Sunday, January 16, 2011

Jatuh Rindu di Uluwatu

Langit Yogyakarta, GA 252

teruntuk Kecil...
Pesawatku kini mengangkasa. Meninggalkan kota Yogyakarta dengan sejuta keindahan dan ribuan kenangan di dalamnya.
Hari ini memang aku sengaja untuk skip dari sebuah tempat yang dahulu kita pernah saling memagut rindu di bawah pohon, suatu siang yang bermatahari cukup terik.
Kau pasti kaget, kemana aku akan pergi setelah ini. Iya, kan? Hahaha... Sejatinya aku ingin kembali ke tempat, tepatnya beberapa tempat yang pernah kita rencanakan untuk pergi tetapi kenyataan berkata lain.
Kau masih ingat, kita pun pernah membuat suatu catatan, kelak kita akan mengunjungi Pulau Dewata. Bali. Iya, aku pergi kesana. Kadang aku memang setengah gila untuk bisa memutuskan suatu hal dalam waktu singkat. Kuharap keputusan ini adalah baik adanya.
Katamu, kau ingin menikmati mentari yang terbit di ufuk timur, di sebuah tempat eksotis pulau ini. Maka, kuputuskan untuk membuka kembali buku harianku yang dahulu pernah aku tulis kemana kita ingin pergi. Seperti biasa, surat ini aku tulis di perjalanan agar nantinya begitu pesawat ini mendarat, aku bisa langsung ke kantor ekspedisi, hahaha... Hari gini, bukan cuma kantor Pos saja yang menerima pengiriman dokumen. Kau tahu, aku juga kan pernah bekerja di sebuah perusahaan kargo.Dan menurutku, ini lebih cepat sampai. Lobi-lobi lah dengan pegawainya, agar surat ini bisa selamat di tangan penerima dengan tepat waktu. Hahaha... ada untungnya juga kan? Kantorku juga buka cabang di Denpasar, jadi aku rasa ini tidak akan jadi masalah. Upps... maaf ini bukan korupsi, aku tetap membayar biaya pengiriman kok. Hanya, untuk surat-surat yang aku kirim aku menggunakan prioritas khusus. Iya, aku memang sedikit curang. Tidak apa-apa itu semua untuk kamu kok.
Jadi ngelantur. Aku akan mengunjungi Uluwatu. Sunrise dan sunset di tebing berbatu dekat Pura yang menjorok ke laut itu kabarnya sangat bagus. Ah, andai kau ada disini. Di sampingku, hingga aku bisa mendekapmu dari belakang menikmati semburat jingga di ufuk timur pada pagi hari.
Kau tahu, sampai aku tulis surat ini, aku dilanda kerinduan yang akut akan kehadiranmu. Terlalu akut, mungkin sudah stadium akhir yang mungkin akan tersembuhkan dengan kehadiranmu.
Seperti apa rasanya berdiri seorang diri di atas tebing beberapa puluh meter di atas laut ini. Surga kecil menurutku, setelah binar-binar mata dan senyuman indah milikmu.
Oh ya, mungkin akan banyak monyet-monyet lucu yang menghampiriku. Iya, banyak monyet di sekitar pura itu. Namun, aku harus berhati-hati juga karena mereka itu nakal. Suka dengan benda-benda yang menurut mereka asing dari tangan turis. Hahaha... eh, kenapa aku harus takut ya? Aku kan juga monyet. Monyetgombal tepatnya.
Kemudian, Uluwatu kini akan menyimpan sejuta rindu dariku yang telah kutitipkan pada monyet-monyet itu. Kelak, ketika kau kemari, ke tempat ini, hampiri mereka. Cari yang paling lucu diantara mereka, berilah mereka kacang atau pisang, jadi monyet lucu itu akan tahu bahwa kau, seseorang yang manis, telah datang untuk menjemput rindunya. Katakan terima kasih, mereka akan senang sekali.
Favoritku melihat sunrise dan sunset ada tak jauh dari Pura di atas bukit itu. Sebuah pojok yang sepi, namun hamparan samudra Indonesia yang luas dapat terlihat lebih jelas.180 derajat bila kau putar badanmu, keindahan Tuhan yang Maha Sempurna terekam jelas dalam kedua matamu. Cobalah.

Aku kemudian, barang beberapa hari akan menginap di sebuah hotel kecil di Ubud. Kau tahu? Aku tak begitu suka keramaian. Buatku, menginap di sekitaran Poppies Lane yang katanya gudangnya penginapan murah untuk backpacker ingusan macam aku, terlalu ramai dan menggangguku untuk kali ini menikmati Bali dengan caraku.
Aku lebih suka melihat sawah dengan teraseringnya yang buatku sangat memukau. Dengan Subak, sebuah sistem pengairan begitu masyarakat Bali menyebutnya, membuat sawah-sawah itu tak pernah kering bahkan menghijau di sepanjang tahun.
Di sini, rinduku padamu sudah tak bisa terbilang lagi. Antara rasa sedih karena kini cuma aku sendiri, tetapi pada kenyataannya aku pun juga harus memeram air mata mengenang tubuh kecilmu yang setahun lalu berhasil menaklukkan hatiku dengan senyum tulusmu.

Malam ini, beberapa jam setelah pesawat mendarat, atau lebih tepatnya setelah aku menapakkan langkah di Pulau Bali, aku ingin pergi ke Jimbaran. Iya, kau juga pernah mengutarakan niatmu untuk sekadar menikmati makan malam romantis berdua denganku di tepi pantai beratapkan bintang malam dan bulatnya bulan. Malam ini, memang tepat bulan purnama dimana bulan memang sedang bersinar penuh. Lagi, satu poin aku hanya bisa termangu memandang pasangan-pasangan lain yang tengah melepas rindu atau kulihat mereka asyik bercumbu. Kehadiranku yang seorang diri tidak terlalu mengganggu mereka mereguk manis cinta. Ku panggil seorang pengamen untuk menemaniku makan malam dengan lagu-lagu romantis yang dulu pernah kita dengar berdua. Aku jatuh. Jatuh rindu terhadap keterlibatanmu dalam setiap detik yang berlangsung dalam hidupku.

Sedang apa kau di sana, Kecil? Bosankah engkau menerima surat-suratku? Ini baru hari ketiga. 335 hari setelah kita sama-sama memutus menjauh. Tapi aku tetap di sini, menunggumu, ah tidak, mencintaimu lebih dari yang kau tahu. Kata masih, bukan ukuran yang tepat saat ini. Karena aku memang mencintaimu, dari dulu tak pernah berubah sampai saat ini.
Aku tak berharap lebih, ketika kita telah menjalani 335 hari ke belakang setelah kita sama-sama memisah jalan. Melanjutkan kembali kehidupan yang kadang antara batas mimpi dan kenyataan adalah sebuah garis yang menyakitkan. Aku tidak sedih, karena aku tetap bahagia. Tersenyum ya, Kecil.

Baiklah, rasanya surat ini akan terlalu panjang. Masih ada bagian lain dari Pulau Bali yang akan aku jelajahi berdasar catatan yang pernah kita tulis bersama dahulu. Sampai disini ya. Besok, aku akan menulis lagi surat untukmu. Semoga kau tidak mengakhiri kelangsungan hidup surat-surat ini dalam bak sampah. Yah, aku tidak bisa menjamin juga. Aku hanya berusaha.

Salam untuk seseorang yang mungkin kini ada di sampingmu. Semoga dirinya bisa mencintaimu dengan lebih baik.

Sampai jumpa esok, Kecil.

Salam sayang, Monyetgombal.



Ps: Kamu mau oleh-oleh apa? Pia Legong atau kaos dengan kata-kata unik itu?
Tapi jangan kau suruh aku membawa lumba-lumba lucu dari Lovina. Selain berat, aku bisa ditangkap di bandara. Gantungan kuncinya sih bolehlah... :p



======================
Edutria, 2011. Suatu senja dan bagian ketiga. Surat sebelumnya bisa dibaca di sini

No comments:

Post a Comment