Friday, January 21, 2011

Bertemu Muka di Blok M - Kota

photo courtesy by. Google.com
Kau, yang tak kutahu siapa namamu...

Bus TransJakarta melaju kencang. Melintas di koridor I sepanjang Blok M, Jalan Sudirman hingga tiba di Stasiun Kota. Sama seperti pagi-pagi sebelumnya, aku biasa antri ketika waktu menunjukkan pukul 08.00 tepat, hari Senin sampai Jumat. Kebiasaan yang entah aku mulai sejak kapan, rasanya itu bermula ketika perjumpaan kita yang pertama.
Kamu, yang kita pun belum sempat berkenalan, seperti sebuah candu yang mulai mempengaruhiku. Aku mulai terbiasa untuk tiba di halte Transjakarta, seperti dirimu tepat pada waktu yang sama. Memang, butuh penyesuaian juga pada awalnya hingga aku bisa menemukan jam-jam 'sakral' itu untuk sekedar melihat atau berbarengan satu bus denganmu. Iya, tak setiap hari juga sih kita bisa dalam satu bus yang sama. Kadang aku harus meninggalkanmu duluan atau sebaliknya pada esok hari. Yang jelas, antrian panjang tidak membuatku patah semangat ketika kamu berdiri tak jauh dari tempatku. Hahaha... aku mengambil jarak tak terlalu dekat, menurutku agar aku aman memandang dirimu lekat-lekat.
Kamu itu, sebenarnya sosok yang biasa. Tak terlihat menonjol. Sama seperti penumpang-penumpang yang lain. Namun, dalam benakku seperti ada sebuah geletar yang berbeda ketika untuk pertama kali kita beradu mata. Berpandangan, untuk jeda waktu yang lumayan lama.
Kamu, tak akan pernah tahu bahwa tatapan itu pada akhirnya membawa dampak yang besar untukku. Siapa namamu, mungkin tidak akan jadi hal yang penting. Begini saja, melihatmu itu sudah cukup. Aku tidak mencintaimu dengan hatiku. Aku hanya mengagumi sosokmu. Sederhana, murah senyum, dan dibalik tatapan mata yang dibalut kacamata itu aku bisa menangkap bahwa kamu, adalah seseorang yang jujur, tulus dan penuh kelembutan. Aku bisa rasakan di situ.
Pernah memang kita duduk saling bersebelahan. Kau tahu apa rasanya di posisiku? Aku sama sekali hanya bisa tertunduk malu, sambil menahan hatiku yang tiba-tiba bertalu-talu. Aku akhirnya hanya bisa tersenyum kecil sepanjang jalan dari Blok M hingga Mangga Besar. Itu tandanya aku yang meninggalkanmu lebih dulu. Kamu akan turun di halte terakhir, Stasiun Kota. Tak sengaja kucuri dengar pada suatu hari, kala kau menjawab panggilan teleponmu. Hahaha... Maaf aku terlalu lancang, kawan.
Kini, beberapa hari aku tak pernah melihatmu di halte lagi. Kemana ya? Atau gara-gara aku sedang sakit hingga tak bisa pergi bekerja seperti biasa? Semoga saja. Rasanya memang sedikit ada yang hilang. Tapi abaikanlah ini.
Aku hanya ingin memandangmu, sepanjang tak lebih dari 30 menit rute TransJakarta ke kantorku tiap hari. Mengetahui namamu pun aku tidak ingin (sebenarnya kalau pun bisa itu jadi bonus). Cukup aku jadi pengagum-amatiran yang setiap hari boleh melihat wajah bersih itu.
Iya, seseorang seperti kamu biasanya sudah punya tambatan hati. Tebakanku saja sih. Pernah kulihat kamu mesra dengan seseorang. Pasti itu pacarmu. Iya, kan?
Kau, yang selalu duduk di bagian kanan sebelah belakang, aku menunggumu muncul kembali di halte. Tidak, tidak, surat ini tidak ingin kuberikan padamu. Biarlah setiap pesan dan isi surat yang kutulis ini tersampaikan lewat perantara semesta dan takdir Sang Pencipta, entah kapan.
Terima kasih ya telah membuat perjalanan 30 menit yang kadang membosankan, jadi terasa lebih menyenangkan. Anggap saja aku pengecut. Tapi, suatu hari akan ada banyak cara untuk kita saling mengenal nama dan bertukar kata. Biarlah saat ini, hanya muka yang jadi cara untuk menyapa.

Sudah ya. Surat ini akan aku simpan. Besok, aku akan kembali datang tepat pukul 08.00 bahkan kurang dari itu, asal jalanan dari rumah ke terminal tidak begitu macet seperti tadi pagi. Siapa tahu, aku bisa melihatmu lagi. Hahaha...


Salam, Pengagum tatapan matamu

Ps: Hei, aku pernah sengaja meng-candid fotomu diam-diam. Hihihihi... maaf ya. Aku simpan di teleponku tidak akan kubagi dengan yang lain. :p


=====================
Edutria, 2011. Flirting itu menyenangkan... :D
Kumpulan surat-surat cinta lain bisa dibaca di sini

No comments:

Post a Comment