Tuesday, August 2, 2011

Day 2: Tribeca Park dan Malam Itu

17 Mei 2011, hari Selasa...
Tak kusesali cintaku untukmu
Meskipun dirimu tak nyata untukku
Sejak pertama kau mengisi hari-hariku
Aku t'lah meragu mengapa harus dirimu...
Hari yang sama ketika saya mulai mengetik tulisan ini di editor blog saya. Semacam kebetulan atau bukan, tetapi saya memang harus menuliskannya.
Malam itu, bahkan saya masih ingat semuanya. Baju yang kamu pakai, kemeja putih dengan rompi hijau dan jeans hitam; persis sama dengan saya yang saat itu memakai kemeja dengan warna senada dan celana jeans yang sama. Sepatu sandal kulitmu coklat, dan sepatu saya coklat. Rasanya, kita bahkan tidak menentukan sebuah deal untuk dresscode.
Pertemuan itu yang pertama, setelah kurang lebih 2 bulan lebih kita saling mengenal lewat dunia maya. Apakah kamu ingat itu semua? Perkenalan yang awalnya mungkin aneh dan lucu buat saya sendiri ternyata memberi dampak yang lebih nyata untuk saya, kemudian.
Ada semacam jantung yang berdebar-debar malam itu. Akhirnya, saya bisa menjumpaimu secara nyata, tak terbatas huruf sepanjang maksimal 140 karakter.
Tribeca Park, di sebelah barat Jakarta. Malam itu, pertama kali saya berjabat tangan erat, bersahabat dan kita saling bertatap. Kedua mata itu berbicara, ada seperti energi lain yang bisa saya tangkap. Geletar-geletar itu mulai ada. Entah, tapi saya mulai merasa.
Saya masih ingat, pertama kali kamu memanggil namaku ketika saya berjalan mendekat. Gugup, dan mungkin salah tingkah.
Kita menghabiskan malam dengan menonton bioskop, lalu makan malam bersama untuk lebih mendekatkan kita berdua. Rasanya, waktu seperti ditambatkan oleh sebuah jangkar untuk diam tak berdetak ketika kita berdua saling bercerita. Atau kita yang terlalu asyik bercengkerama hingga akhirnya lupa bahwa sejatinya bukan hanya kita berdua yang ada disekitar?
Saya mulai memikirkan kamu, geletar itu makin nyata. Apakah saya telah jatuh cinta? Mungkin.
****
2 Agustus 2011, hari Selasa...
Saya telah berhenti. Bukan karena saya tidak mencintai kamu lagi. Saya hanya lelah untuk merasakan ini sendiri. Kamu terlalu jauh atau saya yang terlalu tinggi untuk mengharapkanmu.
Ada baiknya kita sekarang memisah, bersimpang jalan. Saya ke kanan dan kamu, silakan pilih arahmu sendiri. Kelak, mungkin di persimpangan yang lain semoga kita masih bisa bertemu lagi. Di saat semuanya telah siap, di waktu yang tepat.
Ketika saya berpikir, bahwa saya mencintaimu di waktu yang tidak tepat? Saya tidak tahu. Bagi saya, tak pernah ada yang tidak tepat sewaktu saya berbicara tentang cinta. Saya dan kamu.
Kamu menjauh, dan saya tidak akan berusaha untuk mengejar atau menyamakan langkah. Biarkan saya tetap tertinggal, dan melihatmu berlari jika itu yang terbaik.
Es krim yang kita makan berdua waktu menonton bioskop di Grand Indonesia kala itu masih tetap saya ingat. Lalu makan malam masakan Jawa dimana kita saling mencoba makanan satu sama lain dan kamu kepedesan itu juga.
Dinner terakhir kita sebenarnya juga seru jika diingat. Lucu, makan malam dengan restoran mati lampu. Tetapi, senyum kamu malam itu rasanya akan tetap jadi senyum terindah buat saya. Entah kenapa, mata kamu dan saya terasa menyatu. Saya tahu sinar itu.
Masih banyak sekali kenangan yang sebenarnya ingin saya tulis. Tetapi akhirnya waktu (atau kamu) yang memaksa saya untuk menutup buku meski itu baru beberapa halaman yang terisi.
Kamu sudah bisa makan dengan sumpit? Ah, saya masih terkenang dengan ekspresi muka kamu ketika saya mengajarimu makan dengan sumpit di sebuah restoran Jepang di pertemuan pertama kita. Kamu tidak sabar rupanya. Tidak apa-apa, toh masih selalu tersedia sendok dan garpu yang akan setia menemani makan malammu meski tiada lagi aku yang di sisimu.
Saya titip doa untuk kamu, semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. Hidup tetap harus dilanjutkan dengan atau tanpa saya (dan kamu).
Saya pergi, bukan berarti saya menyerah dan kalah. Sudah tidak ada lagi yang memaksa saya untuk tetap menahan langkah kaki di waktu ini. Bukannya kita berdua sama-sama tidak mengerti dan saling menyakiti?
Lebih baik, saat ini, kita berdua mencari jalan untuk kebahagiaan kita masing-masing. Meski saya tahu, salah satu bahagia saya adalah tetap bersamamu.
Cinta saya ke kamu tetap ada di hati. Biarkan ia di sana, beristirahat, mungkin suatu saat, entah itu kapan dia boleh ada kembali dan menghangatkan hati.

Jaga diri, O. Saya masih sayang atau mungkin terlalu sayang kamu.
Saya tidak pernah menyesal untuk ini dan untuk perasaan yang tidak pernah terbalas.
Aku takkan bertahan bila tak teryakinkan
Sesungguhnya cintaku memang hanya untukmu
Sungguhku tak menahan jika jalan suratan
Menuliskan dirimu memang bukan untukku...
Selamanya...

Terima kasih untuk semuanya, Onan :)

================
Edutria, 2011. Sudah selesai.
Lyrics: Bukan Untukku - Rio Febrian

No comments:

Post a Comment