Sunday, July 4, 2010

Bintang Jatuh


"ketika kau melihat bintang jatuh, percaya atau tidak, usahakan untuk mengucap barang sedikit keinginanmu atau cita-citamu. Tuhan akan mendengar doamu..." -Bapak

Jogjakarta, Juli 2005
Dari kecil aku selalu penasaran dengan yang orang bilang tentang bintang jatuh. Aku sendiri tidak pernah sekali melihat fenomena itu secara langsung dengan kedua mataku. Namun aku sendiri yakin suatu saat, entah itu kapan aku pasti bisa melihat bintang itu. Aku selama ini hanya membayangkan sendiri dalam imajinasiku yang bermain-main di tempurung otakku. Seperti apakah bintang itu, sehingga banyak orang termasuk teman-temanku begitu antusias ingin melihat sendiri keajaiban Tuhan yang satu itu.
Satu hal yang pasti, memang aku pernah melihat seperti apa rupa bintang jatuh tersebut dalam film-film kartun dan dongeng-dongeng anak yang aku lihat dan aku baca. Ada sebuah ketakjuban tersendiri karenanya. Aku terbayang :puppyeyes:, duduk disebuah padang rumput yang luas disuatu malam, kemudian dengan kedua bola mata anak kecil yang aku punya, gugusan-gugusan bintang itu berseliweran dihadapanku dalam area langit maha luas. Betapa indahnya saat itu. Aaahh... aku hanya semakin terjebak dalam imajinasiku sendiri. :blush:
Malam ini, aku kembali menyusuri jalanan kota Jogjakarta sendirian. Aku ingat, itu adalah kali pertama aku keluyuran malam-malam di sebuah kota lain tak jauh dari tempat tinggalku, Magelang. Aku memang dari dulu menyenangi kegiatan jalan, travelling, hiking, backpacking dan sejenisnya. Biasanya bersama dengan beberapa sahabatku. Kali ini lain, aku sendiri. Niatku pada awalnya adalah melepas penat setelah ujian dan pengumuman kelulusan dari sekolah menengah atas. Menghabiskan malam di kota Jogja adalah salah satu favoritku selama ini. Jarak yang hanya sekitar satu jam perjalanan dari Magelang, membuatku betah untuk terus menyambangi kota Gudeg dan pelajar ini.
Kini posisiku tak jauh dari Tugu Jogja yang terkenal itu. Setiap malam, dijalan ini seolah berubah menjadi sebuah pasar klithikan begitu orang menyebut. Klithikan dalam bahasa Jawa berarti, barang-barang bekas. Tapi di Jalan Mangkubumi yang malam itu aku lewati, bukan barang bekas saja yang terlihat dijajakan. Kaos, poster, bahkan telepon seluler ikut pula ditawarkan. Aku ingat, beberapa hari yang lalu aku baru kembali dari pasar klithikan tersebut untuk mencari sebuah poster yang sudah lama aku cari. Final Fantasi VII, yang bahkan sampai hari ini masih setia menggantung di kamar pribadiku di Magelang. Aku memang sengaja tidak pernah melepaskannya sejak pertama kali aku memasangnya di dinding. Masih otentik, karena Bapak dan Ibu tidak juga ikut mengubah letaknya.
Aku berhenti memandang langit yang malam itu tampak cerah hingga kumpulan bintang-bintang berkelap-kelip dalam pendar warnanya seolah menghias malam dengan bulan bersinar penuh. Alangkah indahnya. Ada satu hal yang tetap aku cari malam itu. Bintang jatuh.
Tanpa sadar, aku menengadahkan wajah ke hamparan langit malam. Kagum dengan karya Sang Pencipta yang tiada tara. Namun, disalah satu sisi mataku mencari kesana kemari dimanakah gerangan dengan yang orang sebut dengan bintang jatuh itu? Hatiku berharap malam ini kalau Tuhan mengijinkan, aku pasti bisa melihatnya walau itu cuma sekali.
Langit itu kosong, bintang tidak terlihat memenuhi halamannya. Ada beberapa, hanya bintang yang kecil. Aku yakin itu bukan mimpi ketika tiba-tiba sebuah cahaya bergerak cepat dan terang membentuk sebuah ekor yang panjang di akhirnya. Itu bintang jatuh. Aku ingat kata-kata Bapakku. Segera hatiku, mengucap beberapa doa dengan keyakinan bahwa semesta akan mendengar dan kemudian menyampaikannya kepada Tuhan. Bukan hal yang muluk-muluk dipikiranku hanya ada permintaan sederhana saja. Kejadian supercepat itu terasa membekas dalam benakku. Aku melihat sendiri bintang itu dengan cahaya putihnya yang terang. Namun, aku sendiri heran, mengapa orang disekitarku tidak kelihatan seperti baru saja melihat bintang itu? Apa hanya aku, manusia beruntung malam itu?
Kembali kulangkahkan kaki menjauh dari Jalan Mangkubumi. Menyusuri jalan kearah Malioboro. Kulongok jam digital pada ponselku. Sudah pukul 22.00. Kemalaman. Terlalu riskan untukku kembali ke Magelang, malam itu juga selain memang sudah tidak ada kendaraan lagi yang mengarah kesana, Kalaupun ada, itupun hanya taksi yang aku sendiri tidak mampu untuk membayar dengan kantong ukuran pelajar ingusan sepertiku. Antara bimbang dan takut, aku memutuskan untuk mencari angkringan dekat Stasiun Tugu untuk mencari sedikit makanan yang sedari tadi diminta oleh cacing-cacing di perutku. Aku pikir, menghabiskan malam dengan mengobrol ngalor ngidul dalam angkringan sepertinya seru juga. Itung-itung nambah teman.
Seorang Bapak-bapak paruh baya menyapaku, "Malam-malam kok masih disini, Dek. Rumahnya dimana?" dengan logat Jawa yang halus.
"Inggih, Pak. Saya kemalaman. Saya dari Magelang" dengan sopan aku menjawab pertanyaan si Bapak.
"Wah, rawan. Mending kamu malam ini ke Giwangan saja kalau tidak menginap di hotel. Disana bisa tidur di ruang tunggunya. Aman kok." Bapak itu menyarankan.
"Inggih, Pak. Maturnuwun. Saya disini dulu saja."
Semakin malam kantuk menyerangku. Pukul 00.00 dan sepertinya aku ingin menuruti saran Bapak-bapak tadi yang sekarang sudah beranjak dari angkringan itu. Sebentar, Giwangan itu cukup jauh dari Malioboro dan ini sudah tengah malam. Gila... mau bunuh diri apa kalau aku maksa. Tapi tidur di Malioboro pun juga bukan solusi yang baik. Bisa-bisa aku yang digaruk petugas, apalagi KTP-ku belum jadi. :takot:
Ditengah, kebingunganku ada seorang tukang becak yang mendekatiku. Beliau menawarkan untuk mengantarku ke terminal Jombor. Terminal dalam kota yang biasa aku naik bus untuk pulang ke Magelang. Boleh juga daripada jauh ke Giwangan. Becak kubayar Rp 10.000 dan diantarnya aku ke terminal tersebut. Aku memilih sudut yang aman untuk beristirahat, menunggu bus pertama ke Magelang sekitar pukul 04.00. Barang-barang dan tas ransel aku jadikan bantal, cuma itu yang aku anggap aman dari tangan-tangan jahil. Hei, sebenarnya pun aku agak was-was juga dengan istirahat malam ini. Bisa saja aku ditodong orang atau hal buruk lainnya. Sudahlah, cukup berdoa dan meminta perlindungan Tuhan buat malam ini. :sleep:
Alarm ponsel berbunyi. Sudah pagi. Aku mengecek semua barang-barangku. Masih utuh. Terima kasih Tuhan, aku masih bisa bernafas dan bertemu kembali dengan pagi. Bus Ramayana terlihat sudah standby di pintu masuk terminal. Bergegas aku naik untuk pulang kerumah. Hihihi... pasti nanti aku akan diinterogasi habis-habisan oleh Bapakku. Ah, biarin sajalah, yang jelas aku baru saja menikmati petualangan kecilku dan tanpa sengaja aku dapat bonus sebuah Bintang Jatuh yang tertangkap kedua mataku...:devilishgrin:
***

Jakarta, Juli 2010
Ini sudah lima tahun sejak aku melihat bintang jatuh dan tak pernah satu kalipun setelahnya aku melihat kembali. Dan ketika kau tanya apakah permintaanku terkabul? Aku akan menjawab dengan yakin. Iya, doaku terkabul. Siang harinya setelah aku pulang dari Jogjakarta dan sisanya beberapa tahun terakhir. Itu bukan kebetulan, karena aku tak percaya kebetulan. Semua didunia ini hanyalah kumpulan konspirasi dari semesta dan Sang Pemilik Hidup. Percaya saja kata-kataku. Kelak, ketika kau melihat sendiri bintang jatuh itu. Tersenyumlah dan segera naikkan pintamu. Semesta sedang berhenti disitu dan menangkap setiap kata dan kalimat yang terucap dari bibirmu. Dia yang akan mengirimkan setiap sinyal dan pesanmu kepada Tuhan, Sang Pemilik Hidup.
***

===================
Edutria, 2010. Tiba-tiba aku ingin menulis kembali kisah ini untuk kau baca.

P.S: kau pernah melihat bintang jatuh juga? Berbagilah denganku. Aku ingin dengar ceritamu...:ayuk: sebelumnya, aku juga pernah kok tidur menggelandang di jalan Malioboro dengan seorang sahabatku karena ingin mencoba sensasi baru tidur disitu. Ah, aku memang gila...:sinchan

No comments:

Post a Comment