Saturday, January 15, 2011

Aku, Kamu, Kita Cerita Yogyakarta

Kereta api Taksaka, Stasiun Cirebon +4 dpl, tahun 2010

teruntuk adik Kecil...
Semoga surat kedua ini sampai dengan selamat di tempatmu. Sengaja aku menulis dalam perjalananku ke kota Yogyakarta. Aku, memang ingin kembali menjejakkan kaki di kota pelajar untuk barang sejenak melepas kepenatan. Ah, di satu sisi aku memang mengajakmu untuk mengenang cerita kita dahulu.
Pura-pura saja kau mau. Sebab, tak lucu pula kalau sebelum aku menulis surat ini, terlebih dahulu aku harus meminta pendapatmu. Iya, aku memang masih dalam perjalanan. Jarak lebih dari 500 kilometer rasanya telah biasa untuk aku. Hahaha... Jangan tersenyum, kau pasti mengejekku. Iya, kan? Aku asli Jawa, Magelang tepatnya. Rasa-rasanya, Jakarta - Yogyakarta pun seakan jarak yang biasa. Ratusan atau mungkin ribuan kali aku menapak langkah di sini, tetap tak sama ketika kau tak ada di sisi.
Kau juga merasakannya, kan? Menurutmu?

Keretaku masuk Stasiun Tugu tanggal 14. Tepat setahun lalu kita pernah menggamit lengan, bergandengan tangan, bertemu untuk pertama kalinya kita saling melepas rindu.
Kini, ku selusuri selasar panjang stasiun ini, bukan mencarimu. Iya, tak akan pernah juga keretamu masuk pada hari yang sama dengan hari ini. Sekadar aku ingin mencari atau mengais sisa-sisa kenangan yang mungkin tercecer alih-alih terbuang. Ah, pemulung pun tidak akan mau berlelah-lelah untuk mengambil seonggok kenangan yang mulai berdebu. "Tak laku dijual," katanya. Kalau pun laku, hanya untuk orang patah hati yang dilanda rindu macam aku.
Kau pasti tertawa-tawa membaca surat ini. Sengaja tak pernah mau kutulis aroma pilu agar kau tidak ikut tersedu sedan membaca kalimat-kalimatku. Aku hanya ingin sedikit bernostalgia denganmu. Tidak, jangan salah sangka dahulu. Aku hanya ingin menulis bahwa aku memang sejatinya ratu drama yang terlalu larut dalam buaian alur cerita.

Nah, perhatikan langkahmu. Sekali ini, pura-puralah kau sedang ikut tamasya yang aku ciptakan dalam ribuan karakter atau ratusan kalimat ini. Pakai sandal yang empuk, kita akan berjalan agak jauh.
Koridor mall ini, tentu kau masih ingat. Iya, kau tiba-tiba menggamit lenganku dan menyuruh aku berhenti di sebuah... kedai es krim. Hahaha, aku suka binar matamu siang itu. Mata yang jernih, membulat dan bersinar. Aku memang mencandu bola mata indahmu. Namun, sepertinya kau tidak terlalu suka karena kau berkacamata. Tidak mengapa, itu tak mengurangi kekagumanku akan binar matamu. Mungkin, ketika Tuhan menciptakanmu Dia membuat matamu itu dari kristal dengan kualitas yang paling baik. Atau malah bintang? Sudah, jangan protes. Aku tahu, kamu bukan seseorang yang suka kata-kata gombal. Hahaha... "Aku seperti monyetgombal," katamu.

Kecil, kini kuantar kau sekali lagi berkeliling Yogyakarta naik becak. Mumpung hari belum sore benar. Setelah itu, aku mengantarmu pulang. Tidak, aku tidak mengantarkan sampai depan gerbang pintu rumahmu di kota Malang. Belum saatnya; hingga sejatinya diriku yang akan mengetuk sendiri pintu depan rumahmu. Nanti. Tidak untuk saat ini. Biarlah aku terwakilkan oleh sebuah amplop coklat garis-garis dengan sebuah surat yang akan menemuimu untuk pertama kali. Aku rasa ini masih yang paling tepat.

Semoga, pesanku yang tersampaikan lewat udara dapat kau rasakan sampai ke kedalaman hati.
Aku istirahat dulu ya. Esok masih ada perjalanan ke kota kedua dan akan menjumpaimu kembali dalam surat yang langsung kutulis di sana.
Selamat melanjutkan kembali aktifitas, Kecil.


Salam sayang, Monyetgombal


PS : Sundae-nya terlalu enak. Kapan-kapan lagi, ya!
PS [lagi] : Malioboroman masih berwarna kuning, kan. Hahahaha... itu kaos yang kamu pakai.


=======================
Edutria, 2011. Awal dari bagian-bagian yang lain. Surat sebelumnya bisa dibaca di sini

No comments:

Post a Comment