Thursday, January 27, 2011

Menunggu


Untuk Sapta di manapun berada...

Menunggu itu pekerjaan membosankan. Aku ini seperti terpasung pada keadaan yang tak mengijinkanku melongok sejenak ke dunia luar. Aku di sini terpaku pada sebuah perasaan atau janji? Untuk tetap setia mencintaimu? Aku sendiri pun tidak yakin, dari hari ke hari.
Menunggu itu lagi-lagi terus membuatku semakin tua, tak berguna. Karena aku hanya bisa ongkang-ongkang kaki tanpa pernah tahu kapan kamu akan kembali.
Menunggu kadang menyenangkan, pun tak sedikit aku merasa bosan yang teramat sangat. Semacam ingin bergerak menuruti kata hati dan otak, tapi aku cuma bisa diam, terbelenggu oleh perasaan entah dan membuatku lumpuh.
Menunggumu itu kadang seperti menabung rindu yang dibalut jutaan liter airmata, menunggu untuk jebol dari pertahanan. Tidak enak, kau tahu?
Tapi sudahlah, ada saatnya bahwa aku memang harus melepaskan. Sama seperti kamu yang pertama kali melepas semua. Akan tiba waktu, bahwa penantian ini, menunggu, sampai pada titik akhir. Mungkin ini saatnya.
Aku juga tidak yakin, namun kalau aku tetap berdiam diri siapa yang akan menjamin? Tidak ada. Semua kembali pada diriku sendiri.

Aku bangkit, mulai berjalan, meski tertatih. Waktu yang teramat lama memasungku, seakan merampas kemampuanku untuk berjalan bahkan berlari. Hahaha... perlu proses belajar kembali pastinya. Aku pasti bisa. Tenang saja.

Kita memang sebaiknya berpisah arah, kau ke sana dan aku arah yang sebaliknya. Siapa tahu, dengan ini jalan kita tidak berhenti malah terus mengalir. Iya, kan? Sampai jumpa kapan-kapan...



Salam,
 Ps: Semua masih sama, hanya aku simpan di hati. Mungkin lain waktu kita bisa ketemu lagi? Hahaha...

=========================
Edutria, 2011. Kumpulan surat-surat cinta yang lain bisa dibaca di sini

Wednesday, January 26, 2011

Selembar Foto dari Masa Lalu


Untuk Sapta yang berarti tujuh....
Ada geletar haru dan tatapan nanar dari bola mataku ketika foto itu aku temukan kembali. Masih di tempat yang sama, seperti pada saat pertama kali aku meletakkan selembar kertas bergambar kita berdua dalam agendaku. Tidak cacat, pun rusak. Terpasang manis di sudut depan tertutup plastik tebal berwarna bening.
Setelahnya aku tersenyum. Bahkan tertawa geli. Lucu sekali pose kita dulu. Tak ada lagi rasa kehilangan atau helaan nafas berat, sampai menitikkan air mata karena memandang foto tersebut.
Hampir 365 hari berlalu, dan kenangan-kenangan itu tetap hidup. Aku sendiri tidak boleh larut, karena jalan yang harus aku tempuh masih panjang dan belum usai. Kuarahkan langkah untuk tetap maju dan memandang lurus ke depan. Tak perlu juga aku terus menerus terkurung dalam labirin ruwet bernama masa lalu.
Kamu, di sana, pasti hari ini telah bahagia. Semoga saja. Hanya sedikit doa yang bisa aku untai dalam malam-malamku, menangkupkan kedua tangan dan memejamkan mata sambil menyebut nama Tuhan.

Aku sendiri pun yakin, tak perlu lagi untuk mengkhawatirkan tentang apapun. Bahwa kau memang tidak pernah mempunyai rasa yang sama terhadapku, selentingan pedas atau apapun. Tentang siapa atau orang yang bagaimana yang menjadi pilihanmu, aku harap itu yang terbaik.

Foto usang, tetap aku simpan. Tidak aku utak-atik lagi, biarlah dia bersemayam dalam diam di sudut sampul depan, menemaniku mencoret-coret buku harian itu sampai tiba di halaman akhir kemudian selesai.

Satu-satunya yang akan tetap ada di sini, dalam sebuah tempat paling istimewa di hati, masih akan ada senyum manis milikmu yang selalu menghiasi.

Salam,


=======================
Edutria, 2011. Lagi buka-buka album, dapat ide untuk bikin surat di atas.
Kumpulan surat-surat sebelumnya bisa dibaca di sini

Tuesday, January 25, 2011

Kosong - Hari ke Duabelas

Harusnya, kalau ini bisa dibilang sebuah surat. Maka ini adalah penggalan yang ke dua belas.
Tak ada surat hari ini. Kantor pos tutup dan tak ada kotak surat yang akan menerima amplop garis-garisku.
Tak ada artis atau selebritis yang akan kukirimi surat seperti kemarin. Khusus hanya satu. Aku tak pernah mengidolakan para public figure itu. Pun kalau ada, tentulah orang tersebut benar-benar menginspirasi dalam hidupku.

Hari ini, aku ingin istirahat sejenak. Tidak mengirim surat untuk siapapun. Hahaha... semacam hibernasi untuk beberapa jam ke depan hingga siap untuk menggores pena di lain hari. Besok pagi.

Masa sih tidak ada? Oh, baiklah jangan memaksa. Hari ini aku juga bingung untuk menulis tentang siapa. Istirahat deh, ya. Boleh? Ah, terima kasih.

Ya... ya... ya... ada yang ingin aku tulis sebelum lupa. Untuk seorang Marcell dan dr. Tompi, terima kasih ya lewat dua lagu dari kalian Berhenti Berharap dan Tak Pernah Setengah Hati, aku seakan mendapat segunung ide dan inspirasi untuk membuat penggalan-penggalan kehidupan lewat 30 surat (cinta) selama 30 hari.

Itu saja. Aneh memang kalau aku baca sekali lagi tulisan ini. Hahaha... Apa aku bilang. Istirahat, dan tunggu. Aku akan menyiapkan yang terbaik malam ini. Cukup satu artis yang aku tulis karena dia benar-benar jadi favoritku.


Salam, Monyetgombal


=======================
Edutria, 2011. Aku gak nge-fans sama artis-artis sih. Maaf. Besok nulis lagi, kok. :)
Kumpulan surat-surat bisa dibaca di sini

Monday, January 24, 2011

Perahu Kertas dan Aku

photo courtesy by. Google.com
...Perahu kertas bergoyang sendirian...

(kalimat terakhir pada novel Perahu Kertas)
Untuk seorang Dee Lestari...

Surat ini tidak akan berbentuk seperti kertas kecil yang dilipat menjadi perahu. Tidak sama dengan surat yang selalu Kugy tulis setiap hari untuk Dewa Neptunus kemudian dihanyutkan ke sungai atau laut. Namun, surat ini adalah sebuah sapa dan upaya dari saya untuk sedikit berbagi dengan Mbak Dee.
Kita memang belum pernah mengenal muka, atau bertanya nama. Satu hal, saya pasti akan bilang kalau saya yang sedikit mengenal seorang Dee lewat karya-karyanya terlebih dulu. Maaf, tulisan saya kadang awut-awutan. Tidak jelas dan sedikit ngelantur. Jujur, saya juga agak grogi ketika harus menulis kalimat-kalimat dalam surat ini.
Sedikit banyak, awalnya saya mengenal seorang Dee Lestari adalah penyanyi dari Trio RSD. Belum tahu juga pada akhirnya, seorang Dee Lestari itu penulis berbakat.
Ketika saya beranjak SMA, Supernova menjadi buah bibir diantara kami, para pelajar di kota kecil jauh dari Jakarta. Penasaran membuat saya tertarik untuk meminjam novel tersebut dari perpustakaan. Awalnya njelimet, susah dimengerti oleh kapasitas otak saya ini. Tapi seperti ada dorongan yang kuat untuk saya menyelesaikan buku itu dan berlanjut ke seri lainnya. Ini awal saya menyukai dan semakin penasaran dengan tulisan cerdas seorang Dee Lestari. Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, lalu Akar dan walau saya tak sempat untuk membaca seri terakhir Petir. (Apakah masih mungkin saya membeli di toko buku?)
Perahu Kertas, sebuah novel yang pada akhirnya saya baca awal-awal tahun 2010. Novel yang membuat saya semakin tenggelam dalam lautan inspirasi. Membuat saya menangis, terhempas sampai titik terdalam, ketika menyelesaikan bagian terakhir novel tersebut. Semacam menjadi sebuah dorongan untuk diri sendiri bahwa novel ini punya andil yang besar. Saya mengerti apa itu mimpi, mencintai dan akhirnya belajar melepaskan. Dan poin utama untuk saya adalah belajar menjadi diri sendiri walaupun kadang harus berputar jalan. Waktu itu saya baru putus cinta juga sih, jadi kerasanya ini novel gue banget. Maaf sedikit colongan yang bocor.
Novel ini pula yang menyemangati diri saya untuk kembali menulis tentang apapun di blog pribadi yang lama telah mati suri. Entah bagaimana saya berterimakasih untuk seorang Dee Lestari. Namun saya percaya, tulisan ini, apresiasi saya terhadap Mbak Dee mungkin adalah salah satu cara ke arah sana. Sebuah terima kasih dari pembaca untuk penulis favoritnya.

Maaf, Mbak, jadi kepanjangan. Bosan, ya? Hahaha... Saya memang sedang belajar menulis dengan baik. Jadi, ya sering keluar dari konteks. Tapi ini jujur kok, Mbak. Yang terakhir, tetap menginspirasi banyak orang ya, Mbak dengan tulisan-tulisan dan karya-karyanya.

Terima kasih, Dee Lestari.

...malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya...


Salam, seorang Penggemar di sudut Jakarta
(untuk @deelestari)

Ps: Perahu Kertas sudah saya baca kurang lebih 3 kali, dan Recto Verso mungkin lebih dari itu.
Ps (lagi): boleh tidak saya minta tanda tangan kapan-kapan? Hihihi... Kemarin dulu, waktu mention saya di-reply itu sudah lebih dari senang. xD



====================
Edutria, 2011. Deg-degan ya guys nulis surat ke penulis favorit. Ehemmm... *blushing*
Kumpulan surat-surat sebelumnya bisa dibaca di sini

Sunday, January 23, 2011

Surat Untuk (Pemimpin) Jakarta

untuk Pimpinan Kota tempat saya bekerja dan belajar arti hidup...

Ini adalah sebuah surat pendek dari saya, Bapak Pimpinan yang terhormat. Maaf kalau kurang sopan. Jakarta, kota yang telah 6 tahun menjadi kota dan tempat tinggal serta bekerja. Kota yang makin hari semakin sumpek, rumpek dan ruwet. Kemacetan yang makin parah, banjir kala hujan dan kota yang kotor.
Kemanakah Jakarta yang saya kenal dulu? Pertama kali di tahun 1993, menginjakkan kaki di ibukota sekedar untuk liburan. Kota yang saat itu masih terlihat lebih hijau dengan pepohonan dan bukannya abu-abu seperti sekarang karena pohon beton dan aneka mall yang tumpah ruah hampir ke semua sudut dan pinggiran kota.
Sebenarnya saya bosan. Manusia-manusia yang lain juga sama. Jakarta hari ini, tahun 2011 seperti tumbuh diluar kendali. Ironis, globalisasi memang seperti pisau bermata dua. Teknologi dan jaman berkembang pesat, menyingkirkan sedikit demi sedikit kelangsungan ekosistem alam. Ruang hijau tak banyak  kami temui di sini. Apakah pembangunan mall yang terus menerus itu penting? Rasanya tidak. Sudah terlalu penuh, Pak, ibukota ini dengan pusat-pusat hiburan yang seperti ini. Bukankah Jakarta sudah punya? Terlalu banyak malah.
Kami, warga ini hanya perlu sedikit ruang hijau, sebagai paru-paru kota yang menyaring semua polutan-polutan di udara akibat polusi yang berlebihan. Taman kota, area publik yang memadai itu lebih kami butuhkan.
Oh ya, Bapak Pimpinan yang terhormat, perhatikan juga drainase seluruh kota. Mampet atau tidak. Tak jarang tiap hujan turun muncul genangan dimana-mana. Itu pun kalau Bapak menyebutnya "CUMA" genangan. Namun, kadang banjir juga lho, Pak. Tentunya Bapak yang lebih tahu untuk semua masalah-masalah yang sepertinya klasik namun sangat urgent untuk saat ini.
Saya juga mengeluh soal transportasi yang tidak memadai bahkan carut marut. Apa kabar monorail? Ah, tidak, saya tidak mau membahas itu dulu. Bagaimana Busway? TransJakarta? Pada awalnya dirancang untuk mengatasi kemacetan tapi pada akhirnya jadi salah satu biang macet juga. Maaf ya, Pak. Rasanya akhir-akhir ini busway pun semakin mundur dalam kualitas pelayanannya. Kami terpaksa harus antre, kadang hingga berjam-jam karena tak tersedianya armada atau kurang. Banyak bus yang mogok juga lho, Pak. Maaf, ini sekedar uneg-uneg kami yang masih setia menggunakan moda ini karena memang tak tersedia alternatif lain yang lebih baik. Semakin dibenahi ya, Pak. Jangan sekadar janji-janji manis masa kampanye yang tak jelas juntrungannya di kemudian hari.
Ini hanya harapan kami sebagai warga kota yang ingin Jakarta lebih baik. Semoga Bapak selalu siap menampung aspirasi kami dan bukan tong sampah yang menampung surat ini.

Sekali lagi saya mohon maaf bila kalimat saya kurang sopan. Saya menghargai Bapak sebagai seorang Pemimpin kota yang saya sendiri juga tahu tidak gampang untuk mencari solusi satu persatu persoalan. Namun, bila berkenan untuk itu saya yakin, niscaya Bapak pasti bisa.

Terima kasih, Pak telah meluangkan waktu membaca surat saya.

Hormat saya, Seorang Warga Kota


========================
Edutria, 2011. Untuk Jakarta yang lebih baik. Semoga.
Kumpulan surat-surat yang lain bisa dibaca di sini

Saturday, January 22, 2011

Penjual Kacang dan Trotoar Jalan

photo courtesy by. Google.com
 sebuah petang di jantung kota Yogyakarta

untuk Manusia-manusia yang menginspirasiku menulis surat ini
Kaki melangkah perlahan keluar dari Stasiun Tugu yang ada di jantung kota. Ransel ukuran sedang menggantung di punggung. Selepas empat lebih berkereta dari sebuah kota lain di Jawa Timur.
Seperti biasa aku melenggang bebas, melihat kesana kemari, sambil menikmati malam di kota gudeg. Meski, banyak tukang-tukang ojek yang menawarkan jasa mereka atau taksi yang sudah siap membuka pintu mengantar tempat yang aku tuju, satu jam dari Yogya ke arah utara, Magelang. Aku ingin sejenak melepas lelah dan mengisi perut
Menapaki jalan Malioboro yang sudah terkenal di seluruh Indonesia, rasa-rasanya seperti melemparkan aku pada kenangan yang telah lalu. Silih berganti datang dan pergi.
Menikmati Yogyakarta pada waktu malam, memang menyajikan ceritanya sendiri. Selalu ada yang membuatku ingin kembali menjejak langkah di sini.
Mataku, tetiba mengarah pada seorang sosok tua di sebuah trotoar jalan di seberang Stasiun tempatku berdiri. Seorang Bapak tua yang berjualan jagung dan kacang rebus. Dagangannya masih banyak. Mungkin sedang sepi, karena aku lihat saat itu belum ada orang lewat yang membeli dagangannya.
Mataku menatap nanar. Mulai timbul iba dalam hatiku. Ya, aku kadang tidak tega untuk melihat hal-hal yang seperti ini. Sebisaku membantu.
Seorang laki-laki tua yang entah mengapa, mengingatkan aku pada sosok Bapakku. Sosok yang menyayangi dan ingin memberikan semua yang terbaik untuk anak-anaknya. Seorang Bapak yang terkadang menjadi sasaran protesku, anaknya hanya karena tidak sependapat dengan pemikirannya.
Sekelebatan bayangan orang tuaku, Bapakku, Ibuku mulai hadir dalam pikiranku. Hingga detik ini, masih sering aku menyusahkan mereka atau mungkin membuat kecewa mereka. Kedua orang tua yang berlelah-lelah memenuhi ekonomi keluarga yang pas-pasan, meski juga tidak kekurangan. Namun, di lain pihak aku seperti kurang bersyukur dengan semuanya.
Aku yang merantau jauh dari mereka, kadang seperti lupa terhadap kehadirannya karena ditelan segunung aktifitas dan kegiatan rutin hari-hari. Aku lupa untuk sejenak menelepon mereka berdua yang jauh terpisah di kampung halaman dan malah asyik tenggelam dalam kesenanganku sendiri. Kadang harus mereka yang mengangkat gagang telepon dan menyapaku terlebih dulu. Ah, aku seperti ditempelak keras oleh semua ini. Aku tahu, mereka cuma ingin mendengar suaraku, anak laki-lakinya sekadar untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja. Seperti pesan Bapak dan Ibu, "seminggu sekalilah kamu sempatkan telepon. Kami sudah lega jika mendengar kamu baik-baik saja."
Seminggu sekali yang kadang lupa untuk kulakukan. Seminggu yang pasti ditunggu oleh Bapak, suaraku di ujung telepon. Aku malu. Karena aku seakan lupa.
Bapak penjual kacang tanah itu kini di depanku. Aku membeli beberapa bungkus kacang rebus, yang kutahu itu tak mungkin habis sendiri. Tidak apa-apa masih mungkin untuk dihangatkan besok.
Anak bapak ini, rupanya menjadi salah seorang buruh migran di Dubai. Anak satu-satunya. Aku merasa miris. Bapak ini bahkan harus menabung rindu bertahun-tahun untuk sekedar bertemu fisik dengan buah hatinya. Dan aku, yang sebegitu dekatnya, 500 kilometer dari rumah, bahkan untuk bertegur sapa dengan Bapak Ibu di ujung telepon pun aku seakan enggan. Aku semakin merasa aku ini berdosa.
Segera kubayar kacang rebus dengan agak aku lebihkan uangnya. Kuputuskan bahwa malam ini, aku harus segera pulang. Ke Magelang. Aku menghentikan taksi di depan Malioboro. Tak masalah berapa harus kubayar. Paling penting, aku ingin bertemu dengan orang tuaku dan memeluk mereka satu per satu. Aku ingin berusaha untuk menjadi seorang anak yang lebih berbakti lagi terhadap mereka. Tidak belum terlambat. Sebisa yang terbaik dari hidupku itu akan kulakukan.

Terima kasih, Bapak penjual kacang rebus yang tak kutahu siapa namamu. Malam ini, aku mendapat sebuah pelajaran berharga bahwa aku mestinya bersyukur masih dekat dengan orang tua dan diberi kesempatan untuk membahagiakan mereka... Aku janji! Pada diriku sendiri, dan Di Atas Sana yang menjadi saksi.


Selamat malam, dari Anak Lelakimu



=========================
Edutria, 2011. Untuk waktu-waktu yang indah dekat dengan Bapak dan Ibu.
Kumpulan surat-surat yang lain bisa dibaca di sini

Friday, January 21, 2011

Bertemu Muka di Blok M - Kota

photo courtesy by. Google.com
Kau, yang tak kutahu siapa namamu...

Bus TransJakarta melaju kencang. Melintas di koridor I sepanjang Blok M, Jalan Sudirman hingga tiba di Stasiun Kota. Sama seperti pagi-pagi sebelumnya, aku biasa antri ketika waktu menunjukkan pukul 08.00 tepat, hari Senin sampai Jumat. Kebiasaan yang entah aku mulai sejak kapan, rasanya itu bermula ketika perjumpaan kita yang pertama.
Kamu, yang kita pun belum sempat berkenalan, seperti sebuah candu yang mulai mempengaruhiku. Aku mulai terbiasa untuk tiba di halte Transjakarta, seperti dirimu tepat pada waktu yang sama. Memang, butuh penyesuaian juga pada awalnya hingga aku bisa menemukan jam-jam 'sakral' itu untuk sekedar melihat atau berbarengan satu bus denganmu. Iya, tak setiap hari juga sih kita bisa dalam satu bus yang sama. Kadang aku harus meninggalkanmu duluan atau sebaliknya pada esok hari. Yang jelas, antrian panjang tidak membuatku patah semangat ketika kamu berdiri tak jauh dari tempatku. Hahaha... aku mengambil jarak tak terlalu dekat, menurutku agar aku aman memandang dirimu lekat-lekat.
Kamu itu, sebenarnya sosok yang biasa. Tak terlihat menonjol. Sama seperti penumpang-penumpang yang lain. Namun, dalam benakku seperti ada sebuah geletar yang berbeda ketika untuk pertama kali kita beradu mata. Berpandangan, untuk jeda waktu yang lumayan lama.
Kamu, tak akan pernah tahu bahwa tatapan itu pada akhirnya membawa dampak yang besar untukku. Siapa namamu, mungkin tidak akan jadi hal yang penting. Begini saja, melihatmu itu sudah cukup. Aku tidak mencintaimu dengan hatiku. Aku hanya mengagumi sosokmu. Sederhana, murah senyum, dan dibalik tatapan mata yang dibalut kacamata itu aku bisa menangkap bahwa kamu, adalah seseorang yang jujur, tulus dan penuh kelembutan. Aku bisa rasakan di situ.
Pernah memang kita duduk saling bersebelahan. Kau tahu apa rasanya di posisiku? Aku sama sekali hanya bisa tertunduk malu, sambil menahan hatiku yang tiba-tiba bertalu-talu. Aku akhirnya hanya bisa tersenyum kecil sepanjang jalan dari Blok M hingga Mangga Besar. Itu tandanya aku yang meninggalkanmu lebih dulu. Kamu akan turun di halte terakhir, Stasiun Kota. Tak sengaja kucuri dengar pada suatu hari, kala kau menjawab panggilan teleponmu. Hahaha... Maaf aku terlalu lancang, kawan.
Kini, beberapa hari aku tak pernah melihatmu di halte lagi. Kemana ya? Atau gara-gara aku sedang sakit hingga tak bisa pergi bekerja seperti biasa? Semoga saja. Rasanya memang sedikit ada yang hilang. Tapi abaikanlah ini.
Aku hanya ingin memandangmu, sepanjang tak lebih dari 30 menit rute TransJakarta ke kantorku tiap hari. Mengetahui namamu pun aku tidak ingin (sebenarnya kalau pun bisa itu jadi bonus). Cukup aku jadi pengagum-amatiran yang setiap hari boleh melihat wajah bersih itu.
Iya, seseorang seperti kamu biasanya sudah punya tambatan hati. Tebakanku saja sih. Pernah kulihat kamu mesra dengan seseorang. Pasti itu pacarmu. Iya, kan?
Kau, yang selalu duduk di bagian kanan sebelah belakang, aku menunggumu muncul kembali di halte. Tidak, tidak, surat ini tidak ingin kuberikan padamu. Biarlah setiap pesan dan isi surat yang kutulis ini tersampaikan lewat perantara semesta dan takdir Sang Pencipta, entah kapan.
Terima kasih ya telah membuat perjalanan 30 menit yang kadang membosankan, jadi terasa lebih menyenangkan. Anggap saja aku pengecut. Tapi, suatu hari akan ada banyak cara untuk kita saling mengenal nama dan bertukar kata. Biarlah saat ini, hanya muka yang jadi cara untuk menyapa.

Sudah ya. Surat ini akan aku simpan. Besok, aku akan kembali datang tepat pukul 08.00 bahkan kurang dari itu, asal jalanan dari rumah ke terminal tidak begitu macet seperti tadi pagi. Siapa tahu, aku bisa melihatmu lagi. Hahaha...


Salam, Pengagum tatapan matamu

Ps: Hei, aku pernah sengaja meng-candid fotomu diam-diam. Hihihihi... maaf ya. Aku simpan di teleponku tidak akan kubagi dengan yang lain. :p


=====================
Edutria, 2011. Flirting itu menyenangkan... :D
Kumpulan surat-surat cinta lain bisa dibaca di sini

Wednesday, January 19, 2011

Sekadar Nostalgia

teruntuk Kecil...

Hei, sedang apa kamu di situ? Masih duduk manis menunggu suratku? Ah, akhirnya protes pertamamu keluar juga. Kenapa kita tak mencoba berkomunikasi dua arah secara langsung saja? Telepon, pesan singkat, berbalas mention, wall-to-wall, chatting di messenger, atau Skype? Dan menurutmu, aku malah mengirim setiap hari surat-surat konvensional yang dikirim lewat pos dan kantor ekspedisi. Aku memang tidak ingin terlalu ikut arus atau mainstream. You know what? Jadi berbeda itu kadang menyenangkan. Semacam ada sebuah sensasi tersendiri ketika aku membuka binder, mengambil dua sampai tiga lembar loose-leaf paper dari dalamnya. Kemudian aku mengambil pena, dan mulai menulis satu persatu, huruf per huruf hingga ia bisa dibaca dan menjadi sebuah kata yang saling terkait dan punya makna. Jangan protes dulu ya, setidaknya sampai beberapa minggu ke depan, nanti bila surat ini telah tiba pada bagian akhirnya, kita bisa mulai kembali kok berkomunikasi dua arah. Menuangkan ide, perasaan dan suasana hati dalam surat konvensional itu lain daripada yang lain. Tiap tekanan penulisan, coretan, bahkan tidak sedikit tersapu oleh tetesan air mata, buatku menjadi semacam candu dan penanda bahwa di tiap kata, tiap cairan tinta yang terbuang terkandung sebuah emosi yang bisa menjadi semacam geletar yang mendebarkan dan punya nyawa ketika dibaca.
Tentu kau bisa merasakannya, bukan? Ya sudah itu penjelasanku. Semoga bisa diterima. Kita ganti topik saja. Banyak hal yang belum selesai aku bagi dan ingin aku tulis di sini.

Kau masih ingat Magelang, Kecil? Setahun berselang setelah kita liburan bersama, kota ini seakan-akan terus berkembang dan semakin maju. Memang, tidak semuanya sih. Tapi terlihat jelas bahwa kota ini semakin terjamah modernisasi. Lahan kosong, sawah-sawah yang tak jauh dari terminal kota, kau ingat? Di kaki bukit Tidar yang dulu menghijau karena padi-padinya, kini sedang bersolek dan berganti rupa menjadi sebuah entertainment centre. Biasalah orang menyebut MALL. Ironis memang, kadang modernisasi membawa suatu andil yang besar untuk perkembangan jaman, tapi di satu sisi, tidak memperhatikan keberlangsungan sumber daya alam dan ekosistem.
Bukit Tidar tetap masih hijau. Tak perlu risau. Jadi, ketika nanti kamu ada rencana kembali kemari, aku masih bisa mengajakmu untuk naik ke puncak bukit, menikmati udara yang bersih sembari meresapi buaian angin dan kicauan burung kenari. Iya, memang, kota Magelang tidak akan terlihat jelas dari puncak ini, karena tertutup pohon-pohon Pinus tinggi. Tapi... masih ada tapinya, kamu bisa kok memandang para calon perwira, taruna-taruna muda yang sedang di gembleng di bawah sana. Akademi Militer. Hahaha... para calon TNI dan Jenderal-jenderal di masa depan. Seru, kan?
Sore ini, rencananya aku ingin kembali ke kedai makanan cepat saji berlogo Bapak Tua Jenggot untuk sekadar menikmati segelas sundae. Bisa di bilang, pengen menikmati masa-masa kita duduk di pojok restoran itu suatu siang setelah kita pulang dari Candi Borobudur. Hahaha... Aku masih ingat, kau tampak tidak suka ketika aku menerima cipika-cipiki dari seorang sahabat lama waktu sekolah yang tak sengaja ketemu di sana. Jangan cemburu deh, ya. Hihihihi... Aku memang kadang agak badung. Tapi percayalah, aku ini baik hati.. *alahh, gombal*
Rasa es krim memang seperti es krim yang lain. Bahkan es krim milik si Badut yang kita beli waktu di Yogyakarta masih jauh lebih enak. Menurutku, sih karena aku makan es krim sambil liatin mata kamu. Ehem... Tuh kan jadi merah begitu pipinya. Persis tomat ranum di kebun Pak Tani yang siap dipanen. Merah segar.
Kenyataannya begitu, kan? Pasti kamu langsung tersipu-sipu begitu jurus monyetgombal aku lancarkan padamu. Hahaha... aku suka sekali kalau untuk yang satu ini.

Oh ya, Kecil, aku kan sudah bercerita banyak hal. Lain waktu, mau tidak kamu gantian bercerita tentang kotamu, hari-harimu, yang pastinya akan sedikit mengobati kerinduan kronis ini. Langsung sembuh malah aku pikir kalau kita bisa sama-sama berbagi cerita meski bukan lagi satu suara.

Kamu memang masih termasuk bagian terpenting dari perjalanan 365 hari ini. Mewarnai hariku hingga aku tetap bisa berdiri sampai saat ini. Tetap jadi penjaga setia ya buat hatiku. Tak akan ku tarik sewa perbulan untuk ruangan spesial di sana. Cukup kau beri aku senyuman, sapaan halus dan semua-muanya yang penting itu darimu. Aku sudah senang sekali.

Uhhh, surat ini aku juga tidak tahu bagus atau tidak. Tapi kucoba yang terbaik untuk tetap menulis. Spesial untuk Kecilku.

Sudah dulu ya. Selamat berjibaku dengan waktu. Ingat, jangan disia-siakan; sekali kelewatan kita belum tentu punya kesempatan untuk berputar haluan...

Salam sayang, Monyetgombal



PS: Aku suka avatar barumu. Crayon Shinchan. Aku tidak berhenti tertawa karenanya. Kamu makin lucu, Kecil.

====================
Edutria, 2011. Magelang pada akhirnya membawaku kembali. Bagian keenam. Surat sebelumnya bisa dibaca di sini

Tuesday, January 18, 2011

Senyum dalam Secangkir Teh

di suatu sudut rumah, habis perjalanan


teruntuk Kecil...
Sore ini aku sudah kembali dari liburanku di Bali. Aku bukan kembali ke Jakarta, tetapi aku akan tetap berada di Magelang untuk beberapa waktu ke depan. Ah, kau belum aku beritahu rupanya bahwa kemarin dulu, aku berhenti dari kantorku untuk pulang kampung, ke Magelang, melanjutkan studiku di jenjang yang lebih tinggi lagi.
Aku pada dasarnya memang ingin menyepi, kemudian sambil membantu Bapakku dengan usaha kecil-kecilannya. Lagipula, orang tuaku harus ada yang menemani salah satu dari anak-anaknya. Maka, kuputuskan biar aku saja yang menemani mereka di rumah. Bosan aku dengan Jakarta, yang makin hari bukannya tambah rapi dan teratur tetapi malah semakin ruwet dan sumpek. Macet dimana-mana. Hahaha... rasanya sekarang ini aku nampak lebih tua karena stres berada di kemacetan parah dan rutinitas yang segunung.
Kau sedang apa di sana, Kecil? Apakah apel Batu masih berbuah saat ini? Oh, jelas di kotamu kan memang surganya apel. Aku duduk di teras, depan ruang tamu tempat kita dahulu pernah bercengkerama, bercanda dan asyik mengobrol ngalor-ngidul berdua. Kamu masih ingat, sayang? Upps.. maaf, aku sepertinya terlalu larut dalam euforia hati. Iya, aku memang dalam kondisi yang sangat baik. Khususnya hatiku. Aku tidak lagi sedih, pun merasa sepi. Alih-alih tinggalkan, bahkan aku mulai lupa bagaimana sebuah kesedihan itu bermula. Kondisi yang harus tetap dipertahankan, menurutku.
Hei, tak apa kan kalau aku tetap memanggilmu Sayang, selain nama Kecil yang buatku sangat istimewa? Tenang saja, takkan punya pengaruh apa-apa buat kita. Aku duduk di sini, di temani secangkir teh melati spesial bikinan Ibuku. Kau pasti juga pernah mencobanya, kan? Ah, jelas.. dulu selama tiga hari kau dan aku pernah menghabiskan liburan berdua di rumah ini. Eh, apa kau kerasan saat itu? Boleh kutebak? Ahaa.. memang kamu kelihatan kerasan dulu. Tapi maaf ya, kamu pernah aku buat menangis hanya gara-gara aku umpetin telepon selulermu. Hahahaha... Aku juga waktu itu ingin menangis juga bersamamu. Kau duduk di kamar, memintaku untuk segera memberi tahu dimana aku simpan hape itu. Ah, sebenarnya ada di tas kecil yang aku bawa. Hihihihi....
cangkir yang kupakai ini, masih sama, sama seperti cangkir yang dahulu pernah tersentuh oleh bibir merahmu. Ya, cangkir putih dengan teknik pembuatan dove atau semacam frosting begitulah, aku pun tak yakin. Kata Ibu sih, hadiah dari sebuah partai yang kini jadi penguasa. Hahaha... kau juga tahu kan, lah wong ada logo partainya kok di badan cangkir. Untungnya ukuran logonya kecil jadi tidak mengurangi keindahan cangkir itu sendiri.
Cangkir yang sama, selalu aku simpan dalam rak kaca di dekat dapur, dimana tidak ada seorang pun yang boleh memakai cangkir itu. Semacam ada nilai tersendiri buatku. Aku sih memang berpesan pada Ibu atau Bapak, kalau cangkir itu jangan dipakai. Biarlah dia terdiam rapi di situ. Hahaha... Berlebihan katamu? Tidak. Aku tidak ingin cangkir itu rusak atau mungkin tersentuh oleh orang-orang lain. Hanya aku yang boleh memakainya. Titik. Lagipula, masih banyak kok cangkir-cangkir yang lain di dapur. Khusus cangkir itu, jangan.
Melihatmu menyesap teh manis panas dengan aroma melati kala itu, aku hanya tertegun saja. Caramu memegang gelas, menikmati setiap tegukan langsung dari cangkir itu membuatku selalu ingin tersenyum. Kemudian kita saling bertatap, mata dengan mata, dan seulas senyum mulai menghiasi wajahmu yang putih bersih. Semacam aura dan geletar-geletar cinta mampu kita berdua rasakan meskipun tanpa pernah terucap kata. Momen paling romantis, kamu tahu, Sayang?
Kini, cuma aku sendiri, ditemani udara sore yang terasa sejuk sehabis panasnya siang, aku melongok ke dalam gelas, menghayati setiap tarikan nafas yang menghirup aroma melati sambil mencari-cari kemanakah senyum yang setahun lalu pernah datang dan menghampiri. Tidak ada dalam teh, tetapi dalam hatiku seolah wajahmu dapat ikut terpantul dalam secangkir teh hangat sore ini.
Teh ini memang bukan teh mahal. Bapak atau Ibu juga tak sanggup untuk membeli teh yang terlalu mahal. Walau bisa, tetap dirasa hanya pemborosan. Ini adalah teh yang sama dengan yang berdua kita minum di suatu sore bulan Maret. Teh tubruk dengan aroma khas yang di Jakarta pun aku tidak bisa menemukan teh yang sama dengan ini. Atau mungkin karena ada kamu, Sayang? Ah, tolong kamu jelaskan.
Sayang, Kecilku, sore ini aku berhasil mengimajinasikan gambarmu, sosok manismu dalam leyeh-leyeh ku menikmati teh ini. Ada semacam keterikatan kuat antara diriku, tempat ini, ah kau juga sama pastinya dengan kenangan-kenangan kita dahulu. Di rumah ini, teras, ruang tamu, kamar tidur, seakan jadi penanda waktu bahwa kau, aku, kita berdua pernah bersama di masa-masa kita menjalin rasa menyusun asa.
Kamu sudah mandi, Kecil? Hari sudah terlalu sore rupanya. Aku harus mandi dulu. Artinya, surat ini memang berhenti sampai di sini. Tidak untuk seterusnya, karena besok aku masih akan menjumpaimu lewat-lewat tulisanku. Banyak hal sepertinya harus aku bebaskan, ceritakan, bagikan agar kamu pun tahu seperti apa hampir 365 hari tanpa kehadiranmu. Aku, aku, dan aku... semakin rindu akan kehadiranmu.

Selamat sore, selamat menikmati senja indah di kotamu.

Salam sayang, Monyetgombal




=========================
Edutria, 2011. Teh melati dan kursi kayu, Magelang. Surat sebelumnya bisa dibaca di sini

Monday, January 17, 2011

Senja dan Hujan di Tebing Batu

teruntuk Kecil...
Mungkin surat ini akan telat sampai di tanganmu. Aku terlalu jauh dari kota untuk segera membawa amplop coklat garis-garis yang jadi semacam default packing untuk surat-suratmu ke kantor ekspedisi. Sementara ini, biarlah ku simpan sendiri hingga besok pagi, aku janji, akan segera memberikan surat ini.
Hari ini hujan, tepat tanggal 17. Kau tahu artinya? Sama seperti kita dahulu di tanggal ini walau berbeda bulan, ikrar kita diiringi oleh suara hujan. Maksudku, tidak ingin mengingat-ingat momen tersebut, namun ternyata hati kecil menyuruhku untuk segera menyuarakan itu. Sesuatu yang terlalu lama dipendam, kadangkala punya efek yang tidak terlalu baik untuk diri sendiri. Tak juga perlu call-out dengan manusia-manusia di luar. Tapi, ketika kau membebaskan dirimu dari himpitan belenggu pikiran dalam tulisan, setidaknya kau telah membebaskan sedikit energi negatif yang menguasai dirimu. Itu sih yang biasa aku lakukan.
Ah, aku terlalu banyak teori.
Aku berteduh di bawah atap pura bersama dengan yang lain. Sebenarnya aku masih ingin memandang laut lepas di depan sana, untuk merenung pun bersyukur untuk setiap kejadian yang telah berlangsung dalam hidupku. Tak lupa aku akan bersyukur untuk kehadiranmu.
Hujan, selalu menjadi musik pengiring yang indah untuk saat-saat sendu seperti sekarang ini. Rasanya, kata-kata yang tak pernah kupikirkan sebelumnya, terlihat menari-nari dalam kubikel otakku minta dilepaskan. Hujan juga menjadi sebuah isyarat untukku mengenang sosokmu yang dahulu kita pernah bercanda tawa di bawah guyuran hujan. Ah, kemudian kau demam. Aku masih ingat itu. Badanmu yang tiba-tiba mulai panas dan di atas suhu rata-rata manusia yang sehat.
Hujan memang selalu berhasil mengubah suasana hatiku yang kadang tak menentu. Semacam pembasuh luka yang ampuh untuk semua rasa sakitku.

Di bawah langit yang sedang mencurahkan segenap air mata penghuni surga, aku menulis beberapa puisi pendek untukmu...

Hujan seperti titik rindu yang berguguran. Ku pungut satu persatu, tak tersisa, ku masukkan toples di hatiku.
Ketika hujan aku mengingat tentangmu. Saat ini entah untuk yang berapa kali...
Kalau hujan bisa menghapus jejak luka karenamu, biarlah aku pulang tak berpayung.
Hujan bagiku adalah perantara, aku menitipkan pesan untuknya meski aku tahu kita berdiri ditempat berbeda. Namun dibawah langit yang sama.
Terkadang hujan adalah cambuk, pastilah terkandung unsur cinta didalamnya karena langkahku jadi sebegitu cepat ingin sampai ke rumah.
Waktu hujan turun, seperti pasukan perang yang menghunjam tubuhku tanpa ampun. Namun ada cinta Tuhan tertinggal disana.
Kalau hujan datang malam hari. Ingin aku segera berselimut mimpi. Kedinginan.
Selalu percaya hujan itu musik dari surga. Membiarkan diriku terbuai oleh alunan nya tanpa tendensi dan prasangka.
Bukan kata-kata yang indah memang, karena selalu saja aku tak berhasil untuk menemukan untaian kata-kata yang para penyair dan pemahat kata sanggup temukan untuk puisi-puisi mereka. Biarlah. Anggap saja, ini dariku, suara hatiku. Aku lebih suka yang sederhana, seperti dirimu yang sederhana mengartikan cinta, namun bisa membuatku seolah menemukan surga. Bukan begitu, Kecil?
Sebulan lagi, tepat satu tahun kita pernah menyatu jalan, meluruskan pandangan dan bersama-sama membangun kenangan. 30 hari lagi, semoga aku bisa memberikanmu sesuatu yang istimewa saat itu.
Kita memang bukan lagi satu, namun percayalah bahwa kelak ketika hati kita bisa bersimpangan di sebuah jalan, niscaya aku tidak akan seperti dulu. Aku berusaha tegar untuk tidak berharap lebih padamu. Aku selalu memegang teguh, mencintai seseorang secara tulus tidak selalu berharap bahwa ia harus mendapat balasan yang sama. Belajar mencintai bukan karena ingin dicintai. Satu hal yang aku percaya, bahwa kau dan aku, kita, detik ini, sudah berada dalam rencana Tuhan yang paling baik.

Sekian dulu, Kecil. Hujan sudah mereda. Aku harus segera meninggalkan Uluwatu sebelum hari terlalu malam untuk pulang. Besok, aku meninggalkan Bali. Oleh-oleh untukmu, sudah dalam perjalanan menuju kotamu.

Selamat sore, Kecil. Selamat melanjutkan aktifitas.


Salam sayang, Monyetgombal.


=======================
Edutria, 2011. Terjebak hujan di suatu tempat yang jauh dari keramaian. Bagian ke empat dari sebuah cerita panjang kehidupan. Surat sebelumnya bisa dibaca di sini

Sunday, January 16, 2011

Jatuh Rindu di Uluwatu

Langit Yogyakarta, GA 252

teruntuk Kecil...
Pesawatku kini mengangkasa. Meninggalkan kota Yogyakarta dengan sejuta keindahan dan ribuan kenangan di dalamnya.
Hari ini memang aku sengaja untuk skip dari sebuah tempat yang dahulu kita pernah saling memagut rindu di bawah pohon, suatu siang yang bermatahari cukup terik.
Kau pasti kaget, kemana aku akan pergi setelah ini. Iya, kan? Hahaha... Sejatinya aku ingin kembali ke tempat, tepatnya beberapa tempat yang pernah kita rencanakan untuk pergi tetapi kenyataan berkata lain.
Kau masih ingat, kita pun pernah membuat suatu catatan, kelak kita akan mengunjungi Pulau Dewata. Bali. Iya, aku pergi kesana. Kadang aku memang setengah gila untuk bisa memutuskan suatu hal dalam waktu singkat. Kuharap keputusan ini adalah baik adanya.
Katamu, kau ingin menikmati mentari yang terbit di ufuk timur, di sebuah tempat eksotis pulau ini. Maka, kuputuskan untuk membuka kembali buku harianku yang dahulu pernah aku tulis kemana kita ingin pergi. Seperti biasa, surat ini aku tulis di perjalanan agar nantinya begitu pesawat ini mendarat, aku bisa langsung ke kantor ekspedisi, hahaha... Hari gini, bukan cuma kantor Pos saja yang menerima pengiriman dokumen. Kau tahu, aku juga kan pernah bekerja di sebuah perusahaan kargo.Dan menurutku, ini lebih cepat sampai. Lobi-lobi lah dengan pegawainya, agar surat ini bisa selamat di tangan penerima dengan tepat waktu. Hahaha... ada untungnya juga kan? Kantorku juga buka cabang di Denpasar, jadi aku rasa ini tidak akan jadi masalah. Upps... maaf ini bukan korupsi, aku tetap membayar biaya pengiriman kok. Hanya, untuk surat-surat yang aku kirim aku menggunakan prioritas khusus. Iya, aku memang sedikit curang. Tidak apa-apa itu semua untuk kamu kok.
Jadi ngelantur. Aku akan mengunjungi Uluwatu. Sunrise dan sunset di tebing berbatu dekat Pura yang menjorok ke laut itu kabarnya sangat bagus. Ah, andai kau ada disini. Di sampingku, hingga aku bisa mendekapmu dari belakang menikmati semburat jingga di ufuk timur pada pagi hari.
Kau tahu, sampai aku tulis surat ini, aku dilanda kerinduan yang akut akan kehadiranmu. Terlalu akut, mungkin sudah stadium akhir yang mungkin akan tersembuhkan dengan kehadiranmu.
Seperti apa rasanya berdiri seorang diri di atas tebing beberapa puluh meter di atas laut ini. Surga kecil menurutku, setelah binar-binar mata dan senyuman indah milikmu.
Oh ya, mungkin akan banyak monyet-monyet lucu yang menghampiriku. Iya, banyak monyet di sekitar pura itu. Namun, aku harus berhati-hati juga karena mereka itu nakal. Suka dengan benda-benda yang menurut mereka asing dari tangan turis. Hahaha... eh, kenapa aku harus takut ya? Aku kan juga monyet. Monyetgombal tepatnya.
Kemudian, Uluwatu kini akan menyimpan sejuta rindu dariku yang telah kutitipkan pada monyet-monyet itu. Kelak, ketika kau kemari, ke tempat ini, hampiri mereka. Cari yang paling lucu diantara mereka, berilah mereka kacang atau pisang, jadi monyet lucu itu akan tahu bahwa kau, seseorang yang manis, telah datang untuk menjemput rindunya. Katakan terima kasih, mereka akan senang sekali.
Favoritku melihat sunrise dan sunset ada tak jauh dari Pura di atas bukit itu. Sebuah pojok yang sepi, namun hamparan samudra Indonesia yang luas dapat terlihat lebih jelas.180 derajat bila kau putar badanmu, keindahan Tuhan yang Maha Sempurna terekam jelas dalam kedua matamu. Cobalah.

Aku kemudian, barang beberapa hari akan menginap di sebuah hotel kecil di Ubud. Kau tahu? Aku tak begitu suka keramaian. Buatku, menginap di sekitaran Poppies Lane yang katanya gudangnya penginapan murah untuk backpacker ingusan macam aku, terlalu ramai dan menggangguku untuk kali ini menikmati Bali dengan caraku.
Aku lebih suka melihat sawah dengan teraseringnya yang buatku sangat memukau. Dengan Subak, sebuah sistem pengairan begitu masyarakat Bali menyebutnya, membuat sawah-sawah itu tak pernah kering bahkan menghijau di sepanjang tahun.
Di sini, rinduku padamu sudah tak bisa terbilang lagi. Antara rasa sedih karena kini cuma aku sendiri, tetapi pada kenyataannya aku pun juga harus memeram air mata mengenang tubuh kecilmu yang setahun lalu berhasil menaklukkan hatiku dengan senyum tulusmu.

Malam ini, beberapa jam setelah pesawat mendarat, atau lebih tepatnya setelah aku menapakkan langkah di Pulau Bali, aku ingin pergi ke Jimbaran. Iya, kau juga pernah mengutarakan niatmu untuk sekadar menikmati makan malam romantis berdua denganku di tepi pantai beratapkan bintang malam dan bulatnya bulan. Malam ini, memang tepat bulan purnama dimana bulan memang sedang bersinar penuh. Lagi, satu poin aku hanya bisa termangu memandang pasangan-pasangan lain yang tengah melepas rindu atau kulihat mereka asyik bercumbu. Kehadiranku yang seorang diri tidak terlalu mengganggu mereka mereguk manis cinta. Ku panggil seorang pengamen untuk menemaniku makan malam dengan lagu-lagu romantis yang dulu pernah kita dengar berdua. Aku jatuh. Jatuh rindu terhadap keterlibatanmu dalam setiap detik yang berlangsung dalam hidupku.

Sedang apa kau di sana, Kecil? Bosankah engkau menerima surat-suratku? Ini baru hari ketiga. 335 hari setelah kita sama-sama memutus menjauh. Tapi aku tetap di sini, menunggumu, ah tidak, mencintaimu lebih dari yang kau tahu. Kata masih, bukan ukuran yang tepat saat ini. Karena aku memang mencintaimu, dari dulu tak pernah berubah sampai saat ini.
Aku tak berharap lebih, ketika kita telah menjalani 335 hari ke belakang setelah kita sama-sama memisah jalan. Melanjutkan kembali kehidupan yang kadang antara batas mimpi dan kenyataan adalah sebuah garis yang menyakitkan. Aku tidak sedih, karena aku tetap bahagia. Tersenyum ya, Kecil.

Baiklah, rasanya surat ini akan terlalu panjang. Masih ada bagian lain dari Pulau Bali yang akan aku jelajahi berdasar catatan yang pernah kita tulis bersama dahulu. Sampai disini ya. Besok, aku akan menulis lagi surat untukmu. Semoga kau tidak mengakhiri kelangsungan hidup surat-surat ini dalam bak sampah. Yah, aku tidak bisa menjamin juga. Aku hanya berusaha.

Salam untuk seseorang yang mungkin kini ada di sampingmu. Semoga dirinya bisa mencintaimu dengan lebih baik.

Sampai jumpa esok, Kecil.

Salam sayang, Monyetgombal.



Ps: Kamu mau oleh-oleh apa? Pia Legong atau kaos dengan kata-kata unik itu?
Tapi jangan kau suruh aku membawa lumba-lumba lucu dari Lovina. Selain berat, aku bisa ditangkap di bandara. Gantungan kuncinya sih bolehlah... :p



======================
Edutria, 2011. Suatu senja dan bagian ketiga. Surat sebelumnya bisa dibaca di sini

Saturday, January 15, 2011

Aku, Kamu, Kita Cerita Yogyakarta

Kereta api Taksaka, Stasiun Cirebon +4 dpl, tahun 2010

teruntuk adik Kecil...
Semoga surat kedua ini sampai dengan selamat di tempatmu. Sengaja aku menulis dalam perjalananku ke kota Yogyakarta. Aku, memang ingin kembali menjejakkan kaki di kota pelajar untuk barang sejenak melepas kepenatan. Ah, di satu sisi aku memang mengajakmu untuk mengenang cerita kita dahulu.
Pura-pura saja kau mau. Sebab, tak lucu pula kalau sebelum aku menulis surat ini, terlebih dahulu aku harus meminta pendapatmu. Iya, aku memang masih dalam perjalanan. Jarak lebih dari 500 kilometer rasanya telah biasa untuk aku. Hahaha... Jangan tersenyum, kau pasti mengejekku. Iya, kan? Aku asli Jawa, Magelang tepatnya. Rasa-rasanya, Jakarta - Yogyakarta pun seakan jarak yang biasa. Ratusan atau mungkin ribuan kali aku menapak langkah di sini, tetap tak sama ketika kau tak ada di sisi.
Kau juga merasakannya, kan? Menurutmu?

Keretaku masuk Stasiun Tugu tanggal 14. Tepat setahun lalu kita pernah menggamit lengan, bergandengan tangan, bertemu untuk pertama kalinya kita saling melepas rindu.
Kini, ku selusuri selasar panjang stasiun ini, bukan mencarimu. Iya, tak akan pernah juga keretamu masuk pada hari yang sama dengan hari ini. Sekadar aku ingin mencari atau mengais sisa-sisa kenangan yang mungkin tercecer alih-alih terbuang. Ah, pemulung pun tidak akan mau berlelah-lelah untuk mengambil seonggok kenangan yang mulai berdebu. "Tak laku dijual," katanya. Kalau pun laku, hanya untuk orang patah hati yang dilanda rindu macam aku.
Kau pasti tertawa-tawa membaca surat ini. Sengaja tak pernah mau kutulis aroma pilu agar kau tidak ikut tersedu sedan membaca kalimat-kalimatku. Aku hanya ingin sedikit bernostalgia denganmu. Tidak, jangan salah sangka dahulu. Aku hanya ingin menulis bahwa aku memang sejatinya ratu drama yang terlalu larut dalam buaian alur cerita.

Nah, perhatikan langkahmu. Sekali ini, pura-puralah kau sedang ikut tamasya yang aku ciptakan dalam ribuan karakter atau ratusan kalimat ini. Pakai sandal yang empuk, kita akan berjalan agak jauh.
Koridor mall ini, tentu kau masih ingat. Iya, kau tiba-tiba menggamit lenganku dan menyuruh aku berhenti di sebuah... kedai es krim. Hahaha, aku suka binar matamu siang itu. Mata yang jernih, membulat dan bersinar. Aku memang mencandu bola mata indahmu. Namun, sepertinya kau tidak terlalu suka karena kau berkacamata. Tidak mengapa, itu tak mengurangi kekagumanku akan binar matamu. Mungkin, ketika Tuhan menciptakanmu Dia membuat matamu itu dari kristal dengan kualitas yang paling baik. Atau malah bintang? Sudah, jangan protes. Aku tahu, kamu bukan seseorang yang suka kata-kata gombal. Hahaha... "Aku seperti monyetgombal," katamu.

Kecil, kini kuantar kau sekali lagi berkeliling Yogyakarta naik becak. Mumpung hari belum sore benar. Setelah itu, aku mengantarmu pulang. Tidak, aku tidak mengantarkan sampai depan gerbang pintu rumahmu di kota Malang. Belum saatnya; hingga sejatinya diriku yang akan mengetuk sendiri pintu depan rumahmu. Nanti. Tidak untuk saat ini. Biarlah aku terwakilkan oleh sebuah amplop coklat garis-garis dengan sebuah surat yang akan menemuimu untuk pertama kali. Aku rasa ini masih yang paling tepat.

Semoga, pesanku yang tersampaikan lewat udara dapat kau rasakan sampai ke kedalaman hati.
Aku istirahat dulu ya. Esok masih ada perjalanan ke kota kedua dan akan menjumpaimu kembali dalam surat yang langsung kutulis di sana.
Selamat melanjutkan kembali aktifitas, Kecil.


Salam sayang, Monyetgombal


PS : Sundae-nya terlalu enak. Kapan-kapan lagi, ya!
PS [lagi] : Malioboroman masih berwarna kuning, kan. Hahahaha... itu kaos yang kamu pakai.


=======================
Edutria, 2011. Awal dari bagian-bagian yang lain. Surat sebelumnya bisa dibaca di sini

Friday, January 14, 2011

Prolog

sebuah awal...
dalam gelap dan sepi, teruntuk Kecil

Halo, selamat pagi sedang apa kamu di situ? Pagi ini memang masih sama seperti pagi-pagi yang telah lalu. Hanya kini, kamu dan aku tak lagi bisa selalu menyapamu. Ini surat pertamaku sejak saat kita memutus suara untuk sama-sama pergi. Aku pernah berjanji, kan untuk menulis barang sekalimat dua kalimat agar kamu dan aku tetap berada dalam suatu alur komunikasi yang terus terhubung.
Maaf, baru kali ini aku berani menulis, sekadar menyapa dan memanggilmu, Kecil. Nama panggilan yang sampai hari ini masih terasa punya nyawa tersendiri dalam bilik hati. Butuh waktu bagiku hingga akhirnya luka, goresan atau patahan-patahan ini tak terasa begitu menyakiti. Kadang, ketika aku hampir mulai untuk menulis dan mengambil kertas serta pena, aku tak sanggup untuk menahan deras air mata yang tanpa sadar sering mengalir tak terbendung turun dari bola mataku. Semacam pedih, untuk sekadar menyapa dan membangkitkan lagi kenangan dan kehadiranmu dalam hidup serta hari-hari milikku.
Apa kabarmu disana, Kecil? Apakah sampai detik ini, kamu masih melibatkan aku dalam hari-harimu, mengenang kita untuk sepenggal waktu yang telah lalu? Aku tidak memaksa jika memang hari ini, ketika kau buka amplop coklat garis-garis yang kau terima, engkau telah bersama yang lain. Aku tidak kecewa. Pun aku tidak akan menitikkan lagi air mata. Kebahagiaanmu mungkin adalah bahagiaku, walau belum tentu kau juga peduli dengan diriku hari ini.
Ini bukan soal aku, atau siapapun yang tak ingin segera pergi. Surat ini adalah semacam janji, yang kau tahu tetap harus aku penuhi. Janji itu hutang menurutku. Sebisa yang aku tulis, walau itu bukan yang terbaik. Namun, semuanya terasa sampai dasar hati.
Tempat kita berbeda, tetapi masih di bawah langit yang sama. Kita hanya terpisah ratusan kilometer jarak yang walau bisa kutempuh dalam beberapa jam perjalanan akan membawaku kembali pada tempat kau berdiri saat ini. Demikian pun, aku tidak mau.
Aku lebih senang untuk melihatmu dari sini, hahaha... sesuatu yang bisa membuatku dianggap gila dan tak waras. Mana mungkin kamu terlihat dari tempat dan kota ku saat ini. Tidak masalah, karena yang terpenting dari semuanya adalah kamu tetap terlihat dan semakin nyata ketika aku melongok ke dalam sini. Di hati.
Di sana, bisa kutemukan banyak sekali cerita-cerita tentangmu. Senyummu, hela nafasmu, citra wajahmu, setiap hal yang pernah kita berdua lakukan. Itu sudah cukup.
Apakah di sana sekarang kamu bahagia? Sepertinya memang demikian yang aku lihat. Syukurlah, karena Tuhan tetap menyayangimu lebih dari yang kamu perlu.

Aku masih tetap akan menyapamu dan mengingatmu. Bahkan kalau kamu mengijinkanku, untuk tetap melibatkanmu dalam setiap hal, hari-hari yang membahagiakanku.
Cukup dulu surat dariku. Semoga kau tidak bosan untuk kembali membuka sebuah amplop coklat dan secarik kertas dengan tulisan yang sedikit tidak rapi, esok hari. Itu suratku. Aku berusaha untuk menemani dirimu dengan caraku dan setiap goresan pena dari tanganku.

Jangan bersedih, Kecil. Aku masih di sini jika kau perlu.


bertemu terang, dariku Edu.


====================
Edutria, 2011. Surat pertama untukmu dalam 30 hari ke depan.

Wednesday, January 12, 2011

Hujan Membawaku Kembali

photo courtesy: google.com

kalau hujan itu titik rindu, ku punguti satu-satu; kusimpan rapi dalam toples hati -Edutria

Hujan selalu menjadi penyegar dahaga dalam hati, kala mengenang engkau yang tak lagi menjejak kaki di sini.
Hujan, membebaskan aku dari gelepar kehausan yang menghimpit, lumpuh dan penasaran dalam ruang lingkup bernama perasaan.
Hujan ini membasuh. Membersihkan aku dari segala macam keluh. Mencipta hati semula keruh, bersih dan bersinar teduh.
Kalau hujan adalah hal yang ku tunggu; lewat rintiknya kan kutitip rindu. Ketika sampai tempatmu, itu rindu yang kujaga hanya untukmu.

.... ah sudahlah...
Hujan memang mengisyaratkan aku untuk tidur cepat. Setidaknya untuk sekali lagi malam ini...

 
==============
Edutria, 2011. Terdampar malam itu dalam keremangan cahaya dan himpitan udara di 140 karakter.