusnya kan aku bisa langsung keluar dari kantor kemudian pergi ke tempatmu ya? Hahaha... sekali-kali hal itu yang akan aku lakukan. Nanti.

Terimakasih, Al. Besok sebuah surat akan datang lagi ke kantor. :)
dariku,
seseorang yang suka memelukmu dari belakang

P.S: jangan lupa liburan kita akhir pekan ini.



=============
Edutria, 2012.

Sunday, January 15, 2012

Surat Kepada Sepi



Untuk Sepi

Aku tidak tahu berapa banyak manusia-manusia di luar sana yang sepertinya tidak begitu suka dengan kehadiranmu. Aku di sini hanya mencoba untuk memanusiakan dirimu, disamping aku pun tidak tahu maksud dan tujuanku untuk menuliskan ini.
Aku melihat, tak ada yang salah denganmu. Engkau ada untuk menemani segelintir manusia yang sendiri ataupun terpaksa menyendiri. Harusnya kita berteman bukan? Ah, rasanya hanya aku saja atau entah ada manusia lain yang begitu suka denganmu.
Terimakasih ya, sudah mau bersama denganku, mendengar keluh kesahku ketika aku (merasa) sendiri. Kau dengar semuanya, kan? Lalu kau dengan setianya menunggui aku yang bahkan pernah menitikkan begitu banyak airmata ketika seseorang berjalan menjauh dari hidupku. Kau dengan sabar, malah memelukku dan mencoba mengatakan sesuatu kalau aku boleh bersama-sama denganmu untuk sementara waktu.
Namun, terkadang aku pun bosan bahkan sedikit tidak suka denganmu ketika kau begitu saja hadir tanpa ijinku padahal saat itu aku sedang ingin bersama yang lain. Keramaian.
Aneh, dalam keramaian kau pun masih saja hadir sesekali. Entah apa ada yang salah denganku atau memang kau hanya ingin menemaniku.
Sepi, aku tahu bahwa kau yang selalu menemani ketika saat-saat terberat dalam hidup dan aku sendiri. Denganmu, aku menelaah satu persatu tentang apa yang ada di dalam diriku. Kau dengan sabar menantiku, walau aku ingin menangis lebih keras, kau tidak berusaha untuk melarangku. Aku ingat, bahwa terkadang menangis bukan karena kita lemah, tetapi karena hanya ingin sedikit meringankan beban. Waktumu sepertinya tak terbatas. Aku tahu itu. Namun, ketika bersama dengan dirimu meski hanya duduk diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing, semakin banyak hal yang aku sadari dan akhirnya membentuk diriku seperti hari ini.
Denganmu, aku bisa lebih mengenal diriku sendiri, apa yang aku mau, mimpi-mimpiku, dan semua yang pernah hadir lalu pergi dari sisiku. Aku memaknai engkau seperti sebuah perenungan dan pengenalan terhadap hidup dan diriku sendiri.
Lalu, aku masih juga heran, begitu banyak manusia yang seolah enggan untuk berteman denganmu. Apa yang mereka harus takutkan? Ada saat bahwa kau memang harus direngkuh bersama-sama. Tetapi di lain waktu, aku memang tidak boleh terlalu erat untuk menggenggammu. Hidup harus seimbang. Aku pun butuh keramaian, sukacita dan hal-hal yang mungkin berkebalikan dengan sifatmu.
Bagiku, sepi, kamu ada bukan tanpa alasan. Semua yang ada di semesta pun demikian. Engkau adalah teman yang baik bagiku dan orang-orang lain yang ingin sedikit keluar dari keramaian, sekedar merenung atau berefleksi dengan diri mereka sendiri.
Kini, kau boleh pergi kemana engkau ingin melangkahkan kaki. Sudah cukup rasanya engkau aku buat kerepotan karena bersamaku. Tidak, aku tidak bermaksud mengusirmu. Kau boleh kembali kapan saja ketika aku perlu atau di waktu-waktu yang menurutmu aku harus kembali bersamamu lagi.
Sekarang, ada seseorang yang begitu ingin masuk dan berbagi sedikit keramaian dalam hatiku. Aku ingin bersamanya dan menikmati saat-saat yang sudah aku nanti begitu lama sejak aku memutus untuk sejenak keluar dari hingar bingar.
Dia orang yang baik. Tenang saja. Kamu sudah boleh mendampingi manusia-manusia yang aku rasa lebih memerlukanmu saat ini. Tak perlu kuatir denganku. Aku sudah kuat sekarang, mungkin karena seseorang ini. Hei, memang aku sedang jatuh cinta. Terimakasih ya. Sampai jumpa kapan-kapan...




=============
Edutria, 2012.

Saturday, January 14, 2012

Dipertemukan Waktu

foto dipinjam dari sini

Untuk kamu, seseorang yang akhirnya dipertemukan waktu

Bilangan Jakarta Selatan pukul sembilan malam di akhir bulan kesepuluh. Kamu masih ingat? Sosok berkacamata yang duduk di deretan bangku depan sebuah tempat makan lesehan. Itu kamu, menunggu untuk aku hampiri.
Katakanlah malam itu menjadi penanda bahwa akhirnya aku menemukan seseorang yang bahkan tanpa pernah aku pikirkan dia berhasil menerobos pertahanan hatiku yang memang sengaja aku pasang berlapis karena takut terluka untuk kesekian kali.
Aku pernah kan mengatakan ini ke kamu, kalau beberapa kali seperti merasa deja vu bahwa kita pernah ketemu. Ga tahu kapan, kadangkala aku merasakan. Kebetulan atau tidak, nyatanya aku pun tidak pernah memikirkan bahwa kita bisa sampai di tahap ini. Berdua. Semua mengalir begitu saja dan tidak direncanakan.
Jujur, menurutku ini bakal jadi surat yang paling berantakan karena aku terlalu gugup untuk merangkai dan mengeluarkan semua isi yang ada di hati maupun kepala. Tidak apa-apa, kan?
Kamu mengajariku banyak hal dan memberi pengertian yang baru tentang hidup, keluarga, teman lalu cinta. Aku mengenalmu sebagai sosok yang sederhana dan jujur, meskipun dalam beberapa hal kamu terlihat polos dan naif. Hahaha.. jangan jitak aku kalau nanti kita ketemu. Lalu aku sadari, bahwa perbedaan-perbedaan yang kita punya bukan menjadi penghalang atau sesuatu yang menghambat kita untuk terus melangkah maju. Kita hanya perlu belajar dan saling mengerti satu sama lain. Bahwa seharusnya perbedaan itu bisa memperkaya satu sama lain. Tolong ingatkan aku selalu ya, agar tidak terburu-buru terhadap suatu hal dan seperti orang yang kehabisan waktu.
Aku ngerti kok, meski kadang kita ga bisa selalu ketemu, kamu tetap mencoba untuk memberi perhatian yang cukup untuk diriku. Begitu juga aku. Maaf, kalau aku sering sedikit memaksa kadang-kadang.

Mungkin memang ini saatnya. Kamu dan aku, kita, dipertemukan bukan tanpa alasan. Aku yakin, semesta sudah berkonspirasi dengan Tuhanmu dan Tuhanku untuk memberi kesempatan kita berdua mengenal lebih jauh dan merasakan apa yang disebut cinta.
Menghabiskan waktu bersamamu, adalah saat yang paling aku tunggu. Rasanya, waktu berjalan sangat cepat tetapi di saat yang lain, waktu menjatuhkan jangkarnya agar ia berjalan melambat.
Terlampau banyak hal ingin kuutarakan lewat surat ini. Hanya saja, aku tak ingin membuatmu mengantuk karena kebosanan. Jadi aku putuskan untuk menceritakan padamu esok hari. Satu persatu, mengenai perasaanku.
Terimakasih ya, sudah hadir dan mengisi hari-hariku. Aku percaya, bahwa setiap hal yang datang dalam hidup kita baik adanya. Salah satunya kamu. Karena takkan pernah ada waktu yang benar-benar tepat, kalau bukan kita yang membuatnya demikian. Sudah ya, lanjutkan istirahatmu...


dariku,
yang bahagia di sampingmu




===============
Edutria, 2012. 30 Hari menulis surat cinta. Prolog.