Saturday, January 22, 2011

Penjual Kacang dan Trotoar Jalan

photo courtesy by. Google.com
 sebuah petang di jantung kota Yogyakarta

untuk Manusia-manusia yang menginspirasiku menulis surat ini
Kaki melangkah perlahan keluar dari Stasiun Tugu yang ada di jantung kota. Ransel ukuran sedang menggantung di punggung. Selepas empat lebih berkereta dari sebuah kota lain di Jawa Timur.
Seperti biasa aku melenggang bebas, melihat kesana kemari, sambil menikmati malam di kota gudeg. Meski, banyak tukang-tukang ojek yang menawarkan jasa mereka atau taksi yang sudah siap membuka pintu mengantar tempat yang aku tuju, satu jam dari Yogya ke arah utara, Magelang. Aku ingin sejenak melepas lelah dan mengisi perut
Menapaki jalan Malioboro yang sudah terkenal di seluruh Indonesia, rasa-rasanya seperti melemparkan aku pada kenangan yang telah lalu. Silih berganti datang dan pergi.
Menikmati Yogyakarta pada waktu malam, memang menyajikan ceritanya sendiri. Selalu ada yang membuatku ingin kembali menjejak langkah di sini.
Mataku, tetiba mengarah pada seorang sosok tua di sebuah trotoar jalan di seberang Stasiun tempatku berdiri. Seorang Bapak tua yang berjualan jagung dan kacang rebus. Dagangannya masih banyak. Mungkin sedang sepi, karena aku lihat saat itu belum ada orang lewat yang membeli dagangannya.
Mataku menatap nanar. Mulai timbul iba dalam hatiku. Ya, aku kadang tidak tega untuk melihat hal-hal yang seperti ini. Sebisaku membantu.
Seorang laki-laki tua yang entah mengapa, mengingatkan aku pada sosok Bapakku. Sosok yang menyayangi dan ingin memberikan semua yang terbaik untuk anak-anaknya. Seorang Bapak yang terkadang menjadi sasaran protesku, anaknya hanya karena tidak sependapat dengan pemikirannya.
Sekelebatan bayangan orang tuaku, Bapakku, Ibuku mulai hadir dalam pikiranku. Hingga detik ini, masih sering aku menyusahkan mereka atau mungkin membuat kecewa mereka. Kedua orang tua yang berlelah-lelah memenuhi ekonomi keluarga yang pas-pasan, meski juga tidak kekurangan. Namun, di lain pihak aku seperti kurang bersyukur dengan semuanya.
Aku yang merantau jauh dari mereka, kadang seperti lupa terhadap kehadirannya karena ditelan segunung aktifitas dan kegiatan rutin hari-hari. Aku lupa untuk sejenak menelepon mereka berdua yang jauh terpisah di kampung halaman dan malah asyik tenggelam dalam kesenanganku sendiri. Kadang harus mereka yang mengangkat gagang telepon dan menyapaku terlebih dulu. Ah, aku seperti ditempelak keras oleh semua ini. Aku tahu, mereka cuma ingin mendengar suaraku, anak laki-lakinya sekadar untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja. Seperti pesan Bapak dan Ibu, "seminggu sekalilah kamu sempatkan telepon. Kami sudah lega jika mendengar kamu baik-baik saja."
Seminggu sekali yang kadang lupa untuk kulakukan. Seminggu yang pasti ditunggu oleh Bapak, suaraku di ujung telepon. Aku malu. Karena aku seakan lupa.
Bapak penjual kacang tanah itu kini di depanku. Aku membeli beberapa bungkus kacang rebus, yang kutahu itu tak mungkin habis sendiri. Tidak apa-apa masih mungkin untuk dihangatkan besok.
Anak bapak ini, rupanya menjadi salah seorang buruh migran di Dubai. Anak satu-satunya. Aku merasa miris. Bapak ini bahkan harus menabung rindu bertahun-tahun untuk sekedar bertemu fisik dengan buah hatinya. Dan aku, yang sebegitu dekatnya, 500 kilometer dari rumah, bahkan untuk bertegur sapa dengan Bapak Ibu di ujung telepon pun aku seakan enggan. Aku semakin merasa aku ini berdosa.
Segera kubayar kacang rebus dengan agak aku lebihkan uangnya. Kuputuskan bahwa malam ini, aku harus segera pulang. Ke Magelang. Aku menghentikan taksi di depan Malioboro. Tak masalah berapa harus kubayar. Paling penting, aku ingin bertemu dengan orang tuaku dan memeluk mereka satu per satu. Aku ingin berusaha untuk menjadi seorang anak yang lebih berbakti lagi terhadap mereka. Tidak belum terlambat. Sebisa yang terbaik dari hidupku itu akan kulakukan.

Terima kasih, Bapak penjual kacang rebus yang tak kutahu siapa namamu. Malam ini, aku mendapat sebuah pelajaran berharga bahwa aku mestinya bersyukur masih dekat dengan orang tua dan diberi kesempatan untuk membahagiakan mereka... Aku janji! Pada diriku sendiri, dan Di Atas Sana yang menjadi saksi.


Selamat malam, dari Anak Lelakimu



=========================
Edutria, 2011. Untuk waktu-waktu yang indah dekat dengan Bapak dan Ibu.
Kumpulan surat-surat yang lain bisa dibaca di sini

No comments:

Post a Comment