Friday, January 29, 2010

A loving lifes

“A touching story worth reading.”
~ Author Unknown
Dear Patrick,
I was then an only child who had everything I could ever want. But even a pretty, spoiled and rich kid could get lonely once in a while so when Mom told me that she was pregnant, I was ecstatic. I imagined how wonderful you would be and how we’d always be together and how much you would look like me. So, when you were born, I looked at your tiny hands and feet and marveled at how beautiful you were.
We took you home and I showed you proudly to my friends. They would touch you and sometimes pinch you, but you never reacted. When you were five months old, some things began to bother Mom. You seemed so unmoving and numb, and your cry sounded odd — almost like a kitten’s. So we brought you to many doctors.
The thirteenth doctor who looked at you quietly said you have the “cry du chat” (pronounced Kree-do-sha) syndrome, “cry of the cat” in French.
When I asked what that meant, he looked at me with pity and softly said, “Your brother will never walk nor talk.” The doctor told us that it is a condition that afflicts one in 50,000 babies, rendering victims severely retarded. Mom was shocked and I was furious. I thought it was unfair.
When we went home, Mom took you in her arms and cried. I looked at you and realized that word will get around that you’re not normal. So to hold on to my popularity, I did the unthinkable … I disowned you. Mom and Dad didn’t know but I steeled myself not to love you as you grew. Mom and Dad showered you love and attention and that made me bitter. And as the years passed, that bitterness turned to anger, and then hate.
Mom never gave up on you. She knew she had to do it for your sake.
Everytime she put your toys down, you’d roll instead of crawl. I watched her heart break every time she took away your toys and strapped your tummy with foam so you couldn’t roll. You struggle and you’re cry in that pitiful way, the cry of the kitten. But she still didn’t give up.
And then one day, you defied what all your doctors said — you crawled.
When mom saw this, she knew you would eventually walk. So when you were still crawling at age four, she’d put you on the grass with only your diapers on knowing that you hate the feel of the grass on your skin.
Then she’d leave you there. I would sometimes watch from the windows and smile at your discomfort. You would crawl to the sidewalk and Mom would put you back. Again and again, Mom repeated this on the lawn. Until one day, Mom saw you pull yourself up and toddle off the grass as fast as your little legs could carry you.
Laughing and crying, she shouted for Dad and I to come. Dad hugged you crying openly.
I watched from my bedroom window this heartbreaking scene.
Over the years, Mom taught you to speak, read and write. From then on, I would sometime see you walk outside, smell the flowers, marvel at the birds, or just smile at no one. I began to see the beauty of the world through your eyes. It was then that I realized that you were my brother and no matter how much I tried to hate you, I couldn’t, because I had grown to love you.
During the next few days, we again became acquainted with each other. I would buy you toys and give you all the love that a sister could ever give to her brother. And you would reward me by smiling and hugging me.
But I guess, you were never really meant for us. On your tenth birthday, you felt severe headaches. The doctor’s diagnosis –leukemia. Mom gasped and Dad held her, while I fought hard to keep my tears from falling. At that moment, I loved you all the more. I couldn’t even bear to leave your side. Then the doctors told us that your only hope is to have a bonemarrow transplant. You became the subject of a nationwide donor search. When at last we found the right match, you were too sick, and the doctor reluctantly ruled out the operations. Since then, you underwent chemotherapy and radiation.
Even at the end, you continued to pursue life. Just a month before you died, you made me draw up a list of things you wanted to do when you got out of the hospital. Two days after the list was completed, you asked the doctors to send you home. There, we ate ice cream and cake, run across the grass, flew kites, went fishing, took pictures of one another and let the balloons fly. I remember the last conversation that we had. You said that if you die, and if I need of help, I could send you a note to heaven by tying it on the string of any balloon and letting it fly. When you said this, I started crying. Then you hugged me. Then again, for the last time, you got sick.
That last night, you asked for water, a back rub, a cuddle. Finally, you went into seizure with tears streaming down your face. Later, at the hospital, you struggled to talk but the words wouldn’t come. I know what you wanted to say. “Hear you,” I whispered. And for the last time, I said, “I’ll always love and I will never forget you. Don’t be afraid. You’ll soon be with God in heaven.” Then, with my tears flowing freely, I watched the bravest boy I had ever known finally stop breathing. Dad, Mom and I cried until I felt as if there were no more tears left. Patrick was finally gone, leaving us behind. 
From then on, you were my source of inspiration. You showed me how to love life and live to the fullest. With your simplicity and honesty, you showed me a world full of love and caring. And you made me realize that the most important thing in this life is to continue loving without asking why or how and without setting any limit.
Thank you, my little brother, for all these.

Jika kau, aku dan kita untuk sebuah kenangan terindah

 Kenangan Terindah - Samsons
Aku yang lemah tanpamu
Aku yang rentan karena
Cinta yang t'lah hilang
Darimu yang mampu menyanjungku

Selama mata terbuka
Sampai jantung tak berdetak
Selama itu pun aku mampu
Untuk mengenangmu

Darimu kutemukan hidupku
Bagiku kaulah cinta sejati

Chorus :
Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
Kan kujadikan kau
Kenangan yang terindah dalam hidupku
Namun takkan mudah bagiku
Meninggalkan jejak hidupku
Yang t'lah terukir abadi
Sebagai kenangan yang terindah

Memang terkadang sulit untuk melupakan seseorang yang pernah hadir dan mengisi kehidupan kita. terlebih bila orang itu adalah seseorang yang punya arti khusus dalam hidup kita. Begitu banyak kenangan atau ingatan tentang orang itu yang kadang membuat kita lebih baik atau kadang-kadang membuat kita menitikkan air mata. Berat memang ketika harus mengikhlaskan untuk sebuah hal yang mungkin lebih baik untuk kita ataupun dirinya. Terkadang, begitu larutnya kita dengan penyesalan dan kesedihan karena kehilangannya membuat kita seakan tidak menemukan suatu gairah dan kualitas hidup yang lebih baik untuk waktu yang akan datang. Semua memang telah sesuai dengan jalannya. Tuhan menjawab doa dengan tiga jalan. Dia akan berkata YA dan anda akan dapat apa yang anda inginkan. Dia berkata TIDAK dan memberimu sesuatu atau seseorang yang lebih baik. Kemudian, Dia berkata TUNGGULAH, dan memberimu yang terbaik dari yang ada pada waktuNya. Saya mulai mencoba untuk mengerti hal ini. Bukan hal yang mudah pastinya, karena semua pada akhirnya memerlukan sebuah proses. Ketika saya ingin melupakan seseorang yang telah berjalan pergi, butuh perjuangan yang ekstra keras bahkan sampai hari ini. Menyembuhkan hati saya adalah yang terpenting untuk saat. Karena semakin saya berusaha sekuat tenaga untuk melenyapkan bayangannya dari hidup saya, tanpa sadar saya membuat hati saya untuk terus memikirkannya. Ya, saya memang menyayanginya.
Ikhlas, adalah jawaban yang tepat untuk saya saat ini. Cukup mendoakannya saja sudah membuat saya merasa lebih baik. Pada saatnya, semua akan berjalan dengan indah oleh rencana Tuhan...
Biarlah saat ini, seorang Win tetap hidup dalam kenangan saya. Dengannya saya belajar banyak untuk tetap tersenyum dalam segala hal. 

Berkeras mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik.
Mungkin memang pedih pada awalnya... mungkin butuh bulan berbilang tahun untuk menyeka bening yang terkadang masih mengalir....

Namun kebahagiaan memang tak selamanya... dan kesedihan takkan mengembalikan apa yang telah berlalu...

Kita semua harus memutuskan kapan suatu hal atau seseorang masuk dalam
hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain.
Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya.

" Semoga kita bisa menjadi orang yg ikhlas yang tetap masih bisa memberikan senyum terindah kita pada dunia".

di sela-sela aktivitas,
kelam yang mengharap fajar pagi

Wednesday, January 27, 2010

Terikat erat

untuk sebentuk Win...
memang tidak mudah ketika aku mencoba mengubur dan menutup rapat-rapat kenangan itu. rasanya kau terus saja hadir dalam hari-hariku, setiap malam dalam tidurku. apa aku memang menyayangimu? bahkan ketika aku tersadar bahwa kau pernah menyakitiku, mencoretku dari bagian dari teman-temanmu, atau mungkin juga dari ingatan dan kenangan dalam hidupmu, aku tidak serta merta membencimu. aku bahkan terus berdoa agar aku memperoleh sebuah harapan dan kesempatan dikemudian hari untuk memperbaiki semua yang terjadi.
boleh saja saat itu kau bilang bukan yang terbaik untuk aku, tapi kenapa masih saja kau lanjutkan untuk mengenal diriku? akupun tidak mencoba untuk menjadi satu-satunya yang terbaik dalam hidupmu, karena kuingin kau tahu bahwa sebenarnya aku hanya ingin menjadi salah satu bagian dari teman-temanmu. 
aku memulai segala sesuatu dengan baik, namun pada kenyataannya aku mendapat akhir dari semuanya dengan segala hal yang pahit.
saat ini, aku hanya ingin melupakanmu. mencoba untuk berpikir lebih dewasa dan tetap ikhlas dengan ini semua. menata kembali hidupku dan terus berdoa agar aku bisa memperoleh kembali semua hal yang baik dalam hidupku.

yang terakhir untukmu, bahwa aku terus merindukanmu, merindukan saat-saat dimana aku dan kamu pernah berbagi, mengisi hari-hari dengan cerita-cerita dan canda tawa. aku mungkin tidak ada dihatimu untuk saat ini, tapi satu hal yang ingin ku bagi bahwa aku tidak akan pernah bisa untuk berhenti menyayangimu...

dalam kelam yang mengharap fajar pagi.

Let it go...

I spent so many nights thinking about you, my heart spent to many hours missing you, I wasted my time being with you, and now it's time to move on.
One day you'll love me, the way I loved you. One day you'll think of me the way I thought of you. One day you'll cry for me, the way I cried for you. One day you'll want me, but I won't want you.
You have to forgive to forget, and forget, to feel again.
You either let go for two reasons.... you've learned enough to want to, or you've been hurt enough you have to.

Tuesday, January 26, 2010

Sebuah surat untuk Tuhan

 Aku selalu percaya bahwa semua memang ada saatnya. Saat untuk datang dan ada saat untuk pergi. Ada saat untuk bersama orang lain, namun pada suatu waktu ada saat untuk  lebih baik sendiri. Ada saat untuk menabur dan ada pula saat kita menuai hasilnya. Ada saat untuk menangis, ada saat untuk tersenyum. Ada saat untuk mencintai dan akhirnya ada saat untuk membenci. Namun, ketika sebuah percobaan datang, seringkali aku merasa Engkau jauh dariku. Engkau tidak peduli atau bahkan lupa bahwa Engkau pernah menciptakan diriku. Sepertinya, hatiku mulai tertutup untuk mendengar atau sekedar tahu bahwa Engkau selalu ada disetiap waktuku. Aku percaya, bahwa ada nyanyian indah yang Kau nyanyikan untuk menghiburku. Namun entah mengapa, aku tidak mendengar semuanya itu. Yang ada hanyalah rasa memberontak yang terus hadir dalam hatiku. Bahkan tetesan air mata ini pun aku rasa sudah tidak mampu aku lakukan. Aku menjauh dariMu. Apakah aku hanya menjadi sebuah bagian dari permainanMu? Aku hanya ingin berkata lebih baik Engkau selesaikan saja permainan atas diriku ini.
Namun, seketika itu pula aku sadar, Tuhan. Bahwa memang semua adalah jalan yang terbaik untuk aku, meskipun kadangkala ukuran terbaik itu bukan menurut aku, karena yang terbaik untuk aku belum tentu jadi yang terbaik untukMu, sedang ukuran terbaik menurut rencanaMu sudah pasti terbaik untuk hidupku walaupun itu mungkin menyakitkan. Aku mulai bisa bersyukur Tuhan untuk semua percobaan atau berbagai hal yang pernah hadir dalam hidupku. Baik, buruk, suka, duka, pahit, manis semua memang pada akhirnya membentuk aku menjadi seorang pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Mewarnai hari-hariku dan menorehkan kenangan dalam lembar-lembar buku hidupku.
Akhirnya, ketika aku mulai merendahkan hati dihadapanMu dalam doa malamku, aku mendengar dalam hatiku bahwa Engkau senantiasa mendengar semua keluh kesahku dan terus ada mendampingi setiap langkah hidupku. Sebuah sapaan lembut yang begitu mengena dalam hatiku...
"Anak-Ku hal yang paling membuatKu kecewa adalah ketika Aku tidak kau percayai.. Namun dengan sangat mudah dan cepat kekecewaanKu tiba-tiba hilang tak bersisa, saat kau kembali berlari mencoba meraih tanganKu yang terbuka yang siap merangkulmu, lalu kau memanggilKu Bapa. Karena ketahuilah sedetikpun tak pernah Kualihkan pandanganKu daripadamu, karena kau biji mata-Ku..."

Terima kasih Tuhan
untuk saat terindah dalam hidup

Monday, January 25, 2010

Trip to Bogor Botanical Garden

The Bogor Botanical Gardens are located 60 km south of the capital of Jakarta in Bogor, Indonesia. The botanical gardens are situated in the city center of Bogor and adjoin the Istana Bogor (Presidential Palace). The gardens cover more than 80 hectares and was build by Java's Dutch Governor-General Gustaaf Willem, Baron van Imhoff who was governor of Java at the time.
The extensive grounds of the presidential palace were converted into the gardens by the German-born Dutch botanist, Professor Casper George Carl Reinwardt. The gardens officially opened in 1817 as 's Lands Plantentuin ('National Botanical Garden') and were used to research and develop plants and seeds from other parts of the Indonesian archipelago for cultivation during the 19th century. This is a tradition that continues today and contributes to the garden's reputation as a major center for botanical research. Today the garden contains more than 15,000 species of trees and plants located among streams and lotus ponds. There are 400 types of exceptional palms to be found along the extensive lawns and avenues, helping the gardens create a refuge for more than 50 different varieties of birds and for groups of bats roosting high in the trees. The bats can be easily detected by the noise they make while competing for space under the canopies. The orchid  houses contain some 3000 varieties.
Main gate of garden, Bogor Presidential Palace and inside of garden

Olivia Raffles Monument

River and hanging bridge

View from deDaunan cafe, a greenfield on valley with lotus, large ponds and water fountain.

green grass field
peoples enjoying themselves on field

The writer

Capture of Kota Toea Jakarta

Before I went to Bogor yesterday while waiting for the train arrived, I walked around the Jakarta Kota station. Yes, walked around the old city of Jakarta. Its located at West Jakarta. Perhaps because the air is hot and very hot sunshine that morning. I just took a few pictures in front of Jakarta History Museum or most of citizens called it Fattahilah Museum. Lets check it out...

A city hall view 

People activities at town square, front of museum
From Museum Keramik

Inside of museum

 A postal museum and field front of museum

Cafe Batavia, old decoration and vintage cafe next of museum

Friday, January 22, 2010

Lo bukan temen gw....

Kalau saya ingat kata-kata itu, saya merasakan sakit dan sedih dalam hati saya. Seakan semuanya luluh lantak pertemanan yang sudah kami bangun. Baru kali ini ada seorang teman yang mengatakan semua itu kepada saya. "lo bukan temen gw". Bukan teman lama saya, tapi dia adalah teman baru yang saya peroleh dari jejaring sosial. Dengannya saya merasa lebih baik dan sudah saya anggap seperti adik saya karena rentang umur saya yang berada beberapa tahun diatasnya. Namun siang itu, setelah sekian lama kami miss communication karena suatu hal atau kesibukan masing-masing. Siang itu saya chatting dengannya. Mukjizat!! karena selama ini semua pesan saya tidak ditanggapinya. Cukup senang setelahnya namun tidak berlangsung lama ketika dia menulis kata-kata itu. Jelegerr!!! Seumur hidup saya, tidak pernah terucap kata itu barang sekali ke semua orang yang pernah ada dan hadir dalam hidup saya karena saya sadar kita ini adalah makhluk sosial yang bergantung pada orang lain disamping kemampuan diri kita sendiri. Mungkin saya salah dengan teman baru saya ini, saya juga tidak tahu, tapi sepertinya demikian. Sayapun berinisiatif untuk meminta maaf terlebih dulu, tapi kelihatannya dia belum bisa menerima saya kembali karena ulah seseorang yang saya sendiri tidak mengerti apa dan bagaimana meskipun saya kemudian tahu siapa orang yang membuat keruh suasana. Saya harus bersabar, semua memang ada waktunya. Mungkin ada rencana Tuhan yang indah setelah kejadian ini. Yang jelas untuk saat ini, saya lebih berusaha untuk melihat kembali kedalam diri saya daripada hanya sekedar merenungi semua yang sudah terjadi, dan berusaha untuk jadi yang lebih baik untuk teman-teman saya yang masih mau berinteraksi dengan saya. Jujur, saya memang hanya mempunyai sedikit sekali teman tapi mereka adalah teman-teman yang dekat dengan saya. Bukan karena saya pilih-pilih tapi lebih karena saya harus merasa nyaman dengan orang itu baru saya bisa open dengan pribadi saya. 
Semoga suatu hari nanti, saya bisa kembali memperbaiki semua yang saat ini retak. Memulai kembali dari awal pertemanan kami. Entah kapan, hanya waktu yang akan menjawab. Semua saya serahkan pada kuat tangan Tuhan yang akan pimpin semua. Dengan ini saya merasa didewasakan dalam segala hal. Thanks God.
Untuk seorang Win, kamu masih ada dan terus ada dalam hati saya karena kamu adalah salah satu teman terbaik yang pernah hadir dalam hidup saya. Terima kasih sudah mewarnai hari-hari saya dan membuat saya merasa lebih baik disaat saya kehilangan harapan...

Huahh... copet nekat!!!

Pagi ini tumben matahari ga malu-malu buat bersinar. Cerah tapi juga panas banget. Gapapa deh setelah beberapa hari ini mendung and hujan gede. Puji Tuhan. 
Rasanya masih sama seperti pagi-pagi yang lalu, dimana saya harus gedebak-gedebuk nyiapin semua buat ngantor. Mana hari ini kesiangan pula, tambah hot pula nih badan saya. Tapi selalu ada hal yang baru tiap pagi. Thanks God selalu kasih inspirasi baru buat saya, semangat baru, tenaga baru dan yang pasti masih diberi kesempatan buat beraktifitas lagi...
Di metromini, sepi hari ini. Saya sih kebagian berdiri karena ngalah sama mbak-mbak. Bisa aja duduk, tapi alamak sebelahnya punya porsi badan yang big semua. Mana cukup bangku belakang buat 5 orang termasuk saya... Ahh berdiri sajalah daripada kegencet gajah. Hahaha... Dari sini, blom ada kejadian apapun. Saya sibuk mengecek sms yang masuk dari teman kantor saya, mengecek mukabuku saya, dan kicauan-kicauan saya... TIba-tiba seorang bapak yang duduk dibelakang berdiri dan kelihatannya mau turun. Jadi saya ambil alih bangkunya untuk saya duduk. Henpon pun sudah saya masukkan kembali kedalam tas. Saya duduk seperti biasa dan sama sekali ga curiga sedikitpun dengan bapak ini yang ternyata punya niat ga baik... Entah karena saya mulai ga enak koq mau turun tapi cuman berdiri didepan saya terus, tangannya juga di umpetin dibalik tas travelnya yang boleh saya tebak tidak ada isinya sama sekali. Wah curigation nih. Tangan saya silangkan ke atas sleting tas. Untuk jaga-jaga aja. Koq lama-lama tangannya mepet ke tas saya. Gila nih orang pikir saya, nekat bener. Saya sih ingat betul tas sudah saya tutup rapat dan henpon pun udah masuk. Tidak berapa lama, lah koq ritsleting tas saya kaya ada yang narik padahal tangan saya masih diatas tas. Buset... nih bapak mu ngubek-ubek tas saya. Reflek saat itu saya ingat henpon saya jadi inceran. Secepat kilat saya angkat tas saya dan saya balik menghadap saya. Untung henpon masih tenang di tempatnya. Akhirnya saya liatin dan pelototin bapak itu. Tanpa ngerasa berdosa, tuh orang langsung mundurin tangannya. Sialan!!! Nekat bener sih lu. Saya pun akhirnya perhatiin semua tingkah lakunya. Takutnya dia punya mangsa yang lain. Jadi kalo dia mau beraksi lagi, saya bisa langsung teriak biar digebukin sekalian tuh orang sama satu bus... (sadis!!!). Karena mungkin dia ngerasa kalo saya ngeliatin tingkahnya, bapak-bapak itu akhirnya turun juga. Yeeee... kirain mau turun dari tadi. Ternyata cuman ngincer henpon saya. 

Thanks God... berarti henpon ini masih rejeki saya. Padahal tadi udah jiper juga kalo ilang mampuslah saya. Banyak kenangan yang indah didalam henpon ini.... Secara ga langsung, Tuhan lagi ngingetin saya buat ga mancing orang berniat jahat. Karena kadang bahkan sering saya asyik online, smsan di dalem bus atau keramaian. hahaha... ternyata saya udah di incer. Tapi jadi inget juga waktu kamar kost saya dibobol maling dan henpon juga yang digondol. Mungkin kalo ngangkut TV sama yang lain ga kuat and takut ketauan... hahaha!!!

So, buat semuanya hati-hati aja, terutama didalem bus, angkot, keramaian. Jangan mancing orang buat niat jahat deh (tau kan maksud saya) apalagi di kota besar. Serem... nekat bener yang mau nyopet..

Thursday, January 21, 2010

People come into your life for a reason...

I am writing this note to you to see how big actually you know about your friendship and relationship. Your response will be interesting. Pay attention to what you read. After you have finished reading it, you will know the reason it was post to you. Here goes :

People come into your life for a reason, a season or a lifetime. When you know which one it is, you will know what to do for that person. When someone is in your life for a REASON, it is usually to meet a need you have expressed. They have come to assist you through a difficulty, to provide you with guidance and support, to aid you physically, emotionally or spiritually.
They may seem like a godsend and they are. They are there for the reason you need them to be. Then, without any wrong doing on your part or at an inconvenient time, this person will say or do something to bring the friendship or relationship to an end. Sometimes they die. Sometimes they walk away. Sometimes they act up and force you to take a stand. What we must realize is that our need has been met, our desire fulfilled, and their work is done. The prayer you sent up has been answered and now it is time to move on.

Some people come intoyour life for a SEASON, because your turn has come to share, grow or learn. They bring you an experience of peace or make you laugh. They may teach you something you have never done. They usually give you an unbelievable amount of joy. Believe it. It is real. But only for a season!

a LIFETIME friendship and relationship teach you lifetime lessons, things you have to build upon in order to have a solid emotional foundation. Your job is to accept the lesson, love and care the person and put what you have learned to use in all other relationships and areas of your life. It is said that love is blind but friendship is clairvoyant.

Thank you for being a part of my life, whether you were a REASON, a SEASON or a LIFETIME....

for my unanswered friend...


Lost in Bandung

Ini sebenernya jalan-jalan dadakan saya. Cukup stress dengan rutinitas kantoran di Jakarta membuat saya pengen untuk sejenak nyari udara segar plus sightseeing sejenak. Bosen juga sih kalo niat jalan yang ketemu cuman mall lagi. Jakarta udah terlalu sempit. Apalagi, hello!! ini akhir taun, Dude! gile aja masih terus nongkrong di kantor. Apa ga keriting tuh otak.. yah pekerjaan saya memang tidak bisa ditinggal sampe akhir taun ini, jadilah sisa satu hari yang bisa buat refreshing. Tapi kemana? Bingung juga nentuin dengan free-day cuman sebatas itu. Mikir sana mikir sini, akhirnya ketemu yang pas. BANDUNG. Hehe... tapi kalo diinget, saya kan udah lama ga pergi kesana. Masih sama ga yah bentuknya? Ah cuek aja deh, modal nekat aja daripada ga liburan sama sekali.
Mulai deh browsing informasi tempat wisata, googling peta, kontek-kontekan sama temen yang masih stay di Bandung (untung aja banyak yang masih disana) sekalian diajak jadi guide dan terakhir booking tiket kereta PP. Yes!!! kelar.
Dasar dodol saya lagi kumat, saking pengen memaksimalkan waktu, saya milih kereta yang berangkat paling pagi... ahahahaiii. Makanya dari subuh udah gedebak-gedebuk di rumah buat prepare. Rumah saya jauh lagi dari Gambir, naek taksi koq ya ga ada yang lewat, parahh.. walaupun dapet juga taksi, itupun sopirnya belom mandi plus masih pake sarung. Apa pula ini, saya udah rapi, keren plus wangi; taunya si abang sopir baru bangun. Uhhh kepagian. Pantes aja, nih jalan Sudirman berasa milik bapak moyang.

Nunggu di stasiun ga terlalu lama karena kereta on time berangkatnya. Karena pernah sih liburan ke jogja kemarin pas lebaran, saya sampe harus ngetem 7jam di Tugu karena kereta telat. aduh!! ampun-ampunan deh saat itu. Ga ada yang spesial didalem kereta, standar Indonesialah. Cuman berasa laper aja karena ga sempet makan apapun tadi. Akhirnya pesen deh 1porsi nasi goreng itupun dengan amat sangat terpaksa (makanan restorasi kereta ya gitu deh rasanya) dan harganya pun kdg bikin ngelus dada. Ga enak -- mahal pula. Jiss!!!
Perjalanan kira-kira 3jam lebih dikit. Mau tidur koq ya rasanya sayang buat ngelewatin pemandangan diluar sana apalagi sunrise.. oh tidak! Ngantuk tapi dipaksakan untuk tetep belo' sampe Bandung.

Setelah sampe Bandung, kedodolan saya sepertinya mulai lagi. Di St.Hall saya salah pintu keluar, haizzz gimana cerita tuh. Mana saya tau kalo keluar pintu yang ini arahnya beda sama yang sono. Pantesan angkot yang saya cari koq ga ada. Payahh ni... Alhasil, setelah capek berdiri dan sms ga jelas ke teman, saya mutusin buat masuk stasiun lagi (ada gitu) sapa tau dapet pencerahan. Dengan muka tak berdosa saya bilang aja ke petugas saya nyasar (dorongdongdong). hahaha... mereka cuma tersenyum dan ngijinin saya masuk lagi ke peron. Kan sesuai peraturan, kita harus nunjukin tiket ato bayar berapa gitu untuk bisa masuk ke dalam peron. Yess!! ada untung jg muka saya begitu polos. hahaha...
Tujuan pertama saya adalah ke Dago dulu, ketemu temen saya. Tapi pas buka tas, alamaakk peta saya ketinggalan. haduhh, saya kan buta wilayah Bandung. Ah biarin dehlah kalo nyasar ya balik lagi ke stasiun pikir saya. Setelah dpt angkot ke Dago saya bingung lagi. Nih bayar berapa ya? secara kalo di Jakarta naek metro ya cukup 2000 tau deh kalo Bandung, ah nanya abangnya aja. Lagi celingak celinguk liat keadaan dan bingung udah sampe mana, temen sms saya dan bilang dia baru bisa ketemu jam 2siang karena dia ada dinas dadakan. Jelegerrr!!! mampus pikir saya, ini trus mu turun dimana?? Ampun DJ, beneran nyasar deh. Bingung ga jelas, saya ngomong sama abangnya tanya rute ke Taman Hutan Raya Djuanda (ga tau juga dapet ide darimana). Kata abangnya tinggal ngikutin angkot ini aja trus nanti ganti ojek di terminal Dago. Selamat. But its not the end, entah kesambet setan apa, saya malah turun di RS. Borromeus, lahh koq malah di meeting point dg teman saya. Kan dia lagi dinas. Kacau nih otak saya... Percuma dong tadi nanya sama abangnya. Hahaha kecerobohan yang fatal. 
Cuman bisa tanya sana sini deh ke orang-orang rute ke Taman Hutan Raya. Nyebrang lagi deh..malunya saya ini. Waktu nyari angkot juga rada keder jg, coz menurut info yang saya denger meskipun warna angkot sama tapi jangan sedih.. rute bisa beda. hwhwhw...kenapa ga pake nomor aja sih. Kaya orang bingung dalam angkot, akhirnya dianter juga sama abangnya dengan selamat. Bahkan sampe dicariin ojek segala (makasih bapak... semoga bisa ketemu lagi).

Di taman hutan raya, nothing special. Biasalah hutan gitu dengan pohon-pohon yang berjajar. Cuman karena emang udah niat mau back to nature jadi semua keliatan "wuaaa indahnya". Disini, saya cuman punya waktu 3jam setelah itu saya harus turun lagi karena telah janji dgn teman saya. Perjalanan dimulai. Ngikutin trek yang sudah ada rasanya menyenangkan banget. Saya memang hobi untuk hal-hal yang berbau alam. Menikmati karya sang Pencipta yang luar biasa. Karena sebagai "orang kantoran jakarta" yang tiap hari cuman liat beton aja, jadi berasa kampring deh liat hutan. Tujuan saya adalah curug Maribaya, yang ternyata jauh boo jalan kakinya. Banyak nyemot lagi yang suka nongol ngagetin. bener-bener bikin jantungan karena saya cuman sendiri waktu itu. Lama jalan kaki, koq curugnya ga keliatan sama sekali. begitu liat plang... masih 5km lagi (masih koq lima kilo). Pasrah deh...
Namun pas nyampe memang ada kepuasan batin tersendiri. Curugnya sih biasa, malah yang di Jawa lebih bagus lagi plus bisa turun kedepan curug langsung. Lah kalo yang ini bisa maen air apa nggak wassalam mengingat bawahnya langsung sungai yang deres banget airnya. Antiklimaks!! jadi ga excited deh.. pengennnya maen air ternyata... 
Karena cukup penasaran ada apa ya di hutan seberang curug ini, saya pun lewat jembatan gantung yang tepat diatas curug. FYI, sbenernya naek jembatan gantung adalah nightmare saya. Padahal, jembatannya jg bukan kaya yg difilm yang reyot, lapuk, dll. Tapi karena mungkin overload waktu saya naek, busett... sensasinya bikin sport jantung. Goyang-goyang.. Matilah kalo sampe putus, mana pas di tengah lagi. Pengen lari koq ya penuh orang. bikin malu. Karena stres, saya balik lagi deh... toh hutannya sama ini. Saya mutusin turun gunung karena jam udah mepet dan harus prepare buat ketemuan. Itu artinya saya jalan berkilo-kilo (lagi??) tepar deh pasti besok... Sebenernya bisa naek ojek, tapi kadang suka rese abangnya, apalagi muka saya keliatan seperti salah satu suku, wah bisa digetok. (pengalaman buruk soalnya).

Wuah, setelah 3jam yang cukup "menakjubkan" itu dan ketemu dengan teman saya, rasanya tenang banget karena ga mungkin ilang lagi. Hehehe, setelah reunian dan ngobrol-ngobrol ga jelas. Saatnya ngubek mall (lagi???) yayaya... mau ga mau deh. Pengen tau juga tempat hang out anak bandung kaya apa. Keren juga ternyata. Bikin speechless (mulai deh kampringnya), tapi justru dari sini gokil saya muncul lagi. Tebar pesona kemana-mana, wkwkwk... Makan di kafe sekitaran Ciwalk yang pelayannya bening. Eh kok nyangkut ini hati ke salah satunya. halahhhh... emang ga bisa liat yang bening-bening nganggur. Tapi kalo di liat sih tuh orang memang sepertinya ada peluang. Sabet aja men kata teman saya. Ukey!!! Basa basi ga jelas, setelah mu pulang iseng-iseng kasih tip (prestasi... karena saya ga pernah kasih tip) dan kertas yang isinya nomer hape sama email saya gitu loh. Tebak tebak buah manggis deh hasilnya. Just have fun aja mumpung teman yang traktir... hahahaha. What's the next??? Tuh pelayan sms balik ke saya. Huaaaaa surak-surak bergembira. Yes, saya menang!!!

Setelah puas jalan dan berhubung waktu sudah hampir habis, kita bertiga mutusin buat pulang dan mandi-mandi sekalian saya balik ke Jakarta. untungnya mereka nganter saya sampe depan angkot dan pesen ke abangnya agar saya bener turun di stasiun.. capedeh, kaya anak kecil mau pergi aja. tapi daripada begonya muncul trus nyasar lagi. Gapapa deh.

Pukul 22.00 akhirnya sukses nyampe jakarta. Karena tadinya dipikir saya salah naek kereta. Haduh...haduh... ini saya yang parno ato memang bodoh.

Reflections for today

  • Never explain yourself to any one. Because the person who likes you doesn’t need it, and the person who dislikes you won’t believe it.
  • When we wake up in the morning, we have two simple choice: Go back to sleep and dream, or wake up and chase those dreams. Choice is yours…
  • Don’t make promise when you are in joy. Don’t reply when you are sad. Don’t take decision when you are angry. Think twice…, Act wise.
  • When you keep saying you are busy, then you are never free. When you keep saying you have no time, then you will never have time. When you keep saying that you will do it tomorrow, then your Tomorrow will never come.
  • We make them cry who care for us. We cry for those who never care for us. And we care for those who will never cry for us. This is the truth of life, its strange but true. Once you realise This, its never too late to change.
  • Time is like a river. You cannot touch the same water twice, because the flow that has passed will never pass again. Enjoy every moment of life…

a thankful heart....

I am thankful for everything I have experienced
In this life of mine
For in all I have found
That in my prayer, the answers I find

I am thankful for all the tears I have cried
For they have taught me to appreciate laughter
They have given me the ability to see
The joy that comes after

I am thankful for the storms I have encountered
Knowing that the rainbow is at the end
Realization that they are only temporal
That with time all will mend

I am thankful for all the relationships
For the good and yes, for the bad
For they have given life to my emotions
An appreciation of what I have had

I am thankful for the pain I have known
It has given a compassion for the suffering
An ability to reach out to others
An appreciation of little things

I am thankful for the hunger and thirst
That I have had to go through
I appreciate having food before me
And sharing it with others too

Most of all, I am thankful for His Grace
For the provisions that it brings
How it has provided for
Me in all things...

from my friend note

Wednesday, January 20, 2010

Surat antar dua orang sahabat....

Setiap kejadian selalu ada hikmah tersendiri ketika kita menerimanya sebagai suatu seni yang indah dalam hidup….
Karena seperti melukis tanpa penghapus, begitulah kehidupan ini. Sehingga setiap kecil goresan tidak dapat di hapus atau diulang… Namun, hanya dapat dipandang sebagai lukisan pribadi dari sebuah kebenaran dan sejarah diri sendiri.
Tahun 2009, aku merasa ada banyak sekali hal-hal yang sudah aku lalui dan lakukan. Baik itu harapan – harapan dari tahun yang telah lalu maupun hal – hal baru yang kemudian aku temukan sesudahnya. Bahkan tidak sedikit kesalahan – kesalahan yang sudah aku lakukan di sepanjang tahun ini sampai ketika aku mengetik tulisan ini dengan komputer pribadiku.
Satu hal yang pasti untuk aku lakukan mulai detik ini adalah mengubah sikap dan kebiasaan – kebiasaanku, tentunya aku ingin mengubah semua kebiasaan yang tidak baik dalam diriku, yang pada akhirnya turut pula untuk membangun sifat dan karakterku menjadi lebih baik walaupun itu sedikit, karena karakterku telah digariskan Tuhan untuk tetap seperti ini melalui garis keturunan kedua orang tuaku, kecuali Tuhan memberikan aku suatu keajaiban besar yang akhirnya mengubah sifat atau karakterku. Bukan hal mudah pastinya. Butuh lebih dari sekedar niat dan usaha yang keras, bahkan harus didukung dengan lingkungan sekitar maupun orang – orang yang dekat dengan kehidupan kita untuk membantu mewujudkan mimpi atau harapan kita, meski itu hanya dalam bentuk suatu dukungan. Tidak lupa pula untuk tetap berdoa dan menyerahkan semua ini kepada kuat tangan Tuhan. Aku tidak mampu bahkan tidak sanggup kalau hanya mengandalkan kuat tanganku. Tanpa hal itu, semua yang telah aku rencanakan atau aku harapkan tidak akan pernah terjadi.
Tahun ini, cukup menjadi sebuah perjalanan yang panjang, penuh warna dan liku – liku. Aku banyak sekali menghadapi dan bertarung dengan hal – hal yang manis maupun pahit yang oleh karena itu aku merasa satu langkah lebih maju untuk menjadi seseorang yang berpikiran lebih dewasa. Aku menyebut tahun ini sebagai tahun keterbukaan bagi diriku. Karena di tahun ini pula, pada pertengahan perjalanan, aku mulai bisa menerima dan memahami semua hal yang ada dalam diriku. Bahkan ketika aku mendapati pada akhirnya, aku sedikit berbeda dengan manusia – manusia diluar sana. Ya, aku merasa ada sesuatu yang salah dengan diriku sendiri. Apakah aku bisa disebut normal atau tidak oleh kebanyakan orang, aku sendiri tidak bisa menjawabnya. Biar semua orang yang memutuskan sesuai kemampuan berpikir dan menalar segala sesuatu menurut cara mereka masing – masing. Aku sadar, didunia ini ada jutaan bahkan milyaran kacamata dengan bermacam – macam bingkai yang telah di ciptakan Tuhan, tidak lain adalah cara pandang setiap manusia. Tidak ada yang sama dengan pemikiran mereka bahkan untuk seorang kembar identik sekalipun. Mencoba memaksakan apa yang aku inginkan atau pikirkan kepada manusia – manusia diluar sana untuk dapat mengerti dan menjadi seperti yang aku inginkan adalah suatu kesalahan yang mungkin sering aku perbuat.
Aku sebagai seorang biseksual, sudah biasa mendengar atau merasakan sendiri cemoohan, ejekan, bahkan gunjingan yang datang dari manusia – manusia sekitar tanpa terkecuali sahabat - sahabatku sendiri. Memang beginilah keadaan diriku. Aku tidak ingin memaksakan agar orang lain bisa mengerti atau menerima kekurangan dalam diriku ini. Sepanjang aku tidak merugikan atau mengganggu hidup mereka masing – masing. Mungkin ada beberapa hal yang membuat aku kecewa dengan sikap mereka yang seakan – akan aku ini adalah seperti seorang penderita penyakit yang menular sehingga kadang – kadang memandang sebelah mata diriku. Seperti sampah yang harus dibuang dari lingkungan dan ibarat aib yang harus ditutupi agar tidak merusak citra diri atau nama baiknya karena berteman denganku. Aku terima semua ini cukup dengan tersenyum, karena aku sadar aku tidak pernah merugikan hidup mereka. Yang ada malah sebaliknya. Akhirnya, aku mulai berani mengungkap siapa sebenarnya diriku, pada awalnya hanya kepada seorang sahabatku yang aku rasa cukup bisa untuk dijadikan brankas untuk menampung rahasia terbesarku. Thanks Sis for everything. Dan akhirnya beberapa teman-teman yang aku pandang dia bisa melihat segala sesuatu dari dua sisi, aku buka rahasia ini. Aku juga berani bersosialisasi dengan orang – orang sejenis diluar sana untuk sekedar berbagi dan membina pertemanan. Yah, karena kemajuan teknologi, rasanya tidak sulit untuk menemukan mereka. Bukan hanya lewat jejaring sosial di dunia maya, orang – orang sejenis di kehidupan nyata sudah tidak lagi tertutup dengan orientasinya.
Tahun ini, selain kegembiraan bertemu dengan orang – orang baru, bersosialisasi ditempat tinggal yang baru dan lain sebagainya. Aku merasa, ada beberapa kekecewaan yang aku alami sepanjang tahun ini. Di pertengahan tahun ini pula aku kehilangan sosok seorang sahabat yang dengannya aku telah melewati beberapa tahun kebelakang dengan tawa, canda, maupun duka. Kenyataan ketika mendapati dia telah mengkhianati semua arti dari persahabatan kami adalah suatu hal yang membuat aku merasakan sakit hati yang mungkin sampai saat ini masih aku rasakan. Namun, perlahan-lahan aku tetap harus mengubur semuanya. The show must go on…. Karena setelahnya, akupun mendapati beberapa orang – orang baru yang sanggup membuat aku merasa lebih baik dan melupakan semua sakit hati dan kekecewaanku.
Akhirnya, aku menerima semua ini dengan tangan terbuka. Karena setiap hal yang baik atau masalah – masalah yang aku hadapi pada akhirnya akan menuntunku untuk menemukan sebuah jalan keluar yang terbaik dan membuatku mempunyai cadangan pundi – pundi untuk kedewasaanku.

ketika harapan itu masih ada...
Terlepas dari sikap, sifat atau karakterku dimasa lalu dan sampai hari ini, satu hal yang aku ingin adalah agar aku menjadi seorang manusia yang lebih baik. Karena masa lalu adalah sebuah pelajaran berharga buat hari ini, hari ini adalah perjuangan untuk mencapai hari esok, dan hari esok adalah perwujudan dari perjuangan kita di hari ini… May God bless us in everything I do…

* Sebagaimana yang aku tahu, aku hanya ingin bisa mengubah kebiasaan – kebiasaan buruk yang selama ini selalu aku ulangi.
* Menjadi seorang biseksual memang bukan pilihanku, tapi aku harus melupakan semua trauma di masa lalu agar aku sedikit demi sedikit dapat mengubah perilaku ini.
* Dalam hal materi, memang selalu ada yang ingin aku raih di hari esok. Dan akan terus berusaha untuk mewujudkannya. 

* Aku ingin lebih baik lagi dalam hal imanku kepada Tuhan, yang aku rasa dewasa ini aku semakin jauh dari Tuhan karena rutinitasku.
* Menempatkan Tuhan dalam posisi teratas dalam hidupku melebihi segala sesuatu, dan mencintainya melebihi apapun. Karena Dia adalah pemilik sebenarnya diriku, hidup dan waktuku.

* Aku ingin bertemu dengan lebih banyak orang – orang baru ( terlebih orang yang mempunyai perjalanan hidup seperti aku ), agar nantinya aku dapat sedikit berbagi dengan pengalamanku.
* Mencoba memahami setiap orang dengan melihat melalui kacamatanya dan bukan melalui kacamataku saja.
* Aku ingin menjaga semua pertemanan dan persahabatan yang telah aku peroleh diwaktu sebelumnya. Karena sahabat dan keluarga adalah dua hal penting dalam hidupku setelah Tuhan dan pasangan hidupku nantinya.
* Bersosialisasi lebih banyak lagi tanpa melihat latar belakang orang – orangnya. Asalkan mereka mempunyai hati untuk membangun sebuah hubungan dan pertemanan, aku akan melakukan hal yang sama.
* Melupakan semua kekecewaan dan sakit hatiku terhadap semua lawan – lawanku. 

* Hanya ingin menjadi seorang manusia yang berguna untuk sesama. Menjangkau orang – orang yang tidak terjangkau dan membagi kebahagiaan dengan manusia diluar sana lebih banyak lagi.
Akhirnya, di penghujung tahun ini, aku bertemu dengan seorang teman yang aku kenal melalui sebuah jejaring sosial di dunia maya. Dengannya, aku merasa lebih baik, membantu aku untuk sejenak melupakan semua yang tidak menyenangkan dalam hidupku dengan segala kekocakannya. Yah, selera humornya cukup tinggi. Semoga pertemanan ini akan tetap terjaga sampai kapanpun. Tidak ada hal yang lebih indah buatku saat ini, kalau aku dapat menjadi sahabat baru buat dia. Thanks my friend....

dalam keheningan malam,
SAHABATMU yang ingin berbagi...