Friday, April 1, 2011

Surat Untuk yang Terlarang

 "ketika cinta tak memilih jenis kelamin, cinta pun menjadi terlarang" -Andrei Aksana (novel)

dear Kamu yang-tak-perlu-kusebut-nama...


Ini adalah surat ketujuh untukmu. Rasanya baru kemarin kita berdua saling mendekat dan kini bertolak belakang 360 derajat, saling menjauh. Masihkah kamu memperdebatkan perasaanmu sendiri? Atau telah menerima keberadaan dirimu yang sebenarnya? Masihkah kau seperti dulu, 365 hari yang lalu saat kau kembali mempertanyakan untuk apa sesungguhnya kita, aku dan kamu memulai semua ini. Don't you?
Ini memang berat, ketika aku harus memulai menulis surat seperti ini, setelah beberapa suratku kemarin menceritakan atau sedikit mengenang cerita manis kita dahulu. Aku janji, ini hanya sekali. Toh, hidup juga tidak akan berwarna kan seandainya ia berjalan statis, terus manis, tak ada tangis? Tentunya sebuah coklat bar juga kurang enak jika ia hanya manis tanpa sedikit rasa pahit?
Oh, ya.. Kali ini aku harus jujur. Tujuanku menulis surat-surat itu, termasuk yang terakhir ini adalah salah satu upayaku untuk terus maju, move on, dan membuka lembar yang baru. Betapa sulit, aku harus berjalan sendiri, menutupi semua yang terjadi. Dari situ, aku harus membebaskan hatiku dari keterikatan dan candu yang terus menggelegak akan dirimu. Tidak, aku memang tidak akan melupakanmu. Aku hanya mencoba untuk mengatur kembali semua perasaanku tentang semuanya.
Masihkah kau tetap menjadi seorang denial? Menafikkan semua, dirimu yang sesungguhnya? Semoga hari ini, kau bukan lagi sosok yang seperti itu. Masih sakit rasanya, pagi itu, setelah jalin-jalin cinta yang mulai mengakar begitu kuat, seakan tercerabut paksa oleh ucapanmu. Seolah, kata sayang, cinta, yang dulu pernah keluar dari mulutmu hanya sebuah pemanis bibir untuk kelangsungan hubungan kita. Ah, sudahlah tidak perlu dibahas lagi. Aku sudah mengerti. Kalau aku tetap bisa mencintaimu, mungkin karena memang aku begitu. Tak perlu balasan untuk dicintai. Tenang saja.
Pada akhirnya, aku hanya mengkhawatirkan dirimu yang terus tenggelam dalam tempurung dan cangkang kura-kura itu. Kita mungkin dianggap berbeda dan tidak wajar dengan manusia-manusia di luar sana. Namun aku yakin, Tuhan tetap menyayangi kita, seperti apapun diri kita. Dia, Yang Di Atas sana tahu persis siapa diri kita sebenarnya.
Menjadi denial untuk diri sendiri, rasanya hanya akan menyiksa batinmu. Bukan orang lain. Mereka hanya bisa mencibir, memandang sebelah mata, dan menghina dina kita berdua seperti sampah yang memang seharusnya harus dibuang. Munafik, mungkin. Dengan dogma dan doktrin agama, mereka seperti memvonis kita, kaum minoritas yang sebenarnya perlu juga dirangkul untuk tetap hidup bersama-sama bukan dikucilkan.
Aku sendiri memang sudah mengalami yang seperti itu, hei Kamu-yang-tak-perlu-kusebut-nama. Bahkan jauh lebih sakit. Menyadari bahwa diriku berbeda dengan manusia yang menganggap diri mereka lebih baik dan... NORMAL? Ah lucu sekali. Tidak apa-apa, semua ada masanya. Aku mendapat ganti dengan mereka yang benar-benar baik dan mau menerima apa adanya diriku. Teman-teman dan sahabat yang terus ada hingga saat ini. Mungkin juga kamu.
Jangan sedih ya. Aku tahu mungkin menyadari diri kita yang "berbeda" pada saat itu kelihatannya membuatmu jatuh. Ingat, jika kamu masih bisa bersyukur dengan keadaanmu, setidaknya jangan menafiki dirimu sendiri, itu jauh lebih baik. Barangkali, Tuhan Di Atas Sana tidak akan pernah mau menghukum kita. Aku yakin, Dia, tetap ada di samping kita, mencintai kita sebagai anak-anakNya lebih dari cukup.
Apakah kau menyesal pernah memutuskan untuk menjalin hubungan yang seperti ini? Aku tidak. Bukankah cinta itu universal? Tak terbatas apapun? Semua orang bisa merasakannya. Hanya, kebetulan kita berada dalam gender yang sama. Namun, tak pernah meminta untuk terlahir ke dunia dengan keadaan yang begini. Aku tetap bersyukur untuk itu. Pun tidak menyalahkan siapa-siapa, apalagi takdir.

Kalau saat ini, detik ini, kau belum bisa untuk menerima keadaan yang sebenarnya, tidak apa-apa. Semua itu berproses. Prosesku memang telah aku lalui, itu pun harus jatuh bangun. Aku juga dulu sepertimu, seorang denial. Denial sejati yang berpura-pura seperti manusia-manusia yang mengaku baik di luar sana hanya untuk sebatas pengakuan. Lalu apa? Aku hanya seperti robot. Tidak pernah ada rasa bahagia. Mati rasa. Malah aku hanya menyakiti mereka-mereka yang pernah mengharapkanku, mencintaiku lebih dari diriku mencintainya. Itu dulu.

Kamu, Yang-tak-perlu-kusebut-nama, semoga bisa mengerti surat ini. Aku tidak minta apa-apa. Terpenting dari semuanya, seperti yang aku bilang dari awal, aku sedikit berbagi pengalaman yang dulu tak sempat kita pernah bicarakan karena kenyataan yang berkata sebaliknya.

Oh, ya aku juga belum call-out dengan keluargaku. Tidak perlu mungkin. Biarlah waktu nanti yang akan mengabarkan semuanya. Semoga itu di saat yang tepat.

Kalau memang aku seorang "berbeda", terus kenapa? Bukankah aku juga manusia?

Selamat malam, Kekasih hati. Semoga surat ini bisa jadi semacam refleksi untuk kita. Aku senang sekali jika kita bisa sharing kapan-kapan...


Salam sayang, Monyetgombal



==========================
Edutria, 2011. Tentang sebuah masa dan pengungkapan. Surat sebelumnya bisa dibaca di sini
Ps: baca dengan rasa dan lihat dengan hati.

No comments:

Post a Comment