Saturday, July 30, 2011

30 Days of Writing

Hai, halo apa kabar...
Pasti ada yang bertanya apa itu 30 days of writing. Jadi, saya sempat mampir ke blog Ijotoska, salah seorang teman di twitter. Dia memposting tulisan-tulisannya yang menurut saya menarik, setiap hari selama 30 hari tentang orang-orang yang memberi warna buat hidupnya. Lantas, ketika membaca satu persatu list yang kebetulan ditulis di sidebar, kok rasa-rasanya saya juga kepingin untuk bikin tulisan sejenis. Mengasyikkan sekali menulis tentang orang tua, kakak/adik, sahabat, gebetan, malah sampai ke mantan pacar.
Eh kemudian terlintas di benak saya, bisa ga nanti nulis sampai selesai 30 hari, secara kadang saya tiba-tiba malas. Iya, kayanya males itu yang sering nongol pas saya lagi seneng-senengnya nulis di blog. Kemarin, ada rencana untuk nulis 3 postingan baru tapi belum ada satu pun yang akhirnya diketik. Hahaha... Tapi kalau males terus-terusan juga ga bagus sih. Ini blog bisa makin angker aja ditinggal pemilik.. *halah*
Oke, jadi saya akan nyoba untuk ambil tantangan 30 hari menulis ini. Hmm, kalo teman-teman mau nyoba bisa juga lho. Rasanya kaya semacam terapi buat diri sendiri. Karena saya pikir, kita bisa mengungkapkan sesuatu yang mungkin selama ini ga kita sadari terlalu lama dipendam atau disimpan sendiri. Ga ada salahnya kok untuk ditulis.
Ini list yang saya ambil dari blognya Toska:

30 days of writing
Day 1 — Your Best Friend
Day 2 — Your Crush
Day 3— Your parents
Day 4 — Your sibling (or closest relative)
Day 5 — Your dreams
Day 6 — A stranger
Day 7 — Your Ex-boyfriend/girlfriend/love/crush
Day 8 — Your favorite internet friend
Day 9 — Someone you wish you could meet
Day 10 — Someone you don’t talk to as much as you’d like to
Day 11 — A Deceased person you wish you could talk to
Day 12 — The person you hate most/caused you a lot of pain
Day 13 — Someone you wish could forgive you
Day 14 — Someone you’ve drifted away from
Day 15 — The person you miss the most
Day 16 — Someone that’s not in your state/country
Day 17 — Someone from your childhood
Day 18 — The person that you wish you could be
Day 19 — Someone that pesters your mind—good or bad
Day 20 — The one that broke your heart the hardest
Day 21 — Someone you judged by their first impression
Day 22 — Someone you want to give a second chance to
Day 23 — The last person you kissed
Day 24 — The person that gave you your favorite memory
Day 25 — The person you know that is going through the worst of times
Day 26 — The last person you made a pinky promise to
Day 27 — The friendliest person you knew for only one day
Day 28 — Someone that changed your life
Day 29 — The person that you want tell everything to, but too afraid to
Day 30 — Your reflection in the mirror
Ah, saya jadi bersemangat untuk segera mulai. Semoga ga mandek ditengah-tengah. Yuk, teman mari menulis...


===========
Edutria, 2011. Meja kantor, weekend (lebih tepatnya lembur).

Friday, July 15, 2011

Kepada Kamu,

Untuk N dimana pun kamu berada,

Apa kabar, N? Rasanya baru hitungan hari kita sama-sama tak lagi menancapkan kaki di satu tempat yang sama. Kita telah memisah, bukan lagi satu melainkan dua. Semacam rasa asing menyergapku, memerangkap kemampuanku untuk berpikir atau tak bergerak sama sekali. Hari ini, aku berjalan seperti robot yang sama sekali tak bisa merasa. Aku memang masih bisa tersenyum. Namun entahlah, apa arti dari lengkung yang dulu terasa indah di bibirku.
Semua memang sudah tak sama, sejak hari itu. Ketahuilah, aku berusaha untuk tetap berdiri meski aku kepayahan. Aku hanya ingin terlihat lebih kuat di depanmu dan menyimpan rapat-rapat luka yang menganga karena kehilanganmu.
Aku masih terperangkap dalam perasaan yang sama ketika kita masih ada, berdua, berjalan dalam satu tujuan. Ah, aku pikir itu hanya harapanku saja. Nyatanya kamu memutus untuk pergi ketika tahu bahwa aku menyimpan sedikit harapan untuk menjadikanmu yang teristimewa.
Aku sendiri tidak pernah merasa bahwa ini salah. Aku pun tidak akan pernah meminta maaf untuk sebuah rasa yang aku sadari bukan aku yang memilih semua ini.
Kehilangan itu hampir seperti hantu yang sering datang waktu malam hari. Aku tersergap sepi, aku sendiri.
Aku bukannya takut atau tak bisa berbuat apa-apa. Aku telah merelakan dirimu untuk pergi. Mencari sepotong hati dari orang lain yang kau ingini selain aku.
Pun aku tidak ingin menangis, menyesali semua hal yang tadinya aku pikir ini hanya egoku. Hidup itu tersusun dari pilihan-pilihan dan konsekuensi. Ke kanan, atau ke kiri.
Ah sudahlah, pergi sajalah. Lebih baik begini. Atau memang caramu merindukanku adalah memutus jauh dariku? Aku tak tahu.

N, terima kasih untuk waktu-waktu yang kita habiskan berdua dulu. Tak pernah ada sesuatu yang harus kita sesali. Hidup bukan perkara menyesali sebuah hal, hidup adalah belajar mengerti tentang sebuah rasa syukur.
Dimana pun kamu berada saat ini, N, semoga Tuhan selalu menjaga dan menerangi jalan mu. Aku titip doa pada-Nya dari sini. Tak terbatas lewat udara, kukirim sedikit rindu untuk sampai ke tempatmu.

Aku tidak ingin dirasa, atau dilihat. Aku ingin menyaru jadi udara, lalu angin yang akan berhembus untuk menyejukkan siangmu yang terik. Atau berubah jadi air lalu kau minum, sekedar membasahi tenggorokanmu yang kering.
Kini, aku telah membebaskan kamu pergi. Aku tidak ingin mengikat kamu lebih lama lagi. Suatu hari, entah kapan, aku percaya kita akan bertemu lagi.
Semoga kita menjadi seorang manusia yang baru, dan lebih baik dari hari ini. Untuk hatiku, jangan kau cemaskan itu. Aku lebih dari siap sejak pertama kali. Kusimpan semua di sini, lalu nanti akan aku kunci.

Sampai jumpa, Nan.
Salam hangat untuk seseorang yang ada di sampingmu.
Semoga ia bisa mencintaimu, lebih baik dari aku dengan caranya.


===================
Edutria, 2011. Sampah kata-kata. Sendiri juga bingung ini surat arahnya kemana. Tidak jelas. Hahaha... :)

Memeluk Kamu

 
aku ingin memelukmu sekali ini,
di tempat kita bertemu pertama kali.

aku ingin memelukmu sekali ini,
menuntaskan rindu yang lama mengendap di relung hati.

aku ingin memelukmu, tak cukup hanya sekali.
agar kamu mengerti, bahwa cinta telah lama hadir di sini.

aku ingin memelukmu bukan cuma hari ini,
esok, lusa, bahkan hingga nanti ketika aku telah mati...

aku hanya ingin memelukmu,
membisikkan sepotong doa untuk kamu,
dan itu sudah cukup.

=============
Edutria, 2011. Ruang kerja sebuah kantor. Saya rindu.

Monday, July 4, 2011

Jajan, Jalan, Jakarta

Kemarin, ceritanya saya dan sahabat lama saya yang notabene adalah #LDRUnite dan saya sendiri adalah seorang #JombloFragile *eaaa* sedang dalam masa-masa galau-galau unyu karena terpisah dari pasangan (kalo saya sih gebetan ya), kita sepakat untuk mencari tambatan hati yang lain hiburan di luar cangkang kerang kita ini. Duh, tapi ya namanya Jakarta dan secara kita bosen juga kalo cuma ngider-ngider ga jelas dari mall satu ke yang lain, alhasil sempet bingung mau kemana. Ah, Jakarta kan lagi punya acara seru. Bukan Jakarta Great Sale yah, tolong dicatet. Kita lagi dalam tahap diet dompet dan termasuk orang yang gampangan suka ijo liat barang bagus di mall. Mending minggir deh. Hahaha.. mau ke Pekan Raya Jakarta, tapi kok ya males. Selain jauh dan pasti bakal rempong di sana, saya kemarin kan udah kencan sama gebetan maen-maen ke Peerjeh. *ciyeeeee*
Aha! *oh stop, ini bukan merek provider internet ya* ini postingan berbayar maen-maenlah kita ke Senayan, kan ada Pesta Buku Jakarta 2011. Wahahahaaa, kalo yang ini jelas bakalan jebolin dompet saya. Maklum, saya bisa kalap tiap kali masuk bookstore dan terpampang tag gede "SALE NOW ON". Hiyaaaaa, di sini pasti bakal lebih lapar mata karena diskon sama harga bukunya gilaaa... murah banget. Tapi catet ya, belinya langsung di masing-masing publishernya, biasa ada special price. Kalo yang udah masuk ke stand bookstore biasanya pelit diskon.. *ssstttt...*
Muter-muter ga jelas, keluar masuk stand di Istora, tetep saya ga ketemu buku yang pengen saya beli. Ada sih, tapi saya keburu pre-order online yang dapet tanda tangan penulisnya. Huwaaa... Jadi kali ini ya cuman maen-maen aja. Eh, tapi dapet goodie bag sih dari salah satu Lembaga pemerintahan *hihihihihihi... saya masih menganut prinsip anak kost.* jadi, keluar dari situ ya tetep nenteng gratisan.
Agak cranky sebenernya, karena stand yang menjual makanan atau foodcourt kurang memadai di area pameran. Duh, sempet keliling-keliling berharap dapet makanan yang unik tapi ndak ketemu. Ada sih, tapi mood keburu ilang karena tempatnya yang agak kotor dan sumpek gitu. Variasinya juga kaya warteg. *sombong* Ehm..
Jengjengjeng... memang kita ditakdirkan harus ngemoll lagi buat nyari makan. Hahahaha... *eaaa, katanya ga mau ke mall*
Ngacirlah kita ke Plasa Semanggi setelah sebelumnya ribut mau ke mall yang mana. Oke, aturannya cuman satu, ga boleh pesen nasi goreng! *kayanya ini menu default hampir semua resto/kafe shop/foodcourt* dan ga boleh ke resto-yang-pake-nunggu-lama-tapi-harus-bayar-makanannya-dulu-ituh *tebak sendiri ya*.
Eh, di foodcourt saya nemuin apa sodara-sodara? Aawwww... YOSHINOYA!! *ini ngetiknya ga sante* Sebuah restoran cepat saji dari Jepang yang baru buka cabang di Jakarta, udah masuk Plangi rupanya. Beklah, mari kita coba. Oh ya, tips makan di foodcourt itu mending nyari tempat yang enak dulu deh. Baru satu pesen, satu jagain. Kita milihnya kemarin sih yang deket jendela dan view Jalan Gatot Subroto *the longest parking park on the road at Jakarta [baca: macet]*
Saya memilih menu Beef Bowl Yakiniku ditambah gorengan ayam/udang (optional) jadi bisa milih sesuai selera. Menunya  lumayan variatif dan harganya pas di kantong. Bahkan porsinya bisa diupsize lho dengan menambah berapa ribu saja. Voila! Saya coba untuk sekalian upsize, dan ternyata besar ya bu. Dagingnya banyak dan enak.
Saya suka potongan dagingnya khas Yakiniku yang tipis dan memanjang tapi tetap empuk dan lembut ketika digigit. Rasa masakannya sendiri sih ya standar kaya masakan Jepang di resto lain hanya yang ini sepertinya udah disesuaikan dengan lidah Indonesia.
Tapi kaldu supnya menurut saya punya rasa yang unik dan enak. Ih, kepengen nambah lagi. *dilempar mangkok*. Cuman, itu minuman default beneran Ocha atau apa sih, kok kaya teh hijau kebanyakan aer. Overall, cukup puas dengan harga Rp 40.000 (termasuk PPN) dengan rasa yang pas dan porsi yang nendang.
Ada satu lagi nih sebelum tulisan ini jadi kepanjangan dan berubah wujud seperti novel *eh*, saya dan sahabat saya, Siska *biasa sih saya panggil Buncis* sempet heboh karena ngiler sama sesuatu di hadapan kita.
ES TEH JUMBO. Huahahaha, kayanya biasa aja ya. Tapi sumpah ini tampilannya racun banget dengan gelas ukuran gaban dan segede gentong sakseus buat kita heboh buat nyari dimana belinya. Harganya? beneran murah. Cuma Rp 4.000!! Demi apah!! Di warteg aja belom tentu kali ya segede gitu empat rebet. Sikatttt!
Errr, tapi ini bikin Buncis ngomel ketika pesen. Karena ternyata harga semurah itu harus plus pesan makanan. Huahahahahaha... Mampus kalian berdua anak-kost-yang-mengidolakan-harga-murah! Jadilah, kami terpaksa memesan satu piring French Fries, which is baru kami tau juga nanti kalo porsinya juga edan gede banget. Sepiring besar penuh cuman RP 12.000. Hidup anak-kost-yang-punya-prinsip-harga-murah-dapet-banyak!
Makan besar ini ceritanya. Satu meja kok penuh sama makanan. Atau mungkin inikah efek kegalauan kita berdua karena jauh dari seseorang *srrrootttt*. Eh, si Buncis pake acara mau pesen makan lagi. *untungnya sih ga jadi*
Ngobrol ngalor ngidul, mulai dari soal tantangan jalan di jembatan Shirotol Mustakim TransJakarta Gatsu-Benhil yang "terima kasih loh itu buat yang ngedesain panjangnya ga karuan", caranya: beli tiket di seberang Gatsu, dan naik koridor 1 di Benhil. Jengjeng... iyah, kami berdua memang kurang kerjaan tapi (untungnya) masih bisa berpikir jernih untuk hal itu. Lalu, bok sumpah ya bok, dua orang galau itu ga semestinya dijadiin satu. Ujung-ujungnya pasti curhat dan curhat. Sedikit bumbu bisa jadi drama itu
Memang ga kerasa sih waktu curhat-curhatan. Tau-tau udah dua jam duduk di situ, tapi kentang goreng sama es tehnya masih ada. Kamprettt, beneran porsi anak kost ga makan seminggu ini mah. Ya sudahlah, kita pulang saja, dengan hati riang dan perut kenyang. Udah gitu doang.

Lah, terus apa yang mau elu sampein sama pembaca, Ed? Ga ada. Kan cuman mau pamer nulis doang. Intinya yah, kalo lagi galau cari temen yang bisa ngebantu kita buat semangat lagi. Mood berantakan ya mending makan atau coba have fun aja deh kaya kita. Urusan diet mah entar-entar aja. Ngapain pusing, toh kalo udah di jalur yang bener lagi bakalan lebih indah bukan? BUKAN. Ya, sekian. Ga usah protes. Protes mbayar.

*pembaca pun kecewa*

===========
Edutria, 2011. Eh yaoliii bisa juga gue nulis tanpa harus jadi galau ginih. *kasih piala ke diri sendiri*