Friday, February 4, 2011

Di Depan Pintu Gereja


Untuk Pemilik Segala yang aku panggil dengan sebutan Bapa...

Hari ini, sebuah pesan membawaku kembali ke rumahmu, Bapa. Sebuah tempat yang selama lebih dari setahun tidak pernah aku singgahi. Pun datang hanya untuk sekadar menangkupkan kedua tangan dan berdoa rasanya aku malas.
Bapa, akhir-akhir ini aku terlalu jauh berjalan di luar jalanMu. Tersuruk semakin dalam kehidupan duniawi yang menurutku bukan bertambah baik, tetapi hanya berhenti, berjalan ditempat atau jatuh di lubang yang sama.
Aku tidak mengerti pada awalnya mengapa bisa seperti ini. Baru perlahan aku tersadarkan bahwa aku memang pernah merasakan kecewa atau semacam kebingungan terhadap diri sendiri terlebih tentang mana yang harus aku percaya.
Banyak sekali, Bapa. Engkau pasti mengerti. Namun, bukannya aku berusaha untuk semakin dekat, aku malah berjalan menjauh dari hadapanMu.
Hari ini, aku kembali. Ada geletar kerinduan yang menghebat dari hatiku. Bahwa, sejauh-jauhnya aku melangkah pada akhirnya aku akan tetap tersadar; masih ada Bapa yang selalu mau menampung segala hal baik dan buruk dalam hidup pribadiku.
Rasanya tenang, Bapa akhirnya aku bisa berlutut dan menangkupkan kedua tangan, membuat tanda Salib pada dahiku, mendaraskan untaian doa di hadapan altar itu. Hampir-hampir aku menangis haru karena sejatinya adalah kerinduanku akan Engkau yang selalu setia mencintaiku tanpa batas.
Aku malu, Bapa. Aku hanya bisa tertunduk. Semoga aku tetap selalu bisa untuk berjalan dengan baik di jalanMu. Sulit, tetapi sebisa yang terbaik aku akan berusaha.

Lonceng gereja itu masih sama, Bapa. Ruangan besar ini pun sama... Namun, tetap akan ada hal-hal ajaib yang terasa ketika aku berjalan masuk perlahan dengan khidmat. Ada damai dan sukacita untukku...

Terima kasih, Bapa. Terima kasih, Tuhan...


Dari aku, anakMu yang ingin kembali


========================
Edutria, 2011. Kumpulan surat-surat cinta yang lain bisa dibaca di sini

Untuk Lana


Teruntuk Lana, sebuah cahaya...
"Not sure if you know this, but when we first met, I got so nervous I couldn't speak. In that very moment I found the one and my life had found its missing piece." -Shayne Ward | Beautiful in White
Siapapun nama aslimu, aku lebih suka memanggilmu dengan sebutan Lana yang berarti Cahaya. Bukan tanpa sebab dan maksud hingga aku memilih nama tersebut. Sebuah nama Yunani (source) yang aku rasa lebih cocok artinya untuk dirimu. Arti lainnya adalah 'mengapung' (Polynesia).
Tahukah kamu, beberapa malam setelah kita bertemu tanpa sengaja di dalam bus kota, seperti ada gaung yang terasa di dada. Aku sendiri tidak tahu itu apa. Namun yang jelas, semacam geletar-geletar aneh yang mulai merambat makin dalam hingga dasar jiwa.
Kita sering berpapasan, duduk berdampingan tetapi bahkan kita tak saling kenal nama. Rumahmu dan rumahku hanya berjarak lebih kurang 200 meter dan kita tetap tak saling mengenal? Rasanya segudang kesibukan memaksa kita untuk menjadi seorang yang individualis atau tak peduli dengan keadaan sekitar.
Hei, tapi aku merasa bahwa kita berdua sama-sama tahu. Mengenal lewat muka atau bahkan sebenarnya kita memang ingin saling menyapa. Semoga ini bukan perasaan salah satu pihak saja, itu aku.
Apakah kamu mendengar degup jantung yang bertalu-talu tadi pagi, saat kita duduk berdampingan (kembali) untuk yang entah berapa kali, rasanya kita berdua sering dihadapkan pada keadaan yang demikian. I got so nervous, you know? Sesering kau atau mungkin aku yang tiba-tiba mendekat dan memilih tempat duduk yang sama. Lama kelamaan jadi seperti disengaja, ya? Hahaha... tapi tetap saja kita berdua duduk diam, terpaku ke arah layar handphone masing-masing, walau sama-sama saling melirik dan mencuri-curi pandang satu sama lain.
Hanya mungkin aku yang tak bisa menahan diriku untuk selalu tersenyum ke arahmu atau... sebuah senyum yang tidak jelas menurutku. Grogi berlebihan membuatku tampak bodoh di depanmu. Ya, itu aku, Lana.
Segera ku ketik sebuah tweet tadi, sengaja aku taruh handphone di depan, siapa tahu kamu ikut baca. Hahaha... sebuah trik jitu aku pikir...
'Err.. punya twitter ga? Boleh kenalan?', tulis Edu di layar hp berharap sebelahnya ikut baca. #eaa #mimisansebaskom -@edutria
Kelihatan bodoh kan. Kenapa tidak aku sapa langsung saja. Jujur, aku mulai memendam rasa dan menabung sedikit demi sedikit asa yang aku harap, kelak aku bisa menyapamu seperti seseorang yang telah kenal lama atau... jadi seseorang yang spesial di hatiku.
Lana, sebuah cahaya yang tiba-tiba hadir dalam hidupku ketika aku merasa terluka dan kecewa karena sebuah patah hati. Kau yang tidak berlebihan, sederhana tapi selalu menarik untukku. Aku memang seseorang yang suka hal-hal demikian. Sesuatu yang tampil terkesan berlebih dan dipaksakan, malah akan mengurangi penilaianku meski sesuatu itu jadi lebih 'menarik'. Eh, 'menarik' kataku? Tidak. Itu malah artifisial, dan  yang sederhana membuatku bisa mengeskplor lebih dalam kelebihan-kelebihan yang ada di dalam.

Lana, dan cahaya itu muncul darimu. Hampir sama persis sebuah kunci kecil yang akhirnya bisa membuka kembali pintu hati yang lama telah terkunci, tertutup rapat bahkan dipenuhi sarang laba-laba.
Kamu, menghidupkan kembali sebuah hati yang lama tidak bisa merasa sebuah cinta. Asaku semoga sama denganmu walau aku tak tahu kapan akhirnya kita bisa bertukar suara, berbagi cerita.

Pasti ada saatnya. Di sebuah ruang dan waktu yang tak terduga...


Salam manis,
Lelaki yang selalu duduk di bangku sebelahmu.


==================
Edutria, 2011. Kumpulan surat-surat cinta yang lain bisa dibaca di sini