Monday, January 24, 2011

Perahu Kertas dan Aku

photo courtesy by. Google.com
...Perahu kertas bergoyang sendirian...

(kalimat terakhir pada novel Perahu Kertas)
Untuk seorang Dee Lestari...

Surat ini tidak akan berbentuk seperti kertas kecil yang dilipat menjadi perahu. Tidak sama dengan surat yang selalu Kugy tulis setiap hari untuk Dewa Neptunus kemudian dihanyutkan ke sungai atau laut. Namun, surat ini adalah sebuah sapa dan upaya dari saya untuk sedikit berbagi dengan Mbak Dee.
Kita memang belum pernah mengenal muka, atau bertanya nama. Satu hal, saya pasti akan bilang kalau saya yang sedikit mengenal seorang Dee lewat karya-karyanya terlebih dulu. Maaf, tulisan saya kadang awut-awutan. Tidak jelas dan sedikit ngelantur. Jujur, saya juga agak grogi ketika harus menulis kalimat-kalimat dalam surat ini.
Sedikit banyak, awalnya saya mengenal seorang Dee Lestari adalah penyanyi dari Trio RSD. Belum tahu juga pada akhirnya, seorang Dee Lestari itu penulis berbakat.
Ketika saya beranjak SMA, Supernova menjadi buah bibir diantara kami, para pelajar di kota kecil jauh dari Jakarta. Penasaran membuat saya tertarik untuk meminjam novel tersebut dari perpustakaan. Awalnya njelimet, susah dimengerti oleh kapasitas otak saya ini. Tapi seperti ada dorongan yang kuat untuk saya menyelesaikan buku itu dan berlanjut ke seri lainnya. Ini awal saya menyukai dan semakin penasaran dengan tulisan cerdas seorang Dee Lestari. Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, lalu Akar dan walau saya tak sempat untuk membaca seri terakhir Petir. (Apakah masih mungkin saya membeli di toko buku?)
Perahu Kertas, sebuah novel yang pada akhirnya saya baca awal-awal tahun 2010. Novel yang membuat saya semakin tenggelam dalam lautan inspirasi. Membuat saya menangis, terhempas sampai titik terdalam, ketika menyelesaikan bagian terakhir novel tersebut. Semacam menjadi sebuah dorongan untuk diri sendiri bahwa novel ini punya andil yang besar. Saya mengerti apa itu mimpi, mencintai dan akhirnya belajar melepaskan. Dan poin utama untuk saya adalah belajar menjadi diri sendiri walaupun kadang harus berputar jalan. Waktu itu saya baru putus cinta juga sih, jadi kerasanya ini novel gue banget. Maaf sedikit colongan yang bocor.
Novel ini pula yang menyemangati diri saya untuk kembali menulis tentang apapun di blog pribadi yang lama telah mati suri. Entah bagaimana saya berterimakasih untuk seorang Dee Lestari. Namun saya percaya, tulisan ini, apresiasi saya terhadap Mbak Dee mungkin adalah salah satu cara ke arah sana. Sebuah terima kasih dari pembaca untuk penulis favoritnya.

Maaf, Mbak, jadi kepanjangan. Bosan, ya? Hahaha... Saya memang sedang belajar menulis dengan baik. Jadi, ya sering keluar dari konteks. Tapi ini jujur kok, Mbak. Yang terakhir, tetap menginspirasi banyak orang ya, Mbak dengan tulisan-tulisan dan karya-karyanya.

Terima kasih, Dee Lestari.

...malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya...


Salam, seorang Penggemar di sudut Jakarta
(untuk @deelestari)

Ps: Perahu Kertas sudah saya baca kurang lebih 3 kali, dan Recto Verso mungkin lebih dari itu.
Ps (lagi): boleh tidak saya minta tanda tangan kapan-kapan? Hihihi... Kemarin dulu, waktu mention saya di-reply itu sudah lebih dari senang. xD



====================
Edutria, 2011. Deg-degan ya guys nulis surat ke penulis favorit. Ehemmm... *blushing*
Kumpulan surat-surat sebelumnya bisa dibaca di sini

No comments:

Post a Comment