Wednesday, August 10, 2011

Day 7: Catatan Waktu

Hari ketujuh. Saya sebenarnya sudah telat beberapa hari untuk menuliskan ini. Harusnya, saya sudah sampai hari kesepuluh. Nyatanya, saya malah terlalu galau dan bingung ingin menuliskan apa dan siapa.
Hari ini adalah tulisan tentang mantan atau seseorang yang pernah jadi bagian dalam hidup saya. Mau menulis yang bagaimana lagi, sedang saya sudah terlalu banyak menggores pena dan mengetik satu persatu tentang kenangan akan dirimu di sini.

kepada Kamu,
Semoga masih ingat betapa akurnya kita dulu.Apa kabarmu di sana? Sudah berselang lama sekali kita tidak saling berjumpa pun bertegur sapa. Kamu masih seperti dulu? Ah, saya pikir jeda waktu panjang yang sudah kita lewati bersama, pasti sedikit banyak sudah mengubah kita berdua. Rupanya hidup selalu memberi warna baru, saat kita berdua sepakat untuk saling memisah langkah dan berjalan ke arah serta persimpangan yang berbeda.
Menyadari kita pernah ada, bersama di suatu masa, membuat saya bisa tersenyum. Saya tidak lagi merasakan perih yang sama seperti tahun-tahun yang lalu. Apa artinya saya memang sudah benar-benar melupakan kamu? Belum tentu.
Terima kasih untuk saat-saat terindah yang pernah ada. Ketahuilah, bukan cinta yang membuat saya terhempas dan kandas. Saya hanya sedang belajar untuk melepas.
Ada saat dimana saya mulai satu langkah maju dan kamu tetap jauh di depan saya. Kita belum ditakdirkan untuk saling menyamakan langkah.
Tulisan saya, "aku mencintaimu" di awal buku yang kamu tutup terburu-buru tanpa sekalipun dibaca rasanya sudah cukup. Itu isi hati saya, dan tak ada yang perlu disesali.
Karena buat saya, esensi hidup adalah soal memilih dan mengalami.
Sekali lagi terima kasih, dan maaf untuk rasa sakit yang pernah saya lakukan. Saya sudah merasa lebih baik sekarang. Jangan khawatir. Waktu lebih dari satu tahun, rupanya bisa jadi obat manjur untuk luka itu. Meski saya tahu, faktor penentu utama adalah diri saya sendiri.
***
Aneh, saya tidak bisa meneruskan tulisan ini. Saya anggap sudah cukup. Tidak ada yang harus diingat-ingat lagi. Menatap ke depan itu lebih baik daripada hanya tinggal diam dan menikmati kenangan akan masa lalu; sekalipun itu indah. Masa lalu biarlah tetap ada di belakangmu. Sesekali bolehlah menengok sebentar. Iya, sebentar saja. Anggap sebagai pengingat dan pengalaman berharga untuk kini dan nanti.

==============
Edutria. 2011. Sebuah cerita dan ini sudah [lama] selesai.

Monday, August 8, 2011

Day 6b: Stranger in Metro 69

Untuk kamu,
seseorang yang sering aku temui di angkot dan metro 69.

Siapa pun namamu, dan bagaimana cara saya memanggilmu biarlah tak ada seorang pun yang tahu. Kita ini, seringkali bertemu dan beradu pandang dalam perjalanan pagi menuju tempat kerja masing-masing. Kita tidak saling mengenal. Namun aneh, kadang saya bisa tersenyum tanpa sebab ketika bertemu denganmu. Hahaha... Jangan geer ya. Saya tidak punya perasaan apa-apa kok. Sebatas senyum antar tetangga mungkin. Hey, saya tahu rumah kamu memang tidak jauh dari saya, walau bisa dibilang tidak terlalu dekat juga. Intinya kita sering bertemu di jalan.
Saya dan kamu, sepertinya malu untuk memulai kata pembuka "hai, halo, atau apapun lah" untuk mengawali pembicaraan. Kita hanya mampu untuk saling pandang dan kemudian diam. Pengen sih saya senyum, tapi takutnya nanti bisa diartikan lain. Saya malu.
Dear kamu, saya hanya ingin berteman. Itu saja. Rasanya aneh kalau kita yang tinggal tak terlalu jauh bisa saling tidak kenal satu sama lain. Ah, kita seperti manusia Jakarta lain yang terlalu sibuk untuk sekadar bersosialisasi. Serba salah memang. Disamping saya juga tidak enak untuk memulai perkenalan. Atau takut? *Sudah akui saja, Ed. Kamu malu.*
Eh, sebenarnya melihat kamu itu seperti melihat mantan pacar saya. *eaaa... alasan* Entahlah, jangan tanya apa sebabnya saya bisa ngomong begitu. Tapi ada beberapa ciri fisik yang betul-betul mengingatkan saya akan seseorang yang pernah ada buat saya di waktu yang lalu. Hahaha...

Ehem, baiklah. Tapi terima kasih lho sudah hadir atau sekadar numpang lewat di hari-hari saya. Dulu, kalau saya kangen dengan pacar saya *sekarang udah mantan* cukup terobati ketika ketemu kamu di jalan. Ya, bukan berarti saya terus flirting-in kamu gitu. Bukan. Tapi seperti melihat jiplakan wajah pacar saya di kamu. Begitu. Hahaha... Eh, tetapi kita memang belum ditakdirkan untuk saling kenal sih.
Ga apa-apa. Tetap seperti ini saja. Kenal sebatas muka. Itu sudah cukup.
Kelak, kalau memang sudah waktunya kita bakal tak sengaja kok ketemu di mall terus tubrukan gitu dan aku bantu kamu merapikan barang yang jatuh. *Heh! Stop Ed* Aduh, ini sepertinya terlalu sinetron dan kesannya gimana gitu. Emang masih jaman, tubrukan di mall terus kenalan gitu? Di tivi mungkin iya. Buat saya sih kok, iuuhhh banget ya. Hahahaha...
Pokoknya, kalo someday memang ada jatahnya buat kita ketemu di persimpangan, *Please jangan nanya persimpangan mana ya. Saya juga gak tahu. Lah ini juga kan pengandaian. Tahu kan maksud saya?* saya pengen deh cerita tentang hari ini dan hari-hari yang lalu dimana kita masih ada sebagai dua orang asing yang sebenarnya sama-sama malu untuk mengucapkan "hai, selamat pagi. Ketemu lagi kita".

Kita berdua memang sombong. Tetangga tapi tidak saling kenal. Lalu? Ah sudahlah, besok juga kenal sendiri... *eaa ditoyor Pak RT*

===========
Edutria, 2011. Untuk tetangga (yang unyu).

Day 6: A Stranger


stranger

Pronunciation:/ˈstreɪn(d)ʒə/

noun

a person whom one does not know or with whom one is not familiar:
don't talk to strangers
she remained a stranger to him
a person who does not know, or is not known in , a particular place or community:
I'm a stranger in these part
she must have been a stranger to the village
(stranger to) a person entirely unaccustomed to (a feeling, experience, or situation):
he is no stranger to controversy
a person who is not a member or official of the House of Commons.

Origin:
late Middle English: shortening of Old French estrangier, from Latin extraneus
(source: OALD)

****

Dear Stranger,
I barely know about you, and vice versa. Can't we keep stay as strangers to each other? At least, till the time we meet. Someday... in His time.

Ups, are you my soulmate? #eaa :))


===========
Edutria, 2011. Entahlah ini tulisan atau cuman kopipes dari kamus. :))

Day 5: Dreams

Saya boleh jadi punya banyak mimpi. Banyak sekali. Terkadang, ada beberapa yang bahkan saya sampai geleng-geleng kepala karena tidak yakin dulu bisa menulis mimpi yang seperti itu. Kalau dibilang cita-cita memang mirip sih ya. Oke, pada dasarnya saya tidak takut untuk bermimpi. Namun, saya juga bukan yang termasuk sebagian orang yang terlalu senang bermimpi tetapi tidak ingin segera bangun untuk merealisasikan mimpi-mimpinya.
Kalau ditanya apa mimpi saya, tentu tidak akan saya jawab dengan mimpi yang baru saja saya alami tadi malam. Bukan. Itu berbeda. Saya ingin menjadi seseorang yang lebih baik lagi dan berguna untuk sekitar saya, yang paling penting adalah untuk keluarga dan orang tua saya.
Mimpi buat saya memang agak berbeda dari cita-cita. Bermimpi itu menyenangkan, selain gratis kita bisa berandai-andai untuk menjadi siapa saja. Hahaha... Tapi, kalau kita hanya bermimpi dan tidak berbuat apa-apa untuk segera meraih mimpi itu, rasanya kok kita hanya seperti tong kosong yang nyaring ketika dipukul dengan kayu atau batu. Kita tidak ingin yang demikian bukan?
Cita-cita, semua orang pasti memilikinya. Salah satunya saya. Dari dulu, saya berubah-ubah ketika ditanya soal ini. Pernah ingin menjadi musisi (?) entahlah ini kesambet apa dulu. Oh mungkin karena saya sempat ikut kursus piano dan electone selama beberapa tahun. Lalu, saya ingin menjadi seorang chef Pastry, kemudian lantas saya mengambil studi di bidang tersebut. Hari ini lain lagi. Hahahaha... Tetapi apapun itu, saat ini saya ingin melanjutkan studi dan meraih gelar sarjana saya. Itu dulu. Sesuai permintaan dari orang tua juga sih. Oh ya, sebenarnya masih pengin bekerja di dunia tulis menulis dan jurnalistik yang akhirnya kok sesuai dengan passion saya.

Ah, lagi-lagi saya tetap mandek ketika disuruh menuliskan mimpi dan cita-cita saya. Agak susah ya saya menjabarkan satu persatu dari rangkaian mimpi itu. Aduh, atau kita saling bercerita dan mengobrol saja kapan-kapan? Hahaha... Sudah ya, lain kali saya edit lagi postingan ini. :))

====================
Edutria, 2011. A day dreamer. Hahaha...


Day 4: My Sister and I

dear my Sist,
First, I thank God for His grace who gave me a sweet and kind sister like you. Yes, I just have one. Only you. I know that we have a difference of age, 11 years older than me, then you are always guided and taught me to do better.
There are so many memories we've had together. Hard, happy, sad or disappointed. 
Do you remember, when I was a kid in a morning that you will go to school and I even took your money and tore into small pieces. Hahaha ... I think I do not know if it is money that could have to buy something. I was a bit naughty, yet mushy. 
I also often ask "jatah-preman" for snacks from your savings. Hahaha ... but you never angry.
In 1995, you have to leave Magelang and continued your studies to Jakarta. There is a sense of loss for me. Although I myself know, that we'll definitely meet again. I delivered you to the bus station, and my eyes filled with tears. 
Since it is I rarely see each other again. At least once or twice a year. Heard you coming home to Magelang was already thrilled my heart. Much less then I also went to Jakarta for vacation. That was not the first time I came to Jakarta. But I think I'm so glad. 
I still remember, when I was whining to go to night market. I know, you mad because of rainy days and muddy roads to get there definitely. But we're keep going. 
There is a kind of guilt from me, although I know you gave me a hug after you apologized for being angry. 
*** 
2005, after 10 years. I, too, moved to Jakarta. I then hired in a cakeshop, as a chef in accordance with my background Pastry graduate dept. 
Between sad and happy to be close to my sister, besides leaving the father and mom in Magelang. However, do not make me discouraged because later I can meet with them when the long holiday, Christmas or Eid.

In this city, I realized that you always teach, give advice and input to me. Yes, I was wasteful. So do not be surprised if you often scolded me to start saving. 

Now, you're pregnant. That means I will soon have two nephews. Dito and his baby sister. Hope you always healthy and facilitated by the Lord. 
I can only pray the best for your family. May your fam always a healthy, harmonious and blessed. 

I am proud to have a sister like you. Thanks for all the advice ... Do not fierce to Dito. He's smart and funny, yet a bit naughty sometimes.

I love you, Doedoe:)


=============
Edutria, 2011.

Gokana Beef Teppan

Kemarin saya sempat berjalan-jalan di sebuah mall di bilangan Jakarta Selatan. Niat awal sebetulnya hanya ingin sekadar cuci mata sambil menunggu kemacetan berkurang di luar. Maklum, kalau sudah masuk rush-hour, antrian panjang kendaraan di jalan sungguh juara. Selain menguji kesabaran, pastinya panas dan capek kalau niat  mau baris rapi di jalan.
Karena lapar, saya memutuskan untuk mencari tempat makan yang belum pernah saya coba sebelumnya. Kenapa? Soalnya saya termasuk orang yang suka makan, terlebih dengan jenis makanan baru. Mungkin karena background saya di F&B, maka saya sering nyobain tempat makan yang menurut saya unik atau menarik. Ga harus mahal juga sih, banyak kok tempat makan murah tapi kualitas dan rasa juara.
Pilihan saya kali ini di Gokana Teppan. Ga tau juga sebenarnya bisa milih tempat makan ini. Memang belum pernah masuk sebelumnya. Jadi sedikit penasaran saja.
Teppan (teppanyaki) sendiri adalah seni memasak Jepang yang menggunakan wajan besi untuk memasak makanan. Berasal dari kata teppan yang berarti plat besi, dan yaki yang berarti panggang, kukus atau ditumis. Teppanyaki modern biasanya menggunakan panggangan di permukaan datar yang sebelumnya dipanaskan terlebih dahulu. Biasanya dimasak langsung di depan tamu. (source: teppan)
Gokana sendiri tidak hanya menyediakan menu teppan. Ada miso, ramen, bento, tempura, yakimeshi, dan lain-lain.
Beef Teppan set
Saya memilih Beef Teppan dengan mixed vegetables, salad, dan bento serta Iced lemon tea. Porsinya lumayan besar, dan yang paling penting murah serta sebanding dengan harganya. Dari segi rasa menurut saya enak dan pas. Semacam ada ciri khas tersendiri, karena tadinya saya pikir rasanya pasti mirip-miriplah dengan Japanese fast food resto yang terkenal itu. Nice. Bentonya sendiri juga punya rasa khas yang pas di lidah. Mungkin sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Namun, bukan berarti tidak ada yang kurang. Menurut saya, nasi yang kemarin saya makan itu terlalu kering dan tidak pulen sehingga agak sulit ketika harus makan dengan sumpit. Tipikal nasi di Japanese dan Chinese food adalah pulen dan solid ketika dimakan menggunakan sumpit. Kemudian, lemon tea kurang terasa lemonnya dan sedikit kurang manis. Overall, saya sendiri cukup puas dengan menu yang saya pesan. Selain, pelayanannya yang ramah, cekatan dan tidak menunggu lama termasuk dengan welcome snack sembari menunggu pesanan siap, harga sekitar Rp 30.000 untuk satu paket teppan termasuk kategori murah. Lain waktu, saya akan mencoba menu lainnya, terutama miso soup dan ramen.
Gokana sepanjang pengamatan saya, sudah membuka cabang di beberapa mall di Jakarta dan Bandung. Hal ini bisa menjadi semacam alternatif tempat makan enak dan murah. It is worth to try. :)

Beef Teppan with Sauté Mixed Vegetables
Bentos with Coleslaw Salad as side dish

==================
Edutria, 2011. Icip-icip lagi...

Thursday, August 4, 2011

Pottermore

Yay! Finally I've got early access to pottermore on day 3 Magical Quill challenge during 31 July to 6 August. We have to solve a clue who will be revealed everyday in their site to find a magical quill and complete the registration detail.
my name on a list :))



Day 3: Parents dan Son


Ketika saya melihat video di atas, saya menitikkan air mata dan mulai menangis. Saya teringat kedua orang tua saya yang sekarang berada di kampung halaman, berdua. Sedang kami, kedua anaknya pergi merantau dan bekerja di kota lain.
Ada semacam geletar rindu yang menghebat ketika saya memutar ulang video tersebut. Rasanya, baru kemarin, saya adalah anak kecil yang selalu digendong oleh bapak dan ibu saya. Kini, saya sudah besar dan meninggalkan rumah untuk meneruskan dan meraih cita-cita saya.
Waktu berjalan cepat rupanya. Namun, belum cukuplah saya membalas cinta dan kebaikan kepada orang tua saya. Tidak akan pernah cukup.
Saya sendiri kadang terlalu sibuk dengan pekerjaan dan karir, hingga akhirnya lupa untuk sekadar menyapa mereka. Semenit dua menit, itu sangat berarti untuk Bapak dan Ibu.
Mereka hanya ingin diri kita, anaknya, menjadi seseorang yang lebih baik. Mereka mendidik dan merawat tanpa kenal lelah. Tetapi, saya malah seringkali mengecewakan mereka.
Berbohong, melawan semua argumen mereka dengan kesoktahuan saya. Bahkan tak jarang, nada bicara saya mulai meninggi ketika saya mempunyai pendapat yang tidak sesuai.
Saya salah. Harusnya saya diam dan mendengarkan. Setiap orang tua pasti tahu yang terbaik untuk anaknya.

Rindu ini semakin kuat. Siang ini, selembar surat dari Ibu saya datang ke kantor bersama dengan dokumen yang memang saya minta untuk dikirimkan. Baru kali ini lagi, tulisan Ibu kembali saya lihat. Semacam ada ikatan batin ketika membaca satu persatu kalimat sederhananya. Saya kembali menangis. Betapa berharganya sebuah sapaan apa kabar, dan sedikit pesan bahwa Bapak dan Ibu sehat-sehat saja.
Tulisan Ibu tidak berubah, tetap rapi dan tegas. Ingin saya memeluk mereka saat ini juga untuk sekadar membisikkan terima kasih saya kepada mereka.

Saya masih bingung dan bahkan tak cukup kata untuk mewakili perasaan saya saat ini. Saya hanya berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk mereka, menepati janji saya, menyelesaikan pendidikan hingga sarjana seperti yang mereka minta. Sesederhana itu. Semoga saya selalu dapat membahagiakan mereka dan menemani mereka untuk menunjukkan betapa saya sangat mencintai dan menyayangi Bapak dan Ibu..

Terima kasih, Bapak Ibu...


=============
Edutria, 2011. Untuk kedua orang tua.

Tuesday, August 2, 2011

Day 2: Tribeca Park dan Malam Itu

17 Mei 2011, hari Selasa...
Tak kusesali cintaku untukmu
Meskipun dirimu tak nyata untukku
Sejak pertama kau mengisi hari-hariku
Aku t'lah meragu mengapa harus dirimu...
Hari yang sama ketika saya mulai mengetik tulisan ini di editor blog saya. Semacam kebetulan atau bukan, tetapi saya memang harus menuliskannya.
Malam itu, bahkan saya masih ingat semuanya. Baju yang kamu pakai, kemeja putih dengan rompi hijau dan jeans hitam; persis sama dengan saya yang saat itu memakai kemeja dengan warna senada dan celana jeans yang sama. Sepatu sandal kulitmu coklat, dan sepatu saya coklat. Rasanya, kita bahkan tidak menentukan sebuah deal untuk dresscode.
Pertemuan itu yang pertama, setelah kurang lebih 2 bulan lebih kita saling mengenal lewat dunia maya. Apakah kamu ingat itu semua? Perkenalan yang awalnya mungkin aneh dan lucu buat saya sendiri ternyata memberi dampak yang lebih nyata untuk saya, kemudian.
Ada semacam jantung yang berdebar-debar malam itu. Akhirnya, saya bisa menjumpaimu secara nyata, tak terbatas huruf sepanjang maksimal 140 karakter.
Tribeca Park, di sebelah barat Jakarta. Malam itu, pertama kali saya berjabat tangan erat, bersahabat dan kita saling bertatap. Kedua mata itu berbicara, ada seperti energi lain yang bisa saya tangkap. Geletar-geletar itu mulai ada. Entah, tapi saya mulai merasa.
Saya masih ingat, pertama kali kamu memanggil namaku ketika saya berjalan mendekat. Gugup, dan mungkin salah tingkah.
Kita menghabiskan malam dengan menonton bioskop, lalu makan malam bersama untuk lebih mendekatkan kita berdua. Rasanya, waktu seperti ditambatkan oleh sebuah jangkar untuk diam tak berdetak ketika kita berdua saling bercerita. Atau kita yang terlalu asyik bercengkerama hingga akhirnya lupa bahwa sejatinya bukan hanya kita berdua yang ada disekitar?
Saya mulai memikirkan kamu, geletar itu makin nyata. Apakah saya telah jatuh cinta? Mungkin.
****
2 Agustus 2011, hari Selasa...
Saya telah berhenti. Bukan karena saya tidak mencintai kamu lagi. Saya hanya lelah untuk merasakan ini sendiri. Kamu terlalu jauh atau saya yang terlalu tinggi untuk mengharapkanmu.
Ada baiknya kita sekarang memisah, bersimpang jalan. Saya ke kanan dan kamu, silakan pilih arahmu sendiri. Kelak, mungkin di persimpangan yang lain semoga kita masih bisa bertemu lagi. Di saat semuanya telah siap, di waktu yang tepat.
Ketika saya berpikir, bahwa saya mencintaimu di waktu yang tidak tepat? Saya tidak tahu. Bagi saya, tak pernah ada yang tidak tepat sewaktu saya berbicara tentang cinta. Saya dan kamu.
Kamu menjauh, dan saya tidak akan berusaha untuk mengejar atau menyamakan langkah. Biarkan saya tetap tertinggal, dan melihatmu berlari jika itu yang terbaik.
Es krim yang kita makan berdua waktu menonton bioskop di Grand Indonesia kala itu masih tetap saya ingat. Lalu makan malam masakan Jawa dimana kita saling mencoba makanan satu sama lain dan kamu kepedesan itu juga.
Dinner terakhir kita sebenarnya juga seru jika diingat. Lucu, makan malam dengan restoran mati lampu. Tetapi, senyum kamu malam itu rasanya akan tetap jadi senyum terindah buat saya. Entah kenapa, mata kamu dan saya terasa menyatu. Saya tahu sinar itu.
Masih banyak sekali kenangan yang sebenarnya ingin saya tulis. Tetapi akhirnya waktu (atau kamu) yang memaksa saya untuk menutup buku meski itu baru beberapa halaman yang terisi.
Kamu sudah bisa makan dengan sumpit? Ah, saya masih terkenang dengan ekspresi muka kamu ketika saya mengajarimu makan dengan sumpit di sebuah restoran Jepang di pertemuan pertama kita. Kamu tidak sabar rupanya. Tidak apa-apa, toh masih selalu tersedia sendok dan garpu yang akan setia menemani makan malammu meski tiada lagi aku yang di sisimu.
Saya titip doa untuk kamu, semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. Hidup tetap harus dilanjutkan dengan atau tanpa saya (dan kamu).
Saya pergi, bukan berarti saya menyerah dan kalah. Sudah tidak ada lagi yang memaksa saya untuk tetap menahan langkah kaki di waktu ini. Bukannya kita berdua sama-sama tidak mengerti dan saling menyakiti?
Lebih baik, saat ini, kita berdua mencari jalan untuk kebahagiaan kita masing-masing. Meski saya tahu, salah satu bahagia saya adalah tetap bersamamu.
Cinta saya ke kamu tetap ada di hati. Biarkan ia di sana, beristirahat, mungkin suatu saat, entah itu kapan dia boleh ada kembali dan menghangatkan hati.

Jaga diri, O. Saya masih sayang atau mungkin terlalu sayang kamu.
Saya tidak pernah menyesal untuk ini dan untuk perasaan yang tidak pernah terbalas.
Aku takkan bertahan bila tak teryakinkan
Sesungguhnya cintaku memang hanya untukmu
Sungguhku tak menahan jika jalan suratan
Menuliskan dirimu memang bukan untukku...
Selamanya...

Terima kasih untuk semuanya, Onan :)

================
Edutria, 2011. Sudah selesai.
Lyrics: Bukan Untukku - Rio Febrian

Monday, August 1, 2011

Day 1: Buncis dan Emak

Sumpah, gue sendiri ga tau mau mulai dari mana. Seringkali memang kita sendiri yang terlalu ribet atau bingung ketika memulai suatu hal. Tapi pertama kali, gue bersyukur banget karena bisa kenal kalian dan gue yakin itu bukan kebetulan. Gue ga percaya dengan kebetulan, karena segala sesuatu yang terjadi dan ada di semesta ini sudah lebih dulu dirancangkan-Nya.
Kalian, aduh, gue sendiri juga bingung awalnya gimana kita bisa jadi sahabat seperti ini. Hampir 7 tahun, ketika semua bermula dari bangku SMA. Jujur, pada awalnya gue bahkan sama sekali ga pernah terpikir untuk kita sampai hari ini.
Emak, lo tau apa yang ada di pikiran gue ketika pertama kali, seorang abege laki-laki ingusan yang baru lulus SMP dan bahkan seragam SMA-nya pun belom jadi ngeliat elu? Hihihi... Gue naksir Mak sama lu. Hahahaha... entah deh jangan tanya gue kok bisa atau gimana yah. Dan gue lebih seneng dong ketika gue terus mulai akrab dan hei, kita pernah satu tim di OSIS. Sayangnya, elu sering galak sih sama gue. Tapi tetep ya, elu ga pernah tau kalo gue sempet naksir. Gue sendiri juga ga pernah bilang, sampe 6 tahun kemudian, akhirnya gue berani ngomong kan sama elu. Intinya gue tetep ngomong dan itu sebagai lucu-lucuan aja pas kita saling sharing tentang kehidupan kita setelah bangku SMA dulu. Ih, elu gokil juga Mak. Sumpah.
Buncis, hehehe.. gue malah tadinya agak serem bok waktu pertama ketemu. Iyah, Buncis dulu gue pikir galak juga. *hey, kenapa ini Sahabat-sahabat gue awalnya gue judge GALAK TO THE MAX. Kenapa?!* Kita itu kenal, tapi ga deket awalnya. Bahkan, gue juga ga tau pas ada temen-temen kita bilang Buncis.. Buncis.. Semacam penasaran siapa sih yang dipanggil gitu. Sampe akhirnya kita deket aja, ngalir, ga tahu gimana ceritanya. Gue masih inget lho, dulu sering banget maen ke rumahnya Ncis di Ambarawa.. *niatnya sih minta minum Es sirup tauk, sama cemilan* Hahahaha....
Kita lalu sama-sama memisah jalan, gue bahkan ilang kontak dengan Emak dan dipersatukan Tuhan lewat pernikahan yang kudus Facebook. Rasanya, pertemanan ini makin kuat setelah kita sama-sama dewasa. Kalian tahu siapa gue, bahkan negatifnya pun kalian tahu. Gue bersyukur banget karena disaat orang lain mungkin mencibir atau menghindar satu persatu, kalian justru hadir buat gue, menemani gue, kasih sedikit masukan, motivasi dan apapun yang buat gue itu sangat tak ternilai. Gue pengen nangis ketika nulis ini. Kalian, menerima gue apa adanya. Dulu kita cuma bisa smsan, telpon, email, chatting, sekarang gue bisa hangout hampir tiap weekend bareng Buncis. Emak.... gue belum ketemu elu lagi. Gue kangen. Pengen kasih elu surat cinta yang dulu pengen banget gue tulis waktu SMA. :)))
Disini, gue tetep bingung mau nulis apa lagi. Yah, terlalu banyak yang pengin gue tulis tapi biar hati kita saja yang sama-sama merasa kalau gue selalu bangga dan bahagia punya orang-orang terdekat seperti kalian.

Emak, pesen gue; jangan terlalu sibuk kerja yah... Kasian udah nenek-nenek (dan gue kakeknya)..
Buncis, belajar move on *eaa* *padahal gue juga sama* someday pasti ada pangeran berkuda putih yang jemput Ncis dan gandeng Ncis ke depan altar kok.

Udah ya, gue bingung woii.. Ini kan hari pertama. Jadi maklum yah. Besok gue nulis lagi deh yang lebih bener. Hahaha...

Edu sayang kalian berdua *tsahhh*


===============
Edutria, 2011. 30 days of writing. Seriously, too many memories I can't write down here. I don't know why. Hahaha... Maybe I'm grateful have best friends like them. Thank God for my beautiful life :)