Thursday, May 27, 2010

Sesosok Kau untuk Sekeping Hatiku... (inspired by true story)

terima kasihku untuk seseorang hingga bisa aku buat cerita ini..

***

Sudut ruangan tak bertuan, di pertengahan bulan April
Aku secara tidak sengaja membuka kembali arsip surat-surat elektronik yang aku kirim dan terima, aku menemukan sebuah surat yang dulu pernah dikirimkan untuk seseorang yang begitu berarti buat diriku, mungkin sampai saat ini. Kuingat, surat itu ditulis ketika hubungan ku dan dia mulai renggang bahkan boleh dikatakan sedang dalam titik terendah sepanjang perjalanan hubungan kita berdua. Entah, tiba-tiba aku bisa menulis surat yang menurut aku begitu indah ketika aku membaca kembali berulang-ulang. Inikah sebenarnya apa yang aku rasakan? Ini sedikit petikan surat tersebut.


Dear Kecilku,

*aku ingin sekali membuatmu bahagia, bukan karena dan untuk diriku sendiri, tetapi karena dirimu. walaupun untuk itu aku harus merelakan dan mengorbankan apa yang aku punya termasuk jiwaku.

*ketika aku berada didekatmu, sepertinya aku ingin sekali memelukmu dan memegang erat tanganmu. aku tidak tahu kenapa karena aku merasakan kenyamanan dan kedamaian ketika aku bersamamu.

*ketika aku melihatmu menangis, aku pun merasakan hal yang sama. aku bersedia sebagai tempat bersandar untuk menumpahkan air matamu dan duduk bersama-sama mencari sebuah jalan keluar.

*aku memilihmu bukan dari mataku ketika melihatmu, karena aku melihat dari hatimu dan menurutku, kamu adalah seseorang yg telah dikirim Tuhan untuk menemani hari-hariku dan memberikan sebuah keceriaan didalamnya.

*aku bahkan tidak merasa marah atau sakit hati ketika kamu menyakiti atau mengecewakanku. namun aku juga tidak menangis karenanya, aku cukup mendoakan bahwa semua masih terdapat harapan dan akan berjalan dengan baik pada suatu saat. karena tidak ada satupun manusia yang sempurna, kita ada untuk saling melengkapi apa yang tidak ada dalam diri masing-masing

*saat ini, aku memang hanya bisa menantimu disini. aku tetap berusaha setia dan tulus serta bertanggungjawab dengan semua yang sudah aku katakan sebelumnya. namun, bila nanti ternyata kamu memang tidak bisa lagi bersamaku, aku akan merelakan dan membiarkanmu memilih mana yang terbaik untuk dirimu.

*ingin sekali aku terus ada disampingmu, tidak peduli bagaimana keadaanmu, dan berusaha menjaga serta menemanimu ketika kamu membutuhkan sosok diriku.

*ini adalah soal memberi dan menerima, namun aku selalu berusaha untuk memberi dengan rela tanpa mengharap balasan apa-apa. bagiku, melihatmu lebih baik adalah hal yang paling tak ternilai dalam hidupku....


aku selalu disini untukmu,
yang tetap mencintai dan menyayangimu ♥
sosokmu, akan selalu bertahan dan hidup dalam setiap kenangan serta jalan-jalanku. Kau tahu, bahwa rasaku padamu tetap dan tak pernah berubah. Tetap seperti dulu dengan segala hal baik yang aku mau....

Dengan cinta, dariku...


Kembali kututup arsip dan folder dalam kotak masuk surat elektronik itu. Aku tak mau semakin larut dalam kesedihanku. Aku, seorang Ardi pasti cukup kuat untuk menerima semuanya. Biarlah, mungkin ini yang terbaik. Aku sadar, terkadang rentang waktu dan jarak antara kita cukup manjur untuk menyembuhkan luka. Masing-masing saling mengintrospeksi diri dan mulai mendengar kata hati. Masihkah ada rasa cinta yang kini seakan mati? Hanya kita yang nanti akan mengerti seiring waktu, lambat namun takkan pernah berhenti...




No comments:

Post a Comment